Cerita lama yang tak mudah dihapus dalam satu malam. Bahkan semesta dan seisinya tak memberi ruang untuk melupakan kejadian ini barang sejenak. Malam itu, tidak sama seperti malam-malam sebelumnya. Malam itu terasa terlalu sunyi, seperti rumah menahan napasnya sendiri dan tidak diberi ruang untuk bergeser satu inci. Tidak ada suara selain detak jam yang lambat di ruang tamu dan desir angin yang menyusup lewat celah jendela ditengah-tengah malam yang semakin pekat. Aku hanya ingat sedang berbaring di tempat tidur dengan perasaan aneh di dada, seolah ada sesuatu yang menunggu, sesuatu yang sudah terlalu lama mengamatiku dari tempat yang tak bisa kulihat. Kedua matanya mengamati dengan seksama, memperhatikan segala gerak-gerik seperti pemangsa menatap santapan makan malamnya.
Aku hanya berbaring terlentanf, menutup mata sekenanya untuk menghalau segala curiga yang ada disekitar. Ketika kesadaranku mulai terlepas dari tubuh, aku tidak terlalu panik. Astral projection bukan hal baru bagiku, meski kadang diluar kendali. Ayah pernah mengajarkannya seperti orang mengajari anak berenang; perlahan, sabar, seolah dunia di balik tubuh hanyalah kolam lain yang bisa dijelajahi dengan suka-cita, dengan sukarela agar bisa bergerak kemana pun hati inginkan.
Tapi malam itu, bukan lagi gambaran kolam. Malam itu lebih terasa seperti sedang berjelajah diantara jurang.
Begitu aku “bangun” di luar tubuhku, udara di sekitarku terasa pekat seperti kabut basah. Lalu aku melihatnya, mengamini semua prasangkaku sebelum terlelap. Sosok itu berdiri tidak jauh dariku. Tinggi sekali, sangat tinggi, kepalanya saja hampir menyentuh langit-langit ruang yang tak benar-benar ada. Tubuhnya seperti bayangan yang dipadatkan, besar dan berat, dengan bentuk yang terlalu kabur untuk disebut manusia tapi terlalu hidup untuk disebut sekadar bayangan. Ketika ia bergerak, rasanya seperti seluruh ruang ikut bergeser, seolah semua tunduk pada ia yang punya kuasa. Aku ketakutan, tapi aku u tidak sempat lari. Tangannya—atau sesuatu yang menyerupai tangan—menjangkauku dengan mudah. Sentuhannya dingin seperti batu yang lama terkubur di tanah basah. Cengkraman itu sangat kuat seperti logam mulia yang sulit sekali dipecahkan. Dalam satu tarikan, dunia di sekitarku berubah. Aku dibawa dengan penuh paksa melewati sesuatu yang terasa seperti lorong panjang tanpa ujung. Gelapnya bukan sekadar tidak ada cahaya, gelapnya terasa hidup, menempel di kulit seperti lendir yang tak terlihat, semua yang ada disekitar seolah menekan setiap langkah.
Kemudian kami berhenti. Ia membawaku ke sebuah ruangan. Dindingnya melengkung seperti bagian dalam tulang rusuk raksasa. Udara di sana berat, berbau lembap seperti tanah kuburan yang baru dibuka, dan yang paling mengerikan tempat itu terasa… lapar. Bahkan basah yang tidak benar-benar aku jabarkan seolah haus akan dahaga.
Di sanalah aku mulai mengerti. Aku bukan korban kebetulan. Aku adalah janji yang baru aku ketahui tatkala bisikan-bisikan itu merayap diseluruh tubuh. Janji yang harus segera ditepati, sebagai alat tukar dan buah sabar dari kata menunggu.
Ayahku membuat perjanjian dengan sesuatu yang hidup di kegelapan seperti ini, sesuatu yang lebih tua dari doa, lebih dingin dari kematian. Sebagai gantinya, ia diberi kekuatan, pengetahuan, dan kendali atas hal-hal yang tidak dimiliki manusia biasa. Dan harga yang ia tawarkan… adalah aku. Yang katanya, tidak selayaknya untuk hidup, dan menghirup surga dunia.
Sosok tinggi itu menahanku di sana seperti seseorang menyimpan hewan sebelum disembelih. Aku bisa merasakan perhatiannya menekan kesadaranku, perlahan, seperti rahang yang mulai menutup, dan siap mengoyak setiap bagian daging dengan taring. Yang aku ketahui, waktu di tempat itu tidak bergerak. Kelimpungan rasanya sebab aku berharap pagi datang, agar ia hilang. Tapi itu semua hanya angan yang tidak mungkin kejadian. Aku memanggil Arjuna, tapi suaraku tenggelam seperti batu jatuh ke sumur tanpa dasar. Mustahil untuk didengar.
Lalu, dari jauh, sangat jauh, aku mendengar sesuatu. Namaku dipanggil secara berulang seperti doa yang menyegarkan.
“Antasena.” Ia memanggil dengan lembut, seolah siap menyelamatkanku. Namun, semakin mendekat, suara itu retak oleh panik, tapi aku mengenalnya. Itu suara Arjuna, ia memanggilku lagi, lebih keras. Suaranya seperti cahaya yang mencoba menembus tanah yang terlalu tebal. Setiap kali ia memanggil, ruangan itu bergetar pelan, seperti sesuatu yang terganggu oleh kehadirannya.
Sosok tinggi itu bergerak. Kemarahan yang dingin merambat di udara, membuat dinding ruangan seperti berdenyut. Aku bisa merasakan niatnya berubah—bukan lagi menunggu. Ia ingin mengambilku sekarang, sebelum ada yang menyelamatkan santapan malamnya.
Tapi Arjuna tidak berhenti memanggilku. Namaku diulang lagi dan lagi, seperti tali yang dilemparkan ke seseorang yang hampir tenggelam. Aku meraihnya dengan sisa kesadaran yang kupunya. Dan sesuatu pecah dengan sendirinya. Perjanjian itu retak.
Jika jiwa yang dijanjikan tidak bisa diambil, maka sesuatu harus menggantikannya.
Aku tidak melihat dengan jelas apa yang terjadi setelah itu. Hanya ada suara—seperti sesuatu diseret jauh ke dalam kegelapan, disertai gema yang terlalu berat untuk dijelaskan.
Lalu aku jatuh kembali ke tubuhku.
Aku terbangun dengan napas tersedak, tubuhku dingin seperti baru ditarik keluar dari air es. Kamar terasa terlalu terang, terlalu nyata. Arjuna ada di sampingku, menggenggam tanganku erat. Wajahnya pucat, matanya merah seolah ia baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat manusia.
Ayah melakukan negosiasi kembali setelah malam itu. Tapi ternyata beberapa tahun kemudian, Ayah yang menjadi gantinya. Namun, ketika malam terlalu sunyi, aku masih bisa merasakan sesuatu dari tempat itu, sesuatu yang pernah hampir menjadikanku miliknya, dan masih menginginkanku dengan begitu besarnya.