Samar-samar semburat mega-mega putih kalah mempresensikan diri dari teriknya matahari yang menusuk kulit. Udara yang berembus tampaknya juga menyerah melawan asap-asap kendaraan bermotor yang tak pernah tidur. Namun, hingga detik ini pun belum ada yang berani memadamkan ambisi seorang Yada Wangkawa yang kini tengah bergelut dengan waktu dan hiruk-pikuk Kota Jakarta.
Di sela periode promosi comeback grupnya, ia menyempatkan diri untuk berkunjung ke kantor CAPTURE yang terletak di M Tower tingkat 14-18. Bukan semata-mata kunjungan, tuan berdarah Tionghoa ini memang hendak mengikuti casting sebagai seorang model. Informasi lowongan ini ia peroleh dari iklan yang tak sengaja muncul ketika ia membaca sebuah portal berita mode.
Walaupun tak asing dengan dunia modelling, ini adalah kali pertamanya mengikuti casting sebagai talent di sebuah agency setelah hampir tiga tahun tahun mendedikasikan diri sebagai model independen. Menurutnya, kesempatan ini akan menjadi peluang baru untuk mengembangkan diri di bidang yang ia sukai.
Beberapa waktu kosong pula ia pergunakan sebaik mungkin untuk berlatih mengontrol pose dan ekspresi, sehingga dapat memberikan kesan yang baik ketika casting nanti. Sejujurnya, semua itu tak mudah, terlebih jika berbicara perihal pembagian waktu. Namun, ia percaya bahwa buah yang manis akan diperoleh setiap lika-liku proses berhasil dilalui.
Sama halnya dengan saat ini. Banyak perjuangan yang ia hadapi untuk tiba di kantor CAPTURE tepat waktu. Lantas, perasaan lega menghujani si tuan ketika melihat jam yang tertera pada layar ponselnya, serta mendapati salah satu staf yang tampak siap memberinya petunjuk.
Usai keduanya melakukan perbincangan kecil, Yada dipersilakan untuk menuju sebuah ruangan yang didominasi oleh warna putih. Beberapa alat dan properti untuk keperluan pemotretan langsung menyambut indra penglihatannya begitu ia tiba di sana. Sesi casting belum dimulai, namun adrenalinnya sudah diuji terlebih dahulu.
Pihak CAPTURE memberi informasi bahwa peserta tidak perlu mengubah penampilannya untuk pemotretan ini. Sebagai gantinya, pakaian yang tengah peserta kenakan akan menjadi sorotan utama yang wajib dipresentasikan sesuai dengan citra dan keunikan masing-masing. Bagi Yada, konsep casting ini merupakan sesuatu yang baru sebab peserta dibebaskan untuk mengekspresikan diri mereka tanpa dibatasi. Lantas, ia semakin paham mengapa banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi bagian dari CAPTURE.
Mengikuti audisi pencarian model dengan mengenakan pakaian favorit yang juga merupakan pemberian dari orang yang tersayang tak pernah sedikit pun terbayang olehnya. Begitu banyak rencana yang berkeliaran di dalam pikiran usai menerima informasi tersebut. Tugasnya sebentar lagi hanya tinggal mengeksekusi seluruh perkiraan tersebut.
Sebelum pemotretan dimulai, sedikit polesan riasan dibubuhkan pada wajah lonjongnya. Tak terlalu banyak, namun cukup menambah nilai dari segi penampilan. Tak juga berlebihan sebab rasa gugup yang tak pernah absen singgah telah digantikan oleh kesiapan unjuk diri di hadapan kamera.
“Sudah siap?” tanya salah satu staf di balik layar.
“Sudah,” jawabnya setelah keluar dari ruang tata rias.
“Baik, silakan perkenalkan dirimu,” pinta seseorang yang ia yakini sebagai penilai pemotretan ini.
“Baik, terima kasih atas kesempatannya. Perkenalkan, nama saya Yada Wangkawa, kerap dipanggil Yada. Seorang penyanyi dan model lepas yang lahir pada awal bulan Oktober tahun 1993 di Surabaya. Saat ini, kegiatan saya hanya berkaitan dengan kegiatan sebagai penyanyi. Terkait modelling; selain pemotretan untuk keperluan perilisan lagu atau album, saya memiliki pengalaman menjadi model seasonal catalog dan juga beberapa kali mengikuti runway. Tinggi badan saya 180 cm dengan berat badan 62 kg, ukuran dada 96 cm, pinggang 77 cm, dan pinggul 97 cm. Sekian informasi mengenai diri saya. Terima kasih.”
“Terima kasih, Yada. Please take your place and give us your best on this photoshoot! Kamu hanya dipersilakan untuk mengambil paling banyak empat foto, jadi gunakanlah kesempatan tersebut sebaik mungkin. Good luck!”
“Thank you!”
Kini seluruh atensi telah jatuh pada sosok Yada Wangkawa. Seorang fotografer kemudian mempersilakan Yada untuk mengambil alih proses pemotretan ini. Pada awalnya, gugup lagi-lagi bertamu tanpa diundang, mengingat ia selalu didampingi oleh seorang pengarah di setiap pemotretan yang pernah ia lakukan sebelumnya. Ini adalah tantangan yang baru baginya!
Pada pengambilan gambar yang pertama, Yada memberi aba-aba kepada fotografer yang bertugas untuk mengambil gambar dengan jarak yang dekat, yakni hanya terlihat hingga bagian dada. Berbalut kemeja berbahan beludru yang didominasi oleh warna merah muda, tubuhnya sedikit menghadap serong kanan, kemudian dua lengannya terangkat sembari membiarkan selendang berbahan serupa bertengger di sana.

Dari balik rambutnya yang jatuh menutupi setengah wajah, tatapan matanya masih terlihat tajam dan wajahnya melukiskan senyuman tipis yang menawan. Mungkin dewi keberuntungan kini tengah berpihak padanya. Ketika sesi touch up tadi, Yada sempat menemukan kain panjang tersebut dari lemari properti yang tersedia. Lebih beruntungnya lagi, nuansa kain itu tampak selaras dengan kemejanya seakan-akan memang diproduksi untuk saling melengkapi. Itulah alasan Yada memanfaatkan selendang tersebut dalam pemotretan ini. Ia hanya akan mempergunakan segala cara untuk tampil memukau di hadapan kamera.
Usai pemotretan pertama berjalan sesuai ekspektasi, Yada meminta sang juru kamera untuk mundur menjauh sebab kali ini ia ingin seluruh tubuhnya tertangkap oleh alat pengambil gambar. Meskipun hanya berbekal celana pendek dan sepatu pantofel berwarna hitam, kepercayaan dirinya semakin membara ketika mendapatkan ide cemerlang yang sebentar lagi hendak dieksekusi.
Kedua sisi selendang beludru ungu dengan corak unik di setiap ujungnya sekarang tak lagi serupa. Sisi kanan ia biarkan lebih panjang daripada sisi kiri dengan membentangkan kain tersebut ke arah kamera, kemudian tubuhnya direndahkan menyerupai posisi jongkok. Salah satu tungkai jenjangnya ia tonjolkan, sedangkan yang lainnya dijadikan tumpuan bersama dengan lengan kanan.
Helaian rambutnya memang masih menghiasi setengah wajah, namun kini ekspresinya telah berubah menjadi lebih tegas. Pose dan ekspresi fierce itu terinspirasi dari posisi awal perlombaan lari yang memposisikan casting ini sebagai titik awalnya sebelum berkarya bersama CAPTURE. Ide ini juga diperoleh dari corak pakaian yang tengah ia kenakan, yakni zigzag, sebagai lambang pemberi sugesti semangat dan bergairah. Itulah sebabnya perasaan gugup perlahan gugur tanpa diminta sebab Yada semakin menikmati pemotretan ini.
Bunyi shutter kamera lantas kembali terdengar ketika ia memberi aba-aba berupa anggukan kepala. Dan, ketika foto keduanya berhasil ditangkap, sang fotografer langsung berseru, “Next,” agar Yada segera berpindah ke pengambilan gambar selanjutnya. Waktu kian terkikis meskipun pemotretan tak terasa begitu lama, namun ia harus segera bergerak agar waktu tak terbuang sia-sia.
Selanjutnya, tuan berdarah campuran ini berpikir bahwa berpose tanpa adanya properti lain akan membuat gambar hasil pemotretan tak variatif. Beruntung sebuah rerantingan buatan ia dapati setelah sekian sekon membiarkan netranya berkelana. Lantas, Yada berdiri di balik benda imitasi tersebut, diikuti oleh sang fotografer yang tak pernah lepas kendali.
Pada pemotretan ketiga, mimik yang hampir serupa dengan sebelumnya masih terpasang pada parasnya. Kedua kuasa kembali terangkat seperti pose yang ia berikan di foto pertama, namun kali ini terlihat bergantungan pada ranting-ranting itu.

Tatapannya lurus ke depan, kemudian cahaya matahari yang tak sengaja menerobos ke dalam ruang pemotretan pun kini membuat atmosfer semakin sendu. Lantas, diubahnya ekspresi wajahnya sebelum kembali memberi petunjuk kepada juru kamera.
Dirasa belum puas, Yada memutuskan untuk menggunakan kesempatan terakhirnya di posisi yang sama. Namun, posisi tangan ia ubah agar tak tampak berlebihan. Lengan kanan diturunkan, kemudian lengan yang lain bertumpu pada batang kayu imitasi. Sementara itu, kain panjang yang sejak tadi bertengger di bahunya masih terlilit di antara rerantingan yang kaku.
“Sudah yakin?”
“Yes.” Yada mengangguk. Dagu si tuan sedikit dinaikkan agar ekspresi wajah tampak menonjol. Tak hanya itu, kancing baju teratas rupanya telah ia lepas dari pengaitnya, sehingga memberikan kesan yang sedikit sensual di sesi pengambilan gambar terakhir ini.
“It’s a wrap!” ujar salah satu penilai yang tak pernah melepaskan pandangan dari aksi seorang Yada Wangkawa. “Good job, Yada.”
“Thank you so much,” balas Yada sembari memberikan senyum semringah. Menurutnya, pemotretan ini telah berjalan dengan lancar dan ia telah memberikan kemampuannya semaksimal mungkin, sementara sisanya akan diserahkan kepada sang pemangku kuasa atas keputusan.
“Kamu dipersilakan untuk keluar dari ruangan ini, ya. Nanti akan kami berikan informasi selanjutnya. Terima kasih atas kerja kerasnya!”
Lelaki jangkung ini seketika menundukkan tubuhnya hampir menyentuh 90 derajat sebagai rasa syukur kepada semua penilai dan staf yang bertugas. Baginya, melakukan pemotretan bersama CAPTURE merupakan suatu kehormatan dan kesempatan ini akan selalu terkenang dalam hidupnya.
Selesai.

