Lahir di Jakarta pada tahun 1966, Rendra Ganendra tumbuh di tengah masa transisi keluarga besar Ganendra dari era industri ke masa pembangunan sosial dan pendidikan.
Sejak muda, ia dikenal lebih idealis dan empatik dibandingkan saudara-saudaranya yang fokus pada korporasi dan politik. Setelah menempuh pendidikan di London School of Economics dan melanjutkan studi kebijakan publik di Harvard Kennedy School, Rendra memilih jalur pelayanan sosial.
Ia memimpin Yayasan Sosial Ganendra, yayasan keluarga yang didirikan ayahnya, dan mengubahnya menjadi lembaga berpengaruh dalam pengembangan kebijakan sosial, pendidikan anak, serta reformasi kesejahteraan publik. Rendra meyakini bahwa kekayaan keluarga tidak hanya diukur dari aset finansial, tapi juga dari seberapa besar manfaat yang mereka berikan kepada masyarakat.
Istrinya, Mira Santoso (1966), adalah sosok yang sama kuatnya namun jauh lebih tenang. Seorang dosen dan peneliti psikologi sosial di Universitas Indonesia, Mira memiliki reputasi akademis yang disegani dalam bidang perilaku kolektif dan kesejahteraan komunitas.
Mereka pertama kali bertemu saat Rendra menjadi pembicara tamu di seminar kampus UI tentang kepemimpinan etis. Diskusi yang awalnya bersifat ilmiah berubah menjadi koneksi batin antara dua orang yang sama-sama percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari pemahaman manusia terhadap dirinya sendiri.
Setelah menikah, keduanya menjadi pasangan yang tak terpisahkan dalam riset dan advokasi sosial, sering tampil bersama dalam forum kebijakan dan akademik internasional.
Rendra tidak hanya menjalankan yayasan, tetapi juga menjadi penasihat pemerintah dalam bidang kebijakan sosial sejak awal 2000-an. Ia dikenal sebagai figur yang mampu menjembatani dunia akademik, birokrasi, dan filantropi.
Dalam masa kepemimpinannya, Ganendra Foundation memperluas jaringannya hingga ke Asia Selatan dan Afrika Timur, berfokus pada program pemberdayaan perempuan dan pendidikan dasar berbasis komunitas.
Ketika banyak elite memilih membangun citra,
Rendra memilih membangun sistem.
Sikapnya yang tenang, tutur katanya yang rasional, dan kemampuannya memahami dinamika sosial menjadikannya salah satu tokoh paling dihormati di lingkungan kebijakan publik Indonesia.
Di sisi lain, Mira menjadi suara moral yang menjaga keseimbangan keluarga. Ia menolak sorotan publik dan lebih suka mengajar di kampus, membimbing mahasiswa dalam riset sosial, serta menulis buku tentang hubungan antara empati dan pembangunan nasional.
Dalam setiap forum yang dihadiri suaminya, Mira sering menjadi sosok yang mendengarkan lebih banyak daripada berbicara namun saat berbicara, kata-katanya selalu menancap kuat.
Pasangan ini dikenal sebagai “otak dan hati” dari generasi Ganendra modern: rasional dalam perencanaan, namun penuh rasa dalam pelaksanaan.
Mereka memiliki tiga anak, masing-masing mencerminkan sintesis antara dunia akademik dan sosial keluarga. Anak pertama terlibat dalam organisasi internasional yang berfokus pada kebijakan pendidikan global, anak kedua menjadi psikolog anak yang membuka klinik berbasis komunitas di Bandung, dan anak bungsu berprofesi sebagai dokumentaris sosial yang mengangkat kisah ketimpangan di daerah pedalaman.
Keluarga Rendra-Mira mewakili wajah paling humanis dari dinasti Ganendra mereka tidak sekadar mewarisi nama besar, tapi juga menghidupkan kembali makna dari apa yang disebut “pengaruh yang bertanggung jawab.”