SOONYOUNG'S SOCKS
karena bagi Jihoon, Soonyoung dan kaos kakinya sungguhan menggemaskan
Lee Jihoon and Kwon Soonyoung Fanfiction
Fluffy Romance | M Rated | Porn Without Plot
[ WARNING ]
Sederhana saja, isi cerita ini tentang porn tanpa plot, jadi mungkin kalau kalian tidak suka silakan tekan tombol silang dan tinggalkan page ini. Saya tidak menerima komentar tidak menyenangkan tentang genre, ratting, atau jenis cerita yang saya angkat.
You've been warned!
— Happy Reading! —
Soonyoung baru saja pulang dari tempatnya bekerja setelah harus menunggu hujan deras reda dan membiarkan awan mengirim air sedikit lebih sopan. Hebatnya, saat ia pulang. apartemennya masih gelap karena lampu yang mati, memang sih—kekasihnya belum pulang dari kantor dengan alasan harus lembur sebentar sampai pukul sepuluh untuk menyelesaikan lagu. Tapi nyatanya jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat beberapa menit saat Soonyoung menyalakan lampu dan mendongak, mendengus lirih karena orang yang ia inginkan untuk dipeluk belum berada hadapannya.
Dia pasti dalam perjalanan pulang, pikir Soonyoung. Jadi ia langsung masuk ke kamarnya untuk menanti sosok Jihoon setelah melakukan beberapa hal yang perlu dilakukan di belakang pintu masuk; melepas sepatu, menata, memasukkan kaos kaki ke keranjang kecil untuk dicuci nanti, dan terakhir mengganti alas kaki dengan sepatu selop kecil.
Tidak butuh waktu lama untuk mendengar suara pintu terbuka dan gemersak ribut khas Jihoon tiap melepas sepatu di belakang pintu masuk, juga senandung lirih dari arah luar. Soonyoung langsung tersenyum secerah matahari hingga hujan mungkin takut untuk turun mengusik bumi jika melihat senyumnya, ia beranjak riang keluar dari kamar dan berlari menuju sosok Jihoon.
“Jihoonie!” Soonyoung berseru riang, matanya berbinar seperti bintang di langit malam yang cerah, kaki kurus itu seperti per kecil yang melambung-lambung saat ditekan. Begitu tubuh Jihoon dekat dengannya, ia berlari menghampiri sang kekasih dan membuat pelukan erat saat sudah saling bertubrukan.
Jihoon limbung untuk beberapa detik, nyaris jatuh dan menimpa rak berisi sepatu jika saja kakinya tidak dengan sigap menahan tubuhnya. “Soonyoungie,” suaranya terdengar setengah geli dengan tangan menepuk pelan pantat bulat Soonyoung, membenarkan posisi tubuh yang berada dalam gendongan agar lebih mantap dan aman. “Ada apa, Sayangku?” Jihoon bertanya dengan suara serak, Soonyoung tahu kekasihnya kali ini terlalu banyak merekam demo lagu hingga pitanya nyaris berkarat. Atau mungkin terlalu kedinginan karena di luar udara memang sangat dingin.
“Kau seharusnya tahu seberapa rindu aku padamu,” Soonyoung terkekeh geli, tangannya mengacak asal rambut pirang pucat kekasihnya hingga pomade yang awalnya membuat rambut itu tetap kokoh sejak pagi tadi dengan kening terpamerkan—Soonyoung tahu itu sejak pagi karena ia yang mengaturnya—kini kehilangan bentuk kerennya. “Juga betapa dinginnya tubuhku! Kau pasti bisa merasakannya, 'kan?”
“Dingin?” Tangan Jihoon menelusup masuk mengelus perut Soonyoung, merasakan suhu lebih rendah beberapa derajat dari tangannya dan lalu mendesis tipis karena lagi-lagi menyadari bahwa Soonyoung berhujan-hujanan. “Sudah kukatakan untuk tetap hangat, 'kan? Kau tahu betapa repotnya jika terkena flu,” suaranya seperti seorang ibu yang menyadari anaknya nyaris meloncat dari salah satu anak tangga untuk sampai di anak tangga paling bawah. “Bukan berarti aku kerepotan, tapi kau selalu merasa sedih jika sudah begitu, ‘kan?”
Yang berada dalam gendongan menautkan bibirnya, menggerutu pelan lewat bibir yang maju dengan cara menggemaskan; sedikit merajuk. “Aku menunggu satu jam di tempatku bekerja dan nyaris mati kebosanan karena tidak menemukan tanda langit berhenti mencolek bumi lewat tangan air sialannya, jadi aku memutuskan membuka payung dan berlari pulang saat tangan itu tidak segencar sebelumnya mengusik bumi.”
Suara tawa Jihoon membuat bibir itu bertautan makin kuat, membuat posisinya lebih maju dan menarik diri Jihoon untuk mendaratkan beberapa kecupan di sana dengan imbuhan lumatan kecil. “Lain kali biar aku menjemputmu, Dear,” senyuman dengan dua lesung kecil yang manis muncul. “Aku akan menjemputmu dengan senang hati.”
Soonyoung menggeleng, tangannya mencubit pelan lengan kekasihnya. “Aku bisa pulang sendiri, lagi pula aku ada kau yang bisa memberiku pelukan hangat setelah sampai rumah. Omong-omong, kakiku dingin sekali.”
“Perlu kubawa ke kasur dan memasangkan kaos kaki ke kaki kurusmu itu?”
“Jihoon, kakiku rasanya seperti membeku!”
“Ya, maka dari itu kau butuh kaos kaki,” Jihoon terkekeh geli beberapa saat. “How?”
Soonyoung menggeleng kembali, kali ini memberi penolakan pada tawaran kaos kaki. “Aku hanya mau—”
“I got my own way to put socks, wanna try?”
Awalnya keningnya mengerut bingung, bertanya-tanya apa maksud perkataan kekasihnya dan mencoba memikirkan beberapa kemungkinan makna dari kalimat itu. Setelah tidak menemukan sedikit pun masalah dalam kalimat yang terlontar, ia mengangguk kecil. “Sure.”
Jihoon membawa tubuh Soonyoung ke kasur, mendudukkannya di sisi dan kemudian beranjak menuju tempat kaos kaki disimpan. Ia mengambil kaos kaki paling tebal yang ada dengan motif menggemaskan dan pasti terlihat amat cocok jika bertemu dengan kulit putih bersih Soonyoung.
Ia berjongkok tepat di depan Soonyoung, menarik pelan kedua kaki yang memang terasa dingin itu, lalu memberi beberapa pijatan ringan di sana. Tangannya bekerja dengan pintar memberi rasa nyaman, juga mengirimkan beberapa suhu lebih tinggi dari yang disentuhnya agar hangat.
“Tanganmu nyaman,” gumaman Soonyoung membuat yang tengah memijat tersenyum. Ia sendiri mengelus pelan helaian pucat kekasihnya itu.
Jihoon mendongak setelah memindahkan pijatannya ke kaki lain. “Aku melakukan ini memang agar kau merasa nyaman, 'kan?” Ia terkekeh kecil, lalu mengecup lembut lutut putih kekasihnya dan memasangkan pelan kaos kaki ke kaki Soonyoung. “Kau terlihat lucu sekali, menggemaskan.”
Bibir Soonyoung bertaut begitu saja, sementara kedua sudutnya mengkerut turun ke bawah. “Aku tidak menggemaskan!” Oh, dia lupa apa yang ia lakukan justru membuat dirinya makin lucu.
Dengan tatapan gemas Jihoon mencubit pipi Soonyoung. Ia lalu berdiri di hadapan Soonyoung, membuat yang terduduk harus mendongak. “Apa hanya kakimu yang dingin, hm?”
Soonyoung mengangguk dengan senyuman penuh terima kasih. “Sekarang sudah hangat karena kaos kaki yang kau pakaikan,” nada bicaranya terdengar sangat menggemaskan hingga Jihoon meringis kecil saking tidak tahannya.
“Bagus,” senyuman penuh arti dari Jihoon membuat Soonyoung mengerut, menatap bingung sosok kekasihnya. “Itu artinya...,” yang berdiri itu perlahan mencondongkan badannya dan mendorong pelan tubuh Soonyoung hingga berbaring; berbaring di bawahnya dengan tangan menahan tubuhnya sendiri agar tidak menimpa tubuh kekasihnya. “Aku boleh membuat yang lain dingin, 'kan?”
Soonyoung sadar akan tatapan itu, setengah gelagapan karena tatapan yang disorotkan padanya terlihat benar-benar menginginkan sesuatu. “Aku ragu itu akan dingin,” gumamnya pelan saat pergelangannya sudah ditahan di sisi kepalanya oleh tangan Jihoon. “Maksudku—kapan kita merasa dingin untuk ini?”
Jihoon terkekeh mendengar pernyataan kekasihnya, ia mendaratkan bertubi ciuman pada wajah Soonyoung, sesekali menjulurkan lidah untuk menjilat bibir tipis berwarna merah menggoda setelah bibirnya bersentuhan dengan hal itu. Saat melihat yang di bawah terkekeh kecil kala bibir bergesekan lembut pada kulit, Jihoon merasa perlu kembali jatuh dan menyerahkan seluruh dirinya pada Soonyoung. Dan ia akan melakukannya lagi sekarang.
“Apa boleh?”
Soonyoung tahu itu permintaan izin; tapi permintaan izin macam itu dari Jihoon tentu bukan permintaan izin sungguhan, itu hanya pertanyaan retoris yang berarti Jihoon akan melakukan hal menyenangkan pada diriya secepat-cepatnya atau selambat-lambatnya. Bergantung pada seberapa ingin si pemimpin mengontrol keadaan. Jadi Soonyoung mengangguk, memberi senyuman terbaik milikinya yang selalu disukai oleh sosok bermarga Lee itu, juga hal yang cukup untuk menjelaskan bagaimana dirinya juga menginginkan Jihoon.
Tidak mau membuang waktu lebih lama, ia segera melepas tangannya yang ia gunakan untuk menahan lengan Soonyoung dan bergerak aktif untuk hal lebih menyenangkan lagi. Tangannya bekerja dengan pintar di atas kain dan kancing, membuka mendorong keluar kancing dari lubang kecilnya yang menguncinya. Tubuh bagian atas Soonyoung terbebas dari pakaian, memamerkan kulit putih yang selalu menggoda Jihoon untuk meninggalkan memar dan beberapa bekas gigitan di sana.
Setelah melempar asal baju yang sudah dibuka, kini tangannya bergerak dengan cerdas dan nakal di atas kulit putih lembut itu, mengirimkan getaran luar biasa hingga otak yang disentuhi berkabut. Panas, tubuh yang awalnya berada dalam suhu rendah perlahan naik sedikit demi sedikit; siap mendidih kapan saja hingga ubun-ubunnya berbuih seperti air mendidih.
“O-ohh, Jihoon,” tangan Soonyoung bergerak lemas untuk meremas lengan Jihoon, mencari pelampiasan untuk rasa tergoda yang panas saat tangan dalam remasannya bermain cerdas di atas kulitnya yang sensitif.
Jihoon tersenyum melihat wajah kekasihnya yang mulai memerah dan matanya makin sayu, tatapannya kini terlihat begitu menggoda hingga dirinya berpikir perlu kembali melepas celana yang dikenakan kekasihnya dan melihat lebih banyak kulit—yang berarti seluruhnya jika memang celana itu dilepas.
“Kau suka?” Ia bertanya dengan suara berat, memberi tatapan dengan kilatan lapar yang menggoda sosok di bawahnya. Tangannya kini bekerja pada celana Soonyoung, melepas kancingnya dan resleting agar bisa lebih leluasa melihatnya. Wajahnya tenggelam diantara perpotongan bahu dan leher untuk membiarkan mulutnya bekerja memberi jejak basah, bekas gigitan, dan memar yang sangat kontras dengan kulit.
Tentu saja Soonyoung mendesah, menjelaskan betapa panas dirinya dengan perlakuan Jihoon. “Kau tidak adil,” suaranya parau setelah menyadari celananya sudah lepas begitu saja dan pakaian Jihoon tetap utuh di tempatnya tanpa rusak sedikitpun tataannya. Ia tahu Jihoon tengah menunjukkan betapa berkuasanya dirinya, memberi tahu bahwa Soonyoung tidak akan bisa menolak permainan pintar kekasihnya. Sebuah kekuasaan mutlak yang dijabarkan oleh Jihoon.
Jihoon menyeringai penuh kemenangan, matanya seolah menguliti Soonyoung hingga tubuh yang di bawah terbakar dan wajah merona makin banyak. “Kau tahu dunia ini memang tidak adil, 'kan?” Ujarnya sambil menjilat dada putih Soonyoung, bersiap meninggalkan memar lain di sana agar makin banyak pola berantakan di atas kulit bak kanvas baru; putih bersih.
Mereka berdua tahu bahwa permainan tidak akan ada yang menang karena Jihoon bukan pemenang, dia pembuat permainan. Soonyoung adalah satu korban dari permainan yang sialnya menyenangkan dan menakjubkan yang dibuat dengan baik oleh tangan pintar Jihoon. Menikmati tiap kerjanya dan berakhir melupakan tujuan berhasil dalam bertarung. Kwon Soonyoung siap tunduk pada pesona Lee Jihoon bahkan dalam dominasi mutlak yang dijabarkan.
Tidak butuh waktu lama untuk menemukan noda kotor kemerahan hingga keunguan dan beberapa saliva tertinggal membasahi warna kontras di atas kulit Soonyoung. Tentu saja Jihoon satu-satunya si pelaku kerusakan, melakukan dengan cerdas hingga mata sipit itu terlihat berkabut, wajah merah yang terlihat berantakan, juga rambut yang sudah seperti sarang burung.
“Mau membukakan celanaku?” Jihoon bertanya dengan suara rendah, membuat mata Soonyoung berbinar setelah mendengarnya. Penawaran; sesuatu yang sejujurnya amat jarang Jihoon berikan meski Soonyoung adalah kekasihnya.
Yang terbaring terlentang itu mengangguk dengan senang hati lalu menggerakkan tangan untuk menyentuh pinggang Jihoon, melepas gesper hitam yang melilit di pangkal celana lalu membukanya hingga bebas dari ikatan. Jihoon tertawa melihat tangan Soonyoung yang bergetar seolah kehilangan kekuatan untuk bekerja, beberapa kali jemari itu tegelincir dan membuat kancing yang hampir terlepas kembali terkunci. Menggemaskan sekaligus kasihan, hanya saja Jihoon menikmati wajah sang taruna kala membuat kerutan kesal serta bibir menggerutu seperti kakek tua yang tidak didengarkan perkataannya oleh sang cucu.
Saat seluruh kancing dan resleting terlepas, Soonyoung mengerang lega. “Turunkan sendiri dan biar aku menjilatnya,” suaranya berat penuh nafsu dengan mata terus menatapi bagian bawah Jihoon yang terlihat menonjol siap menyerang. Itu salah satu kesukaan Soonyoung, jadi setelah tangan Jihoon menurunkan celananya dan sosok itu duduk tenang di kasur, ia ikut duduk dan menunduk untuk meraih milik Jihoon, mengeluarkan pusat gairah milik sang kekasih dari dalam celana dalam dan menemukan hal itu menantang nafsu.
Soonyoung menjilat, membuatnya basah dengan beberapa saliva juga membuat titik itu makin keras. Karena kegiatan yang dilakukan Soonyoung itu Jihoon mengerang kelaparan dan akhirnya menyera untuk bertahan, ia menjambak pelan rambut kekasihnya dan mencium bibir merah itu dengan kasar penuh nafsu.
Sisi emosional Jihoon keluar, bibirnya mengigit kasar bibir tipis itu dan membuatnya terluka sedikit dengan robekan tipis. Tidak ada yang keberatan, Soonyoung bukan seorang anak baik yang meminta permainan lembut, kasar bukan sesuatu yang dihindari. Jadi ia dengan suka rela membuka mulutnya, juga membiarkan dirinya didorong hingga berbaring dan bagian bawah yang siap diserang oleh milik Jihoon.
Tidak mau berlama-lama, masih dengan posisi berciuman, Jihoon menekan miliknya sekali hentak hingga teriakan tertahan membuat lidahnya bergerak lebih leluasa di dalam mulut Soonyoung. Miliknya dijepit kuat oleh lubang Soonyoung, membuatnya merasa dipijat lembut dan tidak sabar untuk segera bergerak.
Ia tidak berminat meminta izin, jadi ia langsung bergerak dan menekan bertubi-tubi titik manis yang menjepitnya yang sudah ia hapal. Ciuman terlepas saat Soonyoung memukul dadanya, napasnya tersendat-sendat seperti ikan yang keluar dari air. Hanya saja Jihoon tidak berhenti, ia tetap bergerak dan membuat tubuh yang di bawahnya sesekali tersentak dengan tangan meremas sprei menyalurkan kenikmatan.
Jihoon tersenyum tiap melihat wajah Soonyoung yang makin berkeringat dengan rambut lepek suhu rendah di luar tidak membuat kelenjar keringat di balik epidermis mereka berhenti bekerja karena apa yang mereka lakukan memang luar biasa panas. Ia bergerak makin cepat tiap merasa ia makin dekat dengan kenikmatan, meninggalkan beberapa lelehan dirinya di dalam Soonyoung hingga membuat gerakannya jauh lebih cepat.
“I–I'm close—ahh,” mata Soonyoung mengerjap karena kabut makin menutupi pandangannya, mencoba memperjelas penglihatannya untuk menatap sosok Jihoon yang berkeringat dengan amat seksi. Napasnya makin tidak karuan dengan perasaan bahagia bercampur panas memenuhi kepala, meledak-ledak karena sentuhan lawan.
Jihoon mengangguk, menggumam lirih dan memberi tahu bahwa dirinya juga nyaris sampai. Tangannya bekerja untuk memancing lelehan Soonyoung keluar, mengurut milik si kekasih dan memijatnya agar lebih cepat keluar.
Soonyoung keluar lebih dulu, menyisakan banyak cairan kenikmatan pada telapak Jihoon hingga kasur. Sementara Jihoon menyusul setelah itu, memenuhi lubang Soonyoung dengan kenikmatannya dan membiarkan beberapa keluar karena tidak tertampung di dalam sana.
Jihoon tersenyum melihat bagaimana Soonyoung yang sudah memejamkan mata usai pergulatan bersama, juga napas yang pendek dan makin lama makin teratur. Ia langsung saja mengeluarkan miliknya, berbaring di sebelah Soonyoung dan menarik selimut untuk menyelimuti diri mereka berdua. Terlelap bersama-sama.
.
Jihoon terbangun lebih pagi, menemukan kaki kurus Soonyoung melingkar pada kakinya dengan selimut tersingkap yang hanya menutupi bagian perut hingga paha sosok dalam pelukan. Ia terkekeh, kekasihnya sungguhan menggemaskan seperti anak kecil karena kaos kaki yang terpasang rapi di kakinya sejak semalam sebelum ia menelanjangi tubuh itu dan menanggalkan semua pakaian yang ia kenakan.
Ia menimpa wajah Soonyoung dengan banyak kecupan sebelum akhirnya berhenti di bibir tipis kesukaannya. “Selamat pagi, Soonyoungie,” suaranya masih serak, khas orang bangun pagi. Tapi cukup untuk membuat sosok yang tadi ia kecupi membuka mata dan menatap dengan wajah menggemaskan.
“Ji…,” suaranya sama serak, bahkan lebih, mata sipitnya pun hanya terbuka tipis. “Apa semalam itu caramu memasangkan kaos kaki?”
Jihoonpun terkekeh begitu saja dengan pernyataan orang yang baru terbangun di hadapan. “Itu bonus,” jawabnya ringan. “Kau dan kaos kaki benar-benar menggemaskan.”
— finish.