JustPaste.it

류희성 — RYU HWISEONG.

 

Nama: Ryu Hwiseong (류희성)
Tempat, tanggal lahir: Hanyang, 3 Agustus
Usia: 25 Tahun
Jenis Kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: Tentara (Pemanah)
Afiliasi: Royal Army (Tentara Pusat)
Kewarganegaraan: Korea

 

Menjadi sosok yang logis dan lugas terkadang membuat dirinya tampak ignoran dan menghakimi di mata orang lain. Ia bisa membaca emosi orang lain dengan mudah, tetapi memilih untuk tak berbuat banyak soal itu, karena ia memiliki batas-batas yang ia tentukan sendiri ketika berhubungan dengan orang lain. Memang benar, Hwiseong tak memedulikan pandangan orang tentang dirinya dan lebih keras kepala dibanding apa yang terlihat. Hwiseong sangat jelas menyatakan nilai-nilai yang ia anut dan sulit digoyahkan oleh pilihan lain. Meski demikian, sebab kegamblangannya, tetap banyak orang yang datang padanya untuk meminta saran. Ia banyak memberikan solusi juga melakukan pemecahan masalah orang lain, tetapi ia tidak pernah sekali pun membicarakan tentang dirinya dan menyimpan rahasia tentangnya untuk diri sendiri.

 

Hwiseong memiliki cukup energi untuk bersosialisasi. Ramah, bebas, tetapi tak pernah bergerak ke suatu hubungan yang lebih dekat daripada seorang rekan. Ia membiarkan orang lain datang dan pergi tanpa ingin mengikatnya menjadi seorang kawan. Bisa menjadi sangat egois terhadap sesuatu yang ia yakini kebenarannya, tetapi tak pernah malu meminta maaf bila nyatanya ia bersalah. Tak banyak omong, sehingga senyuman tipis kerap mewakili dirinya.

 

— — — — — — —

Tinggi badan: 182 cm
Makanan favorit: Mandu
Status Perkawinan: Menikah
Kediaman: Area B, Hanyang

  • Memiliki hobi menyusun batu
  • Pernah hampir menjadi asisten tabib di kerajaan
  • Gemar memasak
  • Tidak begitu pandai menangani anak-anak

— — — — — — —

Dari manakah aku berasal?

 

Ayahku tak pernah memberi jawaban pasti perihal hal tersebut. Ibuku jua selalu mengalihkan pembicaraan ketika aku meluapkan rasa keinginantahuanku terhadap hal tersebut. Teman-temanku banyak yang membanggakan nama belakangnya yang diprakarsai klan tertentu. Lalu, dari manakah aku berasal?

 

Hal-hal yang kutahu pasti adalah namaku 빛날 희, 별 성 (Terang `Hwi` dan Bintang `Seong`). Ryu Hwiseong. Sulung dari dua bersaudara, telah lulus ujian menjadi angkatan bersenjata lalu mendapat posisi tentara bagian pemanah di pemerintahan pusat, dan seorang suami yang terikat pernikahan hampir dua tahun. Hal-hal yang kutahu pasti adalah semua itu tidak berjalan sesuai kehendakku.

 

Aku tak pernah ingin memiliki seorang adik yang usianya hanya berbeda setahun dariku. Tadinya, seluruh perhatian ada padaku, seketika lenyap diambil alih olehnya. Aku belum kenyang validasi. Aku belum puas akan kasih sayang orang tuaku, tetapi aku sudah harus membaginya.

 

Aku tak pernah ingin menjadi seorang tentara. Tadinya, aku telah mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian di bidang kesehatan untuk menjadi unit kesehatan di kerajaan. Aku tidak melanjutkannya karena tak ingin memperkeruh suasana, sehingga aku merelakannya.

 

Aku tak pernah ingin menjadi suami dari seseorang. Tadinya, aku telah memutuskan untuk menyatakan bahwa aku tak pernah ingin menanggung seseorang dalam hidupku. Aku membuang pikiran itu dan terpaksa menyandang status demi melanjutkan trah.

 

Semua yang kulakukan adalah demi keluarga. Keluarga yang tak pernah kutahu bagaimana ia terbentuk, dari mana ia berasal.

 

Hari-hariku sebagai seorang tentara berjalan hampir sempurna setiap harinya. Lamun, seorang lelaki tiba-tiba menghampiriku dan tiba-tiba saja menghadiahiku ribuan serapah yang berkutat pada pengkhianat, darah kotor, dan sebaiknya aku segera mati saja. Aku tak mengerti apa maksudnya. Ia, dengan berapi-api, menjelaskan tak pantas aku menyandang margaku kini karena kakek moyangku adalah pencoreng nama klan dan dengan tidak tahu malunya, aku menjabat menjadi seorang tentara kerajaan.

 

Pungsan Ryu. Kini aku tahu dari mana trahku berasal. Sebuah klan bangsawan yang memiliki pengaruh kuat dan salah satu yang paling terkenal. Namun, kakek moyangku, meninggalkan itu semua demi ilmu yang ingin ia pelajari tanpa paksaan. Meninggalkan keluarganya demi apa yang ia yakini benar. Meninggalkan statusnya dan memulai lagi dari awal. Meningkatkan derajat dan martabatnya sendiri hingga sampai pada keluargaku yang hidup nyaman dengan status yang tak terlalu tinggi pun rendah. Tepat berada di tengah.

 

Aku termangu. Memangnya, sejarah bisa diulang dua kali? Mengapa hal yang sama terulang lagi padaku?

Apakah aku harus mengikuti jejak kakek moyangku juga? Apakah? Aku? Harus?

 

Meninggalkan semuanya dan memulai dengan diriku sendiri?