BASIC INFORMATION
Won Sorang
(원소랑)
10 April
22 Tahun
Fabrics Shop Owner
Menikah
Area B
PERSONALITY
Apa yang dapat disyukuri menjadi anak seorang selir?
Rasanya tidak ada, bukankah begitu?
Tak mendapatkan perhatian yang seharusnya didapat, bahkan mendapat perlakuan yang berbeda dari saudara-saudari lain yang terlahir dari seorang istri yang sah. Pun itu jua yang buatnya merasa bahwa setiap hari merupakan medan perang. Jangankan berbuat kesalahan, tak membuat kesalahan pun amukan sering kali datang dan membuatnya━━Won Sorang━━harus selalu siaga, menaruh curiga pada tiap-tiap orang yang berjumpa dengannya.
Tidak menutup kemungkinan bahwa orang itu akan berbicara buruk kepada Tuan dan Nyonya Won━━begitu ia menyebut ayah dan istri sang ayah di hadapan orang lain━━sehingga akan mengurangi nilai kebaikannya, 'kan? (Walaupun sebenarnya Sorang yakin seribu persen bahwa dirinya tidak memiliki secuil nilai baik di mata istri sah ayahnya)
Meski begitu, yang Sorang butuhkan hanya kasih sayang. Bak kucing liar yang dambakan peraduan, ia akan terlihat tangguh, meski terkadang ia bisa menjadi cukup rapuh (dan rasanya ini manusiawi). Ia akan menjadi sangat ramah dan ringan tangan terhadap orang yang menurutnya memang membutuhkan bantuan. Memiliki tekad yang kuat dalam menjalani hari esok, karena hari esok adalah waktunya 'tuk mencari uang. Karena dua hal yang ia inginkan dalam dunia ini, menjadi kaya raya dengan status yang menjajikan agar ia tak lagi diremehkan atau kayak raya dan kabur dari kehidupan yang bak neraka sebab menjadi bagian dari wangsa Wonju Won.
BACKGROUND STORY
Rupa menawan, tutur kata halus nan santun.
Hanya saja …
Hanya saja …
Hanya dua hal itu yang dapat dibanggakan olehnya sebab apa-apa yang menjadi kelebihannya terkikis dengan fakta bahwa ia tak lebih dari seorang selir.
Begitu orang-orang menilai ibuku.
Rupa menawan, tutur kata halus nan sopan, gadis yang ceria dan menyenangkan.
Hanya saja …
Hanya saja …
Dia adalah anak dari seorang selir.
Begitu orang-orang menilai diriku.
Aku tidak tahu apa dan bagaimana harus bersikap dengan yang mereka bicarakan tentangku dan ibuku. Atau sebetulnya aku tidak perlu menanggapi apa-apa, karena itu bukan kewajibanku. Bukankah aku benar?
Aku juga tidak tahu bagaimana harus memulai, karena ketika aku mulai dihadapkan dalam kenyataan, hal yang aku tahu adalah ibuku seorang selir dan ayahku adalah seorang yangban.
Orang-orang (dalam hal ini adalah pelayan-pelayan ayahku yang sepertinya membenci ibuku) bilang bahwa, ayah sangat mencintai istri sahnya, yakni ibu tiriku. Sehingga aku harus bersyukur bahwa ayah mengakui keberadaanku dan mendapat perlakuan yang selama ini aku terima (tidak bisa aku katakan perlakuan itu menyenangkan seluruhnya).
Namun, yang menjadi pertanyaan terbesarku adalah jika memang ayah mencintai istri sahnya, lalu kenapa ayah menjadikan ibuku seorang selir dan memiliki aku?
Aku tidak pernah minta dilahirkan (jika aku boleh berkata begitu), karena semenjak aku lahir, selama itu pula aku hanya mampu menyaksikan bagaimana ibu mendamba kehadiran ayah yang sering kali tak sampai sebab istri sahnya selalu memiliki cara agar ayah tidak habiskan banyak waktu bersama kami. Selama itu pula di saat saudara-saudariku mendapatkan apa yang mereka inginkan, aku hanya mendapatkan apa yang mereka sebut sebagai kebaikan dari nyonya besar.
Bukan aku tidak bersyukur, aku cukup bersyukur karena setidaknya aku bisa tidur dengan nyaman, makan cukup kenyang, dan tidak harus berusaha keras untuk dapatkan segenggam beras. Tapi, bukankah aku juga anak ayah?
Ayah– rasanya sedikit lucu karena pada kenyataannya aku tak pernah menyebut pria yang selalu membuat mata ibu bersinar itu sebagai ayah. Kata itu serupa kata terlarang yang jangan sampai ibu tiriku– oh, maaf, maksudnya istri sah dari ayahku mendengar itu. Bisa-bisa aku mendapat dua puluh pukulan serat bambu pada kedua kakiku.
Apakah ayah dan ibuku tahu?
Tentu saja tidak, aku bisa mati jika aku mengadu.
Hidupku serasa berada di medan perang. Tidak pernah tenang. Aku ingin berlari, aku ingin kabur.
Namun, sebelum aku memantapkan hati untuk mengajak ibu pergi, mimpiku untuk lari seketika pupus tanpa pernah sempat aku jajal. Hal itu sudah sangat jelas sebab istri sah ayahku yang tiba-tiba berkata bahwa sebaiknya aku segera menikah.
Aku tidak tahu apa yang lebih buruk dari ini.
Tidak pernah terpikikan olehku untuk menikah dengan seseorang yang bahkan tidak pernah aku jumpai. Seluruh hak atas hidupku seolah telah direnggut semenjak aku dilahirkan. Aku tak pernah mempunyai pilihan.
Mereka bilang,
“Masih beruntung ada seseorang yang mau menikahi anak selir sepertimu.”
“Seharusnya kau berterima kasih karena kau bagian dari Wonju Won, dengan begitu pria mana pun pasti mau menikahimu walaupun kau anak seorang selir.”
Persetan dengan wangsa Wonju Won.
Persetan dengan keluarga ini yang kabarnya merupakan asal selir dan ratu-ratu terdahulu.
Aku tidak peduli, aku hanya ingin lari.
Namun, meski keinginanku sebesar Gyeryongsan, aku tidak dapat menolak. Belum lagi dengan fakta bahwa pernikahanku harus tetap dilangsungkan karena sebuah perjanjian membuatku kian terbelenggu. Kenapa harus aku? Kenapa tidak saudariku yang lain? Kenapa—
“Karena ini adalah kesempatan bagimu untuk memulai hidup yang baru. Memulai sebuah keluarga yang nyata. Bukan keluarga yang hanya ada dalam bayang-bayang seperti ibu. Menikahlah Sorang, bahagialah dengan suamimu kelak.”
Ibu— jika ibu berkata begitu, aku kian kehilangan alasan untuk menentang (meskipun aku tidak akan pernah bisa melakukannya). Namun, benar kata ibu. Setidaknya, dengan menikah, aku dapat menjadi seorang istri yang sah.
Dan aku berharap, dengan aku menikah, ibu tak lagi harus bersusah.
TRIVIA
- Cukup mudah dekat dengan anak-anak.
- Sangat menyukai gula.
- Diam-diam gemar menggambar.
- Memiliki tiga saudara tiri dari istri sah ayahnya, seorang kakak laki-laki, seorang kakak perempuan dan adik perempuan.
- Hubungan dengan ketiga saudara tirinya tidak bisa dikatakan baik, tapi tidak buruk juga. Terutama dengan adik tirinya. Mereka terkadang diam-diam menghabiskan waktu bersama.
- Sesekali memperhatikan suaminya saat berlatih memanah secara diam-diam, karena hanya pada saat itu saja ia menaruh kagum pada suaminya yang merupakan seorang tentara kerajaan.