Haruto Fujimoto adalah seorang petugas keamanan yang bekerja di sebuah rumah sakit di Tokyo.
Ia mulai bekerja di rumah sakit tersebut sejak April 2024. Sebelumnya, pada Januari 2024, Haruto ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri oleh seorang wanita lanjut usia bernama Fujimoto Rena, yang tinggal seorang diri di sebuah rumah kecil di pinggiran Tokyo.
Saat ditemukan, Haruto tidak membawa identitas apa pun. Ia bahkan tidak mengingat nama, asal-usul, ataupun siapa dirinya. Melihat pemuda itu sendirian tanpa tujuan, Rena memutuskan untuk membawanya pulang dan merawatnya seperti anaknya sendiri.
Karena tidak mengetahui nama aslinya, Rena memberinya sebuah nama, Fujimoto Haruto.
Pada awalnya, Rena mengira Haruto adalah tunawicara. Selama beberapa hari, Haruto tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun. Namun seiring berjalannya waktu, kemampuan Haruto berkembang dengan sangat cepat. Dalam waktu kurang dari dua bulan, ia mampu berbicara bahasa Jepang dengan sangat fasih, memahami budaya setempat, serta beradaptasi dengan kehidupan modern seolah ia telah hidup di Jepang sejak lama.
Di balik sifatnya yang mudah bergaul dan selera humornya yang aneh, Haruto memiliki kecerdasan yang luar biasa. Ia juga dikenal tenang dalam menghadapi situasi genting, memiliki fisik yang kuat, serta refleks yang sulit dijelaskan. Berkat kemampuan itulah, ia diterima bekerja sebagai petugas keamanan di salah satu rumah sakit terbesar di Tokyo.
Meski tidak terikat hubungan darah, Rena menganggap Haruto sebagai putranya sendiri. Sebaliknya, bagi Haruto, Rena adalah sosok ibu yang telah memberinya kesempatan untuk memulai kehidupan baru saat ia bahkan tidak mengenal dirinya sendiri.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung selamanya.
Pada Desember 2025, Rena meninggal dunia karena usia lanjut.
Sejak kepergian wanita yang telah menyelamatkan hidupnya itu, kehidupan Haruto mulai berubah.
Setiap malam ia dihantui mimpi-mimpi yang sama.
Sebuah kastel batu yang megah, bendera-bendera Kerajaan Inggris yang berkibar tertiup angin, dentingan pedang yang saling beradu, dan suara derap kaki kuda.
Hingga seorang raja muda yang wajahnya terasa begitu familiar lalu seorang wanita yang berdiri di atas panggung eksekusi.
Semua mimpi itu dipenuhi oleh satu perasaan yang sama… yaitu: Janji, kesetiaan, kehormatan, pengorbanan, serta pengkhianatan.
Semakin hari, mimpi-mimpi itu terasa semakin nyata. Haruto bahkan mulai mengucapkan kata-kata asing yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya. Kata-kata itu bukanlah bahasa Inggris modern, melainkan bahasa Inggris kuno yang tak pernah ia dengar seumur hidupnya.
Hingga pada suatu pagi yang dingin di bulan Februari 2026, seluruh kepingan ingatan yang hilang akhirnya kembali.
Ia mengingat namanya dan siapa dirinya.
Haruto menatap bayangannya di cermin dalam diam.
Untuk pertama kalinya setelah dua tahun hidup dengan identitas itu, nama Fujimoto Haruto terasa begitu asing di telinganya.
Dengan napas yang bergetar, ia berbisik pelan menggunakan bahasa yang telah tertidur selama hampir lima abad.
“No… I am no Fujimoto Haruto.”
Ia menegakkan tubuhnya perlahan, seolah kembali mengenakan zirah yang telah lama direnggut darinya.
Tatapannya berubah, ia menatap dirinya dengan tatapan begitu tegas dan penuh dengan kepercayaan diri… tatapan seorang ksatria yang pernah bersumpah setia kepada rajanya.
Bukan lagi tatapan seorang petugas keamanan rumah sakit yang bergelut dengan maling atau pencuri celana dalam pasien dan perawat.
“I am Sir Humphrey Ashford, sworn Knight of His Majesty King Edward the Sixth, and faithful servant unto the Realm of England, who hath long since perished.”