️️
LIVE: READ HERE.
️️
_________________________________________
️️
Setelah menandatangani kontrak dengan CAPTURE beberapa hari silam, akhir pekan ini juga akan menjadi hari kerja bagi Yada untuk melaksanakan jadwal pemotretan proyek perdananya bersama CAPTURE.
Pemotretan ini direncanakan di tempat yang serupa dengan audisi, sehingga diharapkan tak akan ada lagi demam panggung akibat rasa gugup.
Berulang kali pula bibirnya komat-kamit mengucap doa agar pemotretan kali ini akan berjalan dengan lancar.
Tak terkecuali seluruh jajaran tim telah siap mengeksekusi tugas mereka masing-masing sembari menunggu selesainya polesan riasan terakhir yang akan mendukung penampilan Yada ketika dipotret nanti.
Detik-detik sebelum dipanggil, seorang kru menghampirinya dengan membawa satu ikat bunga mawar berwarna jingga. Yada tak yakin bahwa bunga itu benar ditujukan untuknya sebab ia belum memberikan kode mengenai pemotretan ini di media sosialnya.
“Dari siapa, Mbak?” tanya si tuan sembari menerima buket bunga tersebut.
“Kata kurirnya, dari toko bunga.”
“Oh, gitu… Oke deh. Makasih banyak, ya!” Walaupun masih digerogoti rasa penasaran, namun ia senang bukan kepalang.
Selembar kertas kecil yang terselip di antara bunga-bunga itu lantas ia baca. Dua sudut bibirnya seketika naik saat nama akun penggemar yang tidak asing ia dapati di sana. Sejak detik ini juga, gairahnya kian membuncah tak karuan.
Akibat terlalu berlarut dalam pesan dan hadiah yang diterima, ia baru tersadar bahwa riasannya telah selesai. Genap sudah penampilan Yada sebelum beraksi di hadapan kamera.
Rangkaian bunga cantik itu pun diistirahatkan terlebih dahulu di ruang tata rias, kemudian ia segera menuju ruang pemotretan sebab enggan membuang waktu.
Konsep yang akan dipresentasikan kali ini adalah nuansa retro yang unik dan dirindukan. Bagaimana tidak, meskipun era telah berubah sekian kali, mode dengan nuansa retro masih dijadikan acuan dalam berpakaian dari masa ke masa.
Salah satunya adalah pakaian yang kini tengah membalut tubuh jenjang milik Yada Wangkawa. Berdiri di tengah latar belakang berwarna hijau daun, tuan berdarah Tionghoa ini menjadi sorotan tim pemotretan, khususnya fotografer yang sedang bertugas.
“Oke, mari kita mulai pemotretannya,” ucap salah satu kru di belakang layar.
“Oke!” Pada saat itu juga, Yada langsung memosisikan bahu kanannya lebih rendah dari bahu lainnya. Pandangan lurus ke arah kamera sembari meluweskan ekspresi wajah.
Setelan atas yang ia kenakan dalam pemotretannya kali ini adalah sweter berwarna oranye terang dengan corak unik di area leher dan ujung lengan yang memiliki hiasan kain berwarna biru yang menyerupai bentuk tali.
Lantas hiasan kain tersebut ia jadikan pendukung dalam pose pertamanya. Jemari lengan kiri menarik ‘tali’ itu hingga tampak lurus, sedangkan lengan lainnya dibiarkan tertahan di area pinggulnya.

Bunyi rana kamera lantas terdengar sebanyak beberapa kali, sehingga membuat Yada lebih memperhatikan sudut posenya agar tampak maksimal di hasil pengambilan gambar nanti.
Usai dirasa puas dengan potretan pertama, ia mulai mengeksplor pose lain dengan masih menggunakan kain hiasan sweternya tadi sebagai pendukung. Kali ini, ia berencana untuk memberikan gestur yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Tubuhnya kini tidak lagi menghadap kamera, melainkan ke arah samping kanan agar sudutnya lebih bervariasi. Penghujung ‘tali’ yang melekat pada ujung lengan sweter lantas diposisikan pada bibirnya yang mengatup.
Kepala sedikit ditundukkan demi menyesuaikan panjang tali yang tengah tertahan, kemudian jemari lengan kiri ia masukkan ke dalam saku celana kain berwarna biru agar terlihat rapi.
Alhasil, lagi-lagi bunyi rana kamera memenuhi ruang pemotretan.

Siapa yang menyangka bahwa paduan nuansa nyentrik milik si warna oranye dan nuansa syahdu milik si warna biru dapat menciptakan satu kesatuan setelan pakaian yang seimbang? Hal ini juga menjadi faktor kepuasan tersendiri dalam pemotretan ini.
Rasanya kurang afdal jika pemotretan hanya berkutat di lingkaran yang sama. Lantas salah satu kru memberi Yada sebuah buku bernuansa serupa sebagai bahan pendukung pose di pengambilan gambar selanjutnya.
“Oke, thank you.”
Yada langsung paham maksud perbuatan kru tersebut. Seketika kamera diajak lebih mendekat hingga hanya menangkap setengah bagian tubuhnya, kemudian buku yang baru saja diterima ia buka dan ia posisikan di atas kepala.

“Nice!” seru juru kamera sebagai tanda bahwa ia telah puas dengan hasil gambar yang ditangkap. Bunyi rana kamera pun kini berhenti dan wajah sang fotografer sudah terlihat jelas tanpa ditutupi oleh kamera. “Well done,” ucapnya lagi.
Sejenak Yada tercengang sebab ia masih tak percaya bahwa pemotretan ini berjalan begitu mulus dan waktu yang dilewati tak terasa begitu lama. Tubuhnya refleks menunduk sebanyak beberapa kali kepada seluruh tim yang sedang berada di ruangan ini.
“Thank you!” balas si sulung, disusul acungan ibu jari milik kru-kru yang bertugas. Yada hanya mampu membalas itu semua dengan senyum semringah sebab ia pun turut rasakan hal yang sama.
Akhirnya, sesi pemotretan Yada untuk RECAPTURE selesai.
Selesai.