Living up to everyone's expectations is tiring
Nama lengkap
Rafandra Adinata
Nama panggilan
Rafa
Tempat, tanggal lahir
Bandung, 14 September, 1997
Tinggi
176 cm
Berat
68 kg
Okupasi
Pegawai Toko Buku (Milik keluarga)
Asisten Editor
Afiliasi
-
Face claim
Luke Pearce - Tears of Themis
Namanya Rafandra Adinata. Akrabnya dipanggil Rafa oleh orang - orang. Anak laki - laki bungsu keluarga Adinata, keluarga kecil yang terdiri oleh satu Ibu dan dua kakak perempuan ini sejak kecil tidak mengingat bagaimana rupa sang Ayahanda selain memandangi wajah tersenyum pria tersebut dari potret dengan bingkai lusuh, juga dari cerita - cerita masa kecil yang sudah mulai kabur. Kisah saat ia belum menginjak usia remaja, belum cukup dewasa untuk berdiri dan berjalan sendiri. Besar dalam keluarga yang tidak memiliki sosok Ayah yang dapat mengajarkannya banyak hal, Rafandra tumbuh menjadi pemuda dengan pola pikir bahwa ia harus menunjang keluarganya. Maka ia mulai membenahi diri dengan tata bahasa yang sopan, mengutamakan kepentingan yang lain sebelum diri sendiri, bagaimana ia bersikap di depan orang - orang, belajar. Belajar. Belajar. Murid teladan, anak laki - laki yang dapat dibanggakan. Tidakkah semua ini terdengar melelahkan?
"Kata Ibu, saya tidak perlu membebani diri dengan hal ini."
Dan ia tahu. Ia paham bagaimana ia menempatkan dirinya sendiri pada posisi tersebut. Tanpa diminta, tanpa dipaksa. Rafandra tidak akan berbohong dan mengatakan: "Ini tidak melelahkan sama sekali." Karena ada malam dimana ia kehilangan waktu tidur. Entah karena terbangun atau karena ia tidak dapat terlelap sama sekali, menghabiskan sisa malam untuk belajar, belajar, belajar. Dahulu saat ditanya, "Rafandra saat besar mau jadi apa?" jawaban yang akan didengar oleh si penanya adalah, "Dokter." Jawaban klise, pekerjaan idaman, dengan gaji yang memadai tentu saja. Lalu dengan mindset seperti ini bagaimana Rafanda berakhir menjadi salah satu murid terpelajar? Untuk hal itu mungkin akan ia ceritakan saat ia sudah cukup siap untuk membuka diri. Itu, sebelum Rafandra Adinata kehilangan kemampuannya untuk mengeluarkan suara saat usianya menginjak umur 16 tahun.
