BLIND
CONTENT WARNING: NSFW🔞 // RAW PENETRATION
GETO SUGURU X FEM READER
"Love is blind, and you are so blind"
©storyline by me / Geto Suguru belongs to Gege Akutami
***
"Dia ngga pernah bikin aku nunggu."
"Dia ngga pernah bikin aku ragu."
"Dia ngga pernah bikin aku kesepian."
"His attention, affection, affirmation... He offers me everything I always wanted, and I could not ask for anything better."
"...but why the fuck my heart still fumbles for you, Suguru?"
Rasanya sudah lama sekali sejak kamu dan Suguru putus, dan selama itu juga kamu berusaha untuk melupakannya. Kamu pikir usahamu akan berhasil apalagi dengan hadirnya seorang Nanami Kento— sosok yang kamu idam-idamkan dengan segala kesempurnaan nya. Seharusnya mudah kan? Kamu hanya tinggal menyambut uluran tangannya dan kembali melanjutkan hidup.
Tapi nyatanya tidak semudah itu. Nyatanya kamu masih selalu merasa kurang dan malah masih mencari-cari sesuatu yang hilang. Lebih tepatnya mencari-cari lagi sosok Suguru dalam diri Kento. Bodoh? Iya. Dan kamu mengakuinya.
Sekarang saat Suguru berdiri di hadapanmu lagi dan memintamu kembali, kamu tidak bisa membendung perasaanmu sama sekali. Tatapan dari mata onyxnya yang tajam, aroma tubuhnya yang sangat kamu suka, suaranya— ah rasanya segala kenangan dan perasaanmu akan masa itu kembali begitu saja tanpa ada perlawanan.
"Let's go back together then." katanya.
"I am so sorry." katanya.
"I will be a better person for you." katanya.
Jujur saja kamu tercekat dan dadamu terasa sesak. Kamu merasa sangat kesal. Pertama dengan ucapan entengnya yang terdengar layaknya omong kosong. Kedua dengan dirimu sendiri yang juga berharap bahwa apa yang dia katakan benar.
"I still love you, baby." lanjutnya.
"Always..."
Oh, fuck.
Â
Seperti membalikkan telapak tangan, semudah itupun Suguru membawa kembali dirimu dalam genggamannya. Hanya dengan satu kalimat payah seperti itu saja pertahananmu runtuh. Tapi mungkin dengan ini kamu juga menyadari bahwa alasan kenapa kamu belum lepas dari bayang-bayang Suguru adalah bukan karena kamu tidak bisa, tapi karena kamu sendiri masih mengharapkannya kembali memperjuangkanmu.
Selepasnya, kamu tidak mengingat apapun sampai dengan Suguru membawamu pergi dan mencumbuimu di hotel tempat dia menginap.
"I am a mess without you, baby." gumam Suguru di sela-sela kegiatannya pada bibirmu— melumat, menjilat, menggigit dan menyesapnya hingga kamu kehilangan akal.
"But I am a mess with you, Suguruahhh..."
"You look perfect in a mess though. It suits you the best ahhh bibir kamu enak banget. Damn, I almost forget the way it taste."
Lalu kamu berfikir, mungkin gairah ini lah yang tidak kamu temukan dalam diri orang lain, termasuk Kento. Mungkin juga ucapan Suguru ada benarnya— the mess makes you feel alive? Sinting.
Suguru menyesap bibir bawahmu kuat sebelum dia melepasnya untuk melihat keadaanmu yang sudah berantakan setengah telanjang di bawahnya. Matanya bergerak mengamatimu dari ujung rambut sampai ke perutmu hingga kembali lagi menatap tepat di matamu. Kemudian tangannya dengan lihai melepas sisa-sisa kain yang membalut tubuhmu dan tubuhnya hingga kalian telanjang bulat.
Ujung jemarinya sengaja dia sentuhkan perlahan ke permukaan kulitmu, mengelusnya sangat perlahan dari ceruk leher, turun ke belahan dada hingga pusar lalu kembali lagi ke titik awal. Sentuhannya membuat bulu kudukmu berdiri dan perutmu melilit. Tapi kamu menutup mata sambil menggigit bibir bawahmu, menikmatinya.
"You're all that I want."
Kamu bisa merasakan jemari itu sekarang memainkan putingmu— menggesek dan memilinnya berulang kali hingga membuatnya mengeras. Sesekali telapak tangannya yang besar itu meremas payudaramu lalu memilin putingmu lagi.
"You're feeling the same, right, baby?"
Suguru membenamkan wajahnya ke dadamu. Dia menggesekkan batang hidungnya di sana sambil menghirup aroma tubuhmu yang sangat memabukkan baginya. Tapi tak hanya indra penciumannya saja, sekarang lidahnya pun tak kalah aktif untuk mengecap kulitmu. Dia jilati kulit telanjangmu itu, terlebih batang lehermu yang terasa sangat lembut dan manis bagi lidahnya yang lebar dan kasar.
Selagi Suguru menikmati jilatannya pada lehermu, tangan besarnya sudah bergerilya ke pinggang, pantat dan betismu juga. Dia rangsang semuanya dengan sentuhannya yang terkesan sangat tidak sabaran. Di sisi lain kamu juga sadar kalau dia sama sekali belum menjamah kemaluanmu yang padahal sudah sangat basah. Sengaja? Mungkin.
"Give me your tongue please.."
Kamu yang sudah mabuk oleh belaiannya pun langsung menjulurkan lidahmu agar disambut olehnya. Awalnya dia tabrakkan ujung lidahnya ke ujung lidahmu, lalu dia gesek dan putar-putar lidahnya ke batang lidah milikmu sebelum akhirnya mengulumnya begitu kuat.
Kamu melingkarkan tangan dan kakimu ke tubuhnya seakan menyuruhnya untuk lebih lama melanjutkan aktifitasnya itu. Tanpa ragu kamu juga menggerakkan lidahmu untuk beradu dengan miliknya dan kalian berdua berakhir dengan saling menyesap dan mendesis keenakan dengan tubuh saling bertumbuk.
"Oh fuck!" Suguru mengumpat ketika dia menyadari batang kemaluannya sudah sangat tegang.
"See? Ciuman sama kamu doang udah bikin aku tegang banget kayak gini, sayang. Cuma kamu yang bikin aku gila begini."
"And you have no idea gimana tersiksanya aku selama kamu menghindarin aku dan malah milih deket sama cowok lain. Jahat banget kamu ya?"
"Oh, but look at your messy pussy. Wet. Really wet sampai kayaknya ngga butuh stimulasi apapun lagi ya buat masukin punyaku ke dalem?"
"...atau tetep mau aku jilatin dulu?"
"...or pakai jari dulu kayak biasanya aja, hm?"
"Kamu maunya gimana? I will do as you like, sayang."
Bisikan-bisikannya di telingamu membuat kamu makin tak karuan. Sekilas kamu meruntuki betapa bodohnya dirimu yang seakan, tanpa perlawanan, menyerahkan tubuhmu sekali lagi untuk dicumbui oleh mantan kekasihmu itu.Â
"Just fuck me right now please..."
Oh, kamu benar-benar merasa sudah gila.
"Very well, sayang." Suguru dengan batang kemaluannya yang sudah berdiri tegak pastinya sangat senang dengan jawabanmu. Tangannya dengan sigap melebarkan kakimu hingga selangkanganmu terbuka lebar. Matanya terlihat berkilauan layaknya seseorang yang sedang menyaksikan sesuatu yang sangat menakjupkan.
Nyatanya, di mata Suguru kemaluanmu yang sudah sangat basah dan terangsang sempurna itu memang sangat menakjubkan. Kamu tidak tahu betapa inginnya lelaki itu untuk menjilat bersih cairan bening di sana.
Suguru memilih menggesekkan miliknya di sana dulu— dia lumuri ujung dan batang kemaluannya dengan cairan milikmu. Jujur saja kamu ingin teriak frustasi atas sensasi yang kamu rasakan, apalagi ketika ujung penis Suguru dia tabrakan ke klitorismu. Rasanya tubuhmu melayang, dan kamu yakin jika dia melakukannya lebih lama pasti kamu akan mencapai orgasme.
"Aku masukin ya, sayang?"
Dia mengangkat bagian bawah tubuhmu di atas pahanya. Lubang kemaluanmu sekarang berhadapan langsung dengan penisnya.
"AHHHH!"
"NGGHH!"
Kalian berdua mengerang keras secara bersamaan ketika penis Suguru berhasil masuk lubang vaginamu dalam sekali sentakan. Tapi kemudian kalian terdiam beberapa detik untuk memproses apa yang terjadi dan mengatur detak jantung kalian masing-masing. Bagaimanapun, ini adalah penetrasi pertama kalian setelah putus. Ada perasaan aneh yang kalian berdua rasakan. Terlebih kamu.
Tanpa kamu sadari, air mata menitik dari sudut matamu. Hebatnya, Suguru menyadari itu dan segera menciumi mata, dahi, pipi, hidung dan bibirmu yang sedikit bergetar seakan ingin menenangkanmu.
"Kita mulai lagi dari awal ya?"
"Sorry I run away."
"But my feeling always stays the same."
"Please love me for the second time."
"Is it too late?"
Ah kamu sungguh sungguh sungguh benci ketika Suguru sudah mulai membuka mulut nya dan menjejalkan kata-kata memelasnya ke otakmu. Tapi tanpa bisa menyangkal, memang hanya Suguru yang bisa memantik hasrat dalam dirimu.
"Suguru..."
"Ya, sayangku?"
"They say love is blind."
"Yes."
"And I am so blind right now."
Pada momen itu, tanpa ragu Suguru mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur. Jemarimu mencengkram punggungnya kuat sebagai pegangan karena setiap batang kemaluan Suguru keluar masuk pada lubang mu, kamu merasa semakin melayang dan kesadaranmu semakin menguap entah kemana.
Wajah Suguru berada tepat di atas wajahmu seakan memaksamu untuk terus memandangnya.
"Cium aku." pintamu memelas pada akhirnya.
Suguru dengan senang hati meraih bibirmu lalu menguncinya dengan bibirnya. Gerakan pinggulnya masih tetap konsisten di bawah sana, membuatmu mendesah tertahan. Kamu menyadari Suguru sangat berhati-hati di setiap hujamannya. Seakan-akan dia memastikan kamu menikmati nya— dan kamu memang sangat menikmatinya.
"Ahhh Sugu— aahhh"
"—ahhhh wai... it plea.. se AAHHHH!!"
Tak lama, hujaman-hujaman penisnya yang begitu dalam dan kuat itu membuatmu mencapai puncak kenikmatanmu yang pertama. Badanmu mengerjang dan bergetar hebat. Tentunya vaginamu berkedut sangat kencang. Otot di lubang itu menjepit kemaluan Suguru begitu kuat hingga dia mencekram sprei di sekitarnya untuk mengontrol dirinya.
"Argh fuckk!" desisnya persis di telingamu.
"Baby please, kamu kenceng banget nyengkramnya. Hampir aja ikutan keluar." dia sedikit terkekeh.
"Enak ya sampai keluar kenceng gini?" dia mengusap-usap puncak kepalamu dengan lembut. Kamu sendiri masih linglung dan masih melayang. Kamu tak ingat sudah berapa lama kamu tak merasakan orgasme seperti itu dan kamu ingin merasakannya lagi dan lagi.
Entah kamu sudah sepenuhnya sadar atau belum, tapi kamu tiba-tiba mencoba bangun dan mendorong pelan tubuh Suguru hingga sekarang kamu duduk di atasnya. Suguru sendiri hanya diam memperhatikan setiap pergerakanmu. Dia bertumpu pada kedua lengannya, menahan beban tubuh kalian berdua.
Kamu meraih kemaluan Suguru dan mencoba memasukkannya sendiri ke dalam lubangmu lagi setelah sempat terlepas. Jujur saja, kamu kewalahan untuk melakukannya sendiri. Tapi Suguru tahu kamu sedang tidak ingin dibantu.
"Ugghhh babyyyy..." Suguru mendesah saat ujung penisnya sudah masuk.
"Nghhhhh..." kamu melenguh panjang saat seluruh batang kemaluan Suguru sudah masuk dalam lubangmu. Penuh. Kamu merasa utuh.
Kamu meraih wajah Suguru, mengelusnya, menelusuri garis wajahnya yang rupawan. Lalu kamu pertemukan lagi kedua bibir kalian, mengajaknya bertaut.
Tanganmu beralih ke leher dan dada lelaki itu, diikuti bibirmu yang berpindah tempat juga mengikuti gerakan tanganmu. Kamu ciumi batang leher yang besar dan kokoh itu. Kamu sesap aromanya, seperti yang dia lakukan padamu tadi.
"I want more..."
Suguru hanya bisa menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum gila, setelah mendengar ucapanmu.
Kamu melanjutkan kegiatanmu pada lehernya dan perlahan mulai menggerakkan pinggulmu naik turun sendiri— mencari kenikmatan.
"Yes right, like that baby. Use me... use me like you always did before... nghhh so good..." Suguru meracau kesenangan mendapatimu terlihat menginginkannya.
"Nghhh you know how to ride me..."
Kamu menggigit bibir bawahmu sambil terus menggerakkan pinggulmu naik turun. Kamu beberapa kali mengumpat saat mendengar racauan Suguru. Rasanya dia sangat paham kamu akan semakin bergairah saat mendengarnya mendesah menikmati permainanmu.
"Suguru... enak banget ahhh,"
"Iyah sayang, enak nghh let me help you, ok?"
Kamu mengangguk.
Suguru membalikkan badanmu dan menuntunmu untuk berganti posisi menjadi setengah berdiri, saling bertumpu pada lulut kalian. Dia memasukkan lagi penisnya dari belakang.
"Let's come together this time, okay?"
"Okay,"
Suguru menciumi punggungmu lalu lengannya dia dekapkan pada tubuhmu. Lengan kanan pada leher. Lengan kiri pada dada. Bersamaan dengan itu, dia menghujamkan lagi penisnya keluar masuk pada lubang vaginamu yang sekarang sudah meneteskan cairan kental pada paha dan sprei.
Berbeda dari yang pertama, kali ini kamu bisa merasakan gerakan pinggulnya lebih kuat dan cepat. Kamu pun mencoba mengimbanginya dan bergerak secara berlawanan. Pertemuan kelamin kalian sudah sangat basah hingga bunyinya menggema di kamar Suguru disertai desahan dan erangan kalian berdua tanpa henti.
"Suguru aku mau keluar lagi..."
"Aku juga. Bareng ya?"
Suguru semakin mempercepat temponya.
"Ahhh sayang..."
"Suguru-uugh.."
Pada akhirnya kalian mencapai klimaks bersamaan. Deru nafas dan gemuruh di dada kalian saling bersahutan setelah pelepasan tadi. Dekapan Suguru dan juga cengkramanmu pada lengannya yang sempat mengencang tadi mulai melonggar. Kalian saling menatap dengan sayu beberapa detik lalu mempertemukan lagi bibir kalian sebagai penutup.
"Thank you, sayang."
'Ah shit.' kamu mengumpat dalam hati mendengarnya. Ucapan terima kasihnya yang terdengar sepele itu semakin meruntuhkan pertahananmu.
Kamu melepaskan diri dari dekapannya dan memilih berbaring, sedikit meringkuk, tanpa membalas ucapannya tadi. Matamu menatap kosong jendela dan lampu-lampu kota di baliknya, terdiam.
Sekilas sosok Nanami Kento yang dengan senyuman tipisnya menerima penolakanmu tadi sore terbesit di pikiranmu.
Ya, pada akhirnya kamu menolak lelaki itu, karena pada akhirnya kamu juga menyadari kamu belum bisa menerima orang lain selain Suguru.
"Thank you for choosing me, again."
Suguru mendekap dan menciumi pundakmu dari belakang. Dan seiring dengan elusan ringan pada lenganmu, kamu mulai memejamkan mata dan terbuai dalam tidur. Kamu hanya berharap saat pagi tiba, kamu tidak akan menyesali apa yang kamu putuskan malam ini.
'They say love is blind. I am so blind.'
FIN.
***
Heuu my first work after a while! Hope you enjoy itđź–¤
Mind to give me some words? https://secret20.com/9465995
Or u may check out my other works! https://linktr.ee/deathpumpkin
THANK YOU.