Sir Humphrey Ashford adalah seorang ksatria asal keluarga gentry terpandang, keluarga Ashford, pemilik Ashford Manor di Kent. Ia lahir pada 13 Mei 1521, dibesarkan di tengah didikan yang keras namun penuh kehormatan. Sejak kecil, Humphrey diajarkan ilmu strategi perang, berkuda, etiket bangsawan, hingga seni menggunakan pedang.
Kepintaran dalam menyusun strategi, dipadukan dengan kemampuan bertarung yang luar biasa, membuat namanya cepat dikenal di seluruh Inggris. Di usia yang masih muda, ia dianugerahi gelar Knight atas jasa dan keberaniannya di medan perang. Sejak hari itu, Sir Humphrey Ashford menjadi salah satu ksatria cukup disegani di kerajaan, sosok yang dihormati karena kesetiaannya yang tak tergoyahkan kepada mahkota Inggris.
Kesetiaan Humphrey hanya tertuju pada dua hal: Raja Edward VI dan tanah airnya. Di sela-sela tugasnya, ia kerap menghabiskan waktu dengan menunggang kuda atau berlatih pedang bersama rekan-rekan sesama ksatria. Baginya, pedang bukan sekadar senjata, melainkan lambang sumpah yang telah ia ikrarkan kepada rajanya.
Di balik sosoknya yang tegas dan humoris, Humphrey menyimpan hati yang hanya dimiliki oleh seorang wanita.
Namanya Lady Anne.
Anne adalah seorang bangsawan muda yang dikenal karena kecerdasannya, kelembutan tutur katanya, dan kecantikannya yang menjadi perbincangan di kalangan istana. Humphrey mencintainya sepenuh hati, dan untuk pertama kalinya, ia sangat membayangkan kehidupan setelah peperangan—kehidupan yang damai bersama wanita yang dicintainya dan menikmati masa tua bersamanya.
Namun, impian itu hancur jauh sebelum sempat menjadi kenyataan.
Anne ditangkap atas tuduhan merencanakan pembunuhan terhadap Raja Edward VI. Konspirasi itu disebut-sebut sebagai upaya balas dendam atas peristiwa kelam yang menimpa keluarga yang selama ini dihormatinya. Tanpa kesempatan membela diri, Anne dijatuhi hukuman mati.
Di hadapan kerumunan rakyat, kepalanya dipenggal.
Sejak hari itu, sesuatu dalam diri Humphrey ikut mati bersamanya.
Entah Anne benar-benar bersalah atau hanya menjadi korban permainan politik, Humphrey tak pernah menemukan jawabannya. Yang tersisa hanyalah luka yang perlahan berubah menjadi ketidakpercayaan. Ia berhenti mempercayai siapa pun selain dirinya sendiri.
Belum sempat luka itu mengering, takdir kembali merenggut orang yang paling ia lindungi.
Setahun kemudian, Raja Edward VI mengembuskan napas terakhirnya.
Kematian sang raja menyeret Inggris ke dalam kekacauan. Para bangsawan di istana saling berebut kekuasaan, kesetiaan berubah menjadi pengkhianatan, dan darah kembali tumpah demi sebuah mahkota.
Humphrey yang sepanjang hidupnya mengabdi kepada kerajaan justru dituduh sebagai pengkhianat.
Tanpa bukti yang memadai, ia dijatuhi hukuman mati.
Di hadapan algojo, Sir Humphrey Ashford berdiri tegak tanpa sedikit pun menundukkan kepala. Tatapannya lurus ke langit.
Dengan suara yang tetap tenang, ia mengucapkan kata-kata terakhirnya,
“I, Sir Humphrey Ashford, do willingly lay down my own life for England, and for the Crown unto which I have sworn mine honour. Yet if God showeth mercy, I pray these eyes might behold what England shall become in ages yet to come, rather than close forever in death.”