JustPaste.it

Secuil tentang Jefferson.

Kenalan dulu?

 

  • Nama: Andreas Jefferson

  • Tanggal Lahir: 12 Desember 1997

  • Zodiak: Sagittarius

  • Kepribadian: INFJ (The Advocate)

  • Pekerjaan: Penulis novel & skenario drama televisi

  • Tinggal di: Jakarta Selatan, apartemen studio yang rapi dan tenang

  • Status: Rumit, pernah patah hati tapi jarang membicarakannya

 

CIRI-CIRI KHAS

  • Penampilannya sederhana—kaus netral, jaket kain, headphone selalu melingkar di leher.

  • Lebih sering mendengarkan daripada berbicara, tapi kalau bicara, kalimatnya selalu dalam dan membuat orang berhenti berpikir.

  • Punya catatan kecil berisi kutipan, percakapan, dan ide cerita yang ia bawa ke mana-mana.

  • Wajahnya selalu tenang, tapi matanya sering tampak seperti sedang "membaca" dunia di sekitarnya.

 

***

 

 

Andreas Jefferson tidak suka keramaian, tapi ia juga tidak betah dalam kesepian. Ia hidup di antara dua sunyi—yang satu datang dari dunia luar, yang satu lagi tumbuh di dalam dirinya sendiri.

Ia lahir pada malam Desember yang gerimis, 1997, ketika listrik padam dan ibunya melahirkan hanya ditemani lampu emergency dan doa-doa. Sejak kecil, Jefferson tahu dunia tidak selalu terang, tapi itu bukan alasan untuk berhenti berharap.

 

Sebagai anak tunggal dari keluarga akademisi, ia dibesarkan dengan buku, debat ringan saat sarapan, dan larangan menonton TV tanpa alasan yang jelas. Ia tumbuh tanpa banyak teriakan, tapi penuh pertanyaan—dan ketika tak menemukan jawabannya di dunia nyata, ia mencarinya dalam kata-kata. Menulis menjadi cara Jefferson bernafas. Halaman kosong adalah sahabat yang tak pernah menghakimi.

 

Di usia dua puluh delapan, Jefferson tinggal sendiri di apartemen kecil dengan jendela besar menghadap langit Jakarta yang sering muram. Ia bekerja sebagai penulis lepas, menghabiskan hari-harinya menulis cerita cinta yang pelik dan melankolis, lalu menonton serial romantis yang ia tahu jalan ceritanya mudah ditebak tapi tetap ia tonton sampai akhir.

 

Jeff, begitu sapaan akrabnya, bukan pecandu cinta. Ia pecandu rasa. Rasa rindu, rasa kehilangan, rasa yang tidak pernah bisa dijelaskan hanya dengan logika. Jeff menulis bukan untuk terkenal—tapi karena ia tahu, jika tidak menulis, pikirannya akan terlalu bising untuk ditenangkan.

 

Di pagi hari, ia ke gym. Bukan hanya karena ingin punya tubuh ideal, tapi karena tubuhnya adalah satu-satunya hal yang ia punya penuh kendali. Meskipun kadang, raganya kalah dengan malas yang menghampiri, Jeff tahu sedikit banyak ia butuh merawat diri. Karena kalau bukan diri sendiri, lalu siapa lagi? 

 

Ia pernah jatuh cinta. Sekali. Diam-diam. Dalam-dalam. Dan ketika semuanya tak kunjung menemukan jawaban, ia tidak marah. Ia hanya menulis tentangnya—dengan nama samaran, tentu saja. Kadang ia berpikir, mungkin sosok itu tidak pernah tahu bahwa dia pernah menjadi tokoh utama dalam dua novelnya.

 

Sebagai seorang INFJ, Jeff punya radar emosi yang tajam, tapi sering kali sulit mengungkapkan isi hatinya sendiri. Ia peka, tapi tertutup. Ia ingin dimengerti, tapi tak pernah benar-benar membuka diri. Dan sebagai Sagittarius, jiwanya merindukan kebebasan, tapi juga rumah. Ia ingin pergi sejauh mungkin, tapi selalu membawa kenangan yang sama dalam koper batinnya.

 

Jeff percaya bahwa semua orang punya satu cerita yang mereka tulis untuk dunia, dan satu lagi yang mereka simpan untuk diri sendiri. Hingga hari ini, ia masih menulis cerita-cerita itu—berharap suatu saat, seseorang akan datang, membaca lembaran-lembaran yang tersembunyi, dan berkata: "Aku tahu kamu. Aku tahu kamu bukan hanya dari apa yang kamu tulis, tapi juga dari apa yang kamu pendam."

 

Dan mungkin, saat itu tiba, Jeff akan berhenti menulis tentang cinta yang fiktif—dan mulai menulis tentang cinta yang akhirnya nyata.

 

 

***

 

Sisi lain Jefferson: Muse.

Penjelasan writer: writer-talk.

X: follow him.

Ask Jefferson: click here.