JustPaste.it

Kak Bayu dan Kak Rahmadi pulih lebih cepat daripada perkiraan para dokter, dalam waktu seminggu mereka sudah pulang dari RS. Yah, aku sedikit lebih lega karena tak harus bolak-balik menjenguk mereka lebih dari seminggu. Setelahnya aku bersiap untuk berlatih sebelum pergi ke Jawa Timur, tapi....

“Ini apa-apaan?” tanyaku saat aku melihat Kak Bayu, Kak Rahmadi, Moeder, dan Sylva ikut masuk ke dalam gerbang dunia lain yang dibuka oleh Kakek William.

“Kok tanya? Kami mau ikut latihan denganmu supaya bisa menghadapi lawan dan nggak dikalahkan dengan mudah seperti waktu itu,” jawab Kak Bayu dengan alis mengernyit.

“Yah, kalau Xiaolan-dage dan Xiaofan-erge sih, aku paham. Tapi, kenapa Bunda dan Ling-mei juga ikutan?” aku mengerling ke arah Moeder dan Sylva.

“Sudah lama Mama tidak latihan, jadi Mama ingin sedikit pemanasan,” jawab Moeder dengan santainya dan membuat keningku makin berkerut. Beliau ingin pemanasan? Seingatku, Moeder kan penyihir? Apa maksudnya? Moeder juga bisa berantem gitu?

“Aku, aku ingin sekuat Yao-gege! Makanya—“ Sylva memainkan jemarinya.

Aku menghela napas. “Aku ngerti alasannya. Tapi, Bunda ... kenapa pakai gaun megar begitu untuk latihan ini? Kita bukan mau ke pesta, loh?” aku bingung kenapa ibu kami itu malah berdandan layaknya Tokisaki Kurumi saat sedang bertarung. Mana beliau menguncir dua rambutnya lagi! Hadeh!

“Aneh, ya? Padahal ini pakaian perang Mama, loh?” Moeder malah memasang wajah tanpa dosa dan membuatku menghela napas.

Baju perang katanya? Moeder kira yang beliau kenakan itu astral dress, ya? Aku tanpa sadar menghela napas lagi. “Ya, sudahlah. Karena kita sudah masuk ... susah buat keluar lagi.” Aku membuka inventarisku dan memilih-milih senjata yang cocok untuk digunakan oleh saudara-saudaraku dan ibu kami. Kuharap Huaniang sedikit bersabar karena mencari senjata yang cocok untuk mereka itu susah. Akhirnya aku memberikan pedang perak pada Kak Bayu, knight killer pada Kak Rahmadi, bowgun pada Sylva, dan cursed sword yang belum lama ini kutempa—Mysteltainn, pada Moeder. Namun, Moeder meminta sesuatu yang membuatku terkejut.

“Bisa kau berikan saja Basilisk’s Fang pada Mama? Jangan khawatir, Mama juga punya kemampuan detoksifikasi,” seolah tahu apa yang kukhawatirkan, beliau berkata demikian. Aku akhirnya memberikan belati beracun itu pada Moeder dan aku sendiri yang menggunakan pedang panjang berelemen shadow itu.

“Ayo, kita mulai latihannya di sini,” aku segera berjalan lebih dulu, bermaksud untuk memimpin mereka.

Di luar dugaan, Moeder bergerak lebih dulu dan dengan kecepatan yang mengagumkan serta hampir tak tertangkap mata ... beliau dengan mudah mengalahkan monster-monster yang menghadang. Aku dan saudara-saudaraku tercengang dibuatnya. Tentu saja, kami tak pernah melihat ibu kami sedemikian lincahnya dan brutal sebelumnya. Maksudnya, beliau memang energik, sih. Tapi ini sih....

“Xiaolan-dage, itu beneran Bunda kita, kan?” tanyaku setengah tak percaya pada kakak tertuaku itu.

“Kok malah tanya aku? Aku saja kaget dengan kemampuan Moeder yang di luar nalar itu. Maksudku, Moeder kan sudah berumur lebih dari 50, tapi gerakannya itu seperti anak muda!” Kak Bayu terlihat takjub.

Sebentar, deh? Kecepatan gerak Moeder itu lebih seperti Assassin daripada Mage. Dalam sekejap saja, beliau sudah menyapu bersih monster yang ada di area yang baru saja kami masuki ini. Astaga, Moeder lebih mirip Sung Jin Woo versi wanita. Beliau tidak terlihat kesulitan menggunakan belati, seolah sudah sangat pro. Dan samar-samar ... aku mencium aroma darah dari tubuh Moeder. Apa karena inderaku sudah sangat meningkat? Sebelumnya, aku tak pernah mencium aroma tersebut dari beliau.

“Mahardika?” suara lembut Moeder menyentakku ke alam sadar. “Ada apa? Kamu melamun?”

“Ah, tidak apa-apa, Bunda. Apakah Bunda terluka?” tanyaku mengusir kegugupan yang melandaku beberapa waktu lalu.

“Tidak, tapi kedua kakakmu dan juga adikmu sepertinya menghadapi masalah,” Moeder menoleh ke arah yang dimaksud. Aku menghela napas dan meminta Ding Lan untuk menyembuhkan cedera mereka bertiga.

“Kalian kalau mau latihan yang serius, dong. Lawan kita baru monster lemah, lho. Kalau begini, aku nggak yakin bisa terus sampai lantai 28 kastil monster ini,” keluhku saat Ding Lan menyembuhkan luka-luka yang dialami Kak Bayu, Kak Rahmadi, dan Sylva. “Waktu kita di sini adalah 30 hari, yang artinya 1 hari 6 jam kalau di dunia nyata. Kita baru menghabiskan 1 hari di sini dan kalian bertiga sudah setengah teler begini.”

“Kami kan pemula, jangan samakan kami denganmu dan Moeder, dong,” Kak Bayu memprotesku.

“Nggak ada alasan. Aku juga nggak ujug-ujug jadi sekuat sekarang, Dage. Kalian minimal harus bisa beladiri, dong,” aku menyergah ucapan kakak tertuaku.

“Yao-er benar, Dage. Kita kan yang mau ikutan Yao-er latihan, jadi jangan sampai kita menyusahkan Yao-er juga,” Kak Rahmadi membenarkan ucapanku.

“Aku jadi cemas sama kalian bertiga. Bisa lanjut nggak, nih?” tanyaku merasa sedikit hilang harapan.

Mereka bertiga beneran kayak Sung Jin Woo pas masih rank E. Mana yang mereka miliki sama rendahnya dengannya saat itu. Mungkin cuma kisaran 10 atau lebih sedikit dari itu lah. Saat aku tanya pada Ding Lan—karena hanya dia yang bisa mengukur mana, kisaran mana yang mereka bertiga miliki berada di angka sekitar 45. Artinya lebih kuat daripada Sung Jin Woo yang hanya 10 waktu itu. Padahal Sylva memiliki kemampuan shaman yang sama sepertiku, tapi kenapa jumlah mananya bisa rendah, ya? Aku berharap mananya lebih tinggi daripada itu padahal.

Meski begitu, aku akui kegigihan mereka bertiga untuk mengejarku dan Moeder benar-benar luar biasa. Terbukti dengan hasil akhir yang membuatku tercengang. Kak Bayu lebih terampil menjadi healer daripada fighter, meskipun skill bertarungnya mumpuni. Sementara itu, Kak Rahmadi memiliki skill bertarung lebih hebat dari Kak Bayu, sehingga dia dikategorikan sebagai fighter. Dan untuk Sylva, dia lemah dalam serangan jarak dekat. Namun serangan jarak jauhnya sangat jitu dan benar-benar tak bisa diremehkan! Artinya, ia mage bertipe ranger. Yah, rank mereka bertiga masih di kisaran E, sih. Namun, aku maklum karena ini pertama kalinya mereka terjun dalam pertempuran langsung. Walau lawannya monster dan bukan manusia, sih.

Aku penasaran, sebenarnya apa pekerjaan Moeder semasa muda dulu? Gerakannya itu sangat pro, bahkan beliau memiliki kemampuan umbrakinesis juga. Ranknya sudah pasti  S atau lebih dari itu.

Sayangnya, kami ternyata tidak butuh waktu sebulan di dalam dungeon karena sebagian monsternya dibabat habis oleh Moeder. Otomatis kami hanya kebagian sisanya saja. Sehingga baru 2 minggu di dalam dungeon, kami sudah keluar dengan lesu. Kakek William menatap kami dengan keheranan.

“Loh, kenapa muka kalian kucel begitu? Terus, baru 14 jam kenapa sudah beres?” tanya beliau. Moeder sudah beranjak meninggalkan kami dengan alasan ingin segera mandi dan tidur.

“Bunda menghancurkan sebagian besar monsternya seorang diri, makanya—“ jawabku lesu.

“Oh, nggak heran sih kalau Cornelia bisa melakukan itu,” Kakek William nampak tidak kaget mendengar aduanku. “Kalian pasti belum tahu jika Mama kalian adalah Nightmare Princess, kan?”

Mataku melebar mendengar julukan itu. Tentu saja aku tahu. Itu adalah julukan seorang pembunuh bayaran terkenal di Belanda beberapa puluh tahun lalu. Saking mengerikannya, wanita itu dijuluki sebagai Putri Pembawa Mimpi Buruk. Ya, gimana nggak mendatangkan mimpi buruk kalau berhadapan dengannya saja artinya kematian menunggu di depan mata? Yang mengejutkan adalah, ternyata beliau itu adalah ibu kami! Nggak heran juga kalau Moeder bisa menghabisi sebagian besar monster dalam dungeon yang dibuka oleh Kakek William. Ranknya Moeder sudah pasti SS!

“Tapi, kalau Moeder adalah Nightmare Princess, kenapa beliau berhenti? Apakah karena menikah dengan Baba?” tanya Kak Rahmadi penasaran.

“Sebenarnya ia memang berencana berhenti untuk menjadi hitman sebelum bertemu dengan Papa kalian. Hanya saja, ia baru benar-benar berhenti karena permintaan Papa kalian agar Mama kalian tidak membunuh Tuan Linghe,” jawaban Kakek William itu membuat kami semua terkejut.

Moeder pernah ingin membunuh Linghe-yeye? “Kenapa Bunda ingin membunuh Linghe-yeye? Apakah karena beliau tidak menyetujui pernikahan Bunda dengan Baba atau karena ada permintaan khusus dari kliennya?” tanyaku penasaran.

“Sebenarnya Tuan Linghe tidak menyetujui pernikahan Cornelia dengan Xiu Li, alasannya karena ia tak mau keluarga Zhang tercampur darahnya dengan keturunan asing seperti keluarga Van Leeuwen. Bahkan Tuan Linghe menantang Cornelia untuk membunuhnya karena tahu reputasinya sebagai hitman,” Kakek William menghela napas saat menjelaskan hal tersebut pada kami. “Namun, Xiu Li memohon keselamatan nyawa Tuan Linghe di tengah-tengah pertarungan sengit itu. Katanya, tanpa adanya Tuan Linghe ... nyawa semua orang dalam keluarga Zhang akan berada dalam bahaya. Cornelia akhirnya melepaskan Tuan Linghe dengan pertimbangan tersebut dan Tuan Linghe memintanya untuk melahirkan anak laki-laki sebagai pewaris keluarga Zhang dikarenakan anak laki-laki tertuanya, Zhang Xian yang lebih dikenal dengan nama Zhang Hong Tian, tidak berkenan untuk menjadi pewaris keluarga Zhang meskipun ia memenuhi semua kriteria yang ada. Cornelia tidak bisa berjanji, namun ia akan melihat perkembangan ke depannya. Setelah itu, Bayu lahir dan sayangnya ia tidak memenuhi kriteria yang diharapkan oleh Tuan Linghe, sehingga ia tak bisa menjadi pewaris. Dua tahun kemudian, Rahmadi lahir dan ternyata ia juga tak bisa jadi pewaris. Barulah empat tahun setelahnya, kamu—Mahardika, lahir dan ternyata kamulah yang memenuhi kriteria untuk menjadi pewaris. Makanya Tuan Linghe mulai mendidikmu dengan kejam agar kau bisa beradaptasi dengan situasi di keluarga Zhang.”

Aku mendengar Kakek William nampak begitu lelah usai menceritakan semua itu pada kami berempat. Aku tahu bahwa Moeder nggak ingin anak-anaknya mewarisi kemampuan beliau sebagai Assassin, namun sayangnya hal itu ternyata menurun padaku secara alami. Nggak heran juga sih kalau aku bisa membunuh sebegitu brutal saat aku berusia 7 tahun, tapi aku nggak bermaksud menyalahkan ibuku karena hal tersebut. Jika dipikir lagi, Zhihua juga punya sisi gelap yang membenci manusia, kan? Artinya secara tak sadar, hal itu berpengaruh padaku.

Aku duduk di atap rumah pada malam hari, dan merenungi segala hal yang telah kulalui. Aku tak pernah mendengar masa lalu Moeder di dunia lamaku, dan ternyata ada hal seperti itu? Apa karena saat itu aku terfokus pada hal-hal lain dan tanpa sadar mengabaikan sekelilingku?

“Ternyata, aku yang dulu memang tidak pantas jadi kepala keluarga Zhang, ya?” gumamku sambil menunduk lesu. “Apalagi, aku mendapatkan kedudukan itu bukan karena usahaku sendiri. Shuang Lin lah yang membantuku mendapatkan kedudukan itu. Sombong benar aku ini.”

Aku terlalu besar kepala dengan kedudukanku  saat itu, bahkan menganggap semuanya akan beres jika Zhihua yang mengambil alih posisiku sebagai kepala keluarga tanpa menyadari bahwa pemikiranku itu salah. Zhihua sudah lama mati dan dia hanyalah roh tanpa tubuh, aku adalah tubuhnya dan pecahan rohnya. Bisa apa roh tanpa tubuh? Huangyan mungkin adalah tubuhnya , tapi tetap saja tanpa adanya aku ... dia juga tak berdaya. Bagaimanapun Zhihua, aku, Klein, dan Huangyan adalah satu kesatuan. Aku adalah hatinya, jika aku tak ada ... sudah pasti keseimbangan itu akan hancur. Kenapa aku dulu begitu ingin mati, padahal aku tahu bahwa sekelilingku akan menderita tanpa adanya aku? Kenapa aku ingin satu orang bahagia, namun aku mengorbankan kebahagiaan semua orang di sekelilingku?

Sekarang, Zhihua sudah tidak ada. Klein juga. Namun, reminisensi mereka tertinggal dalam relung otakku. Pecahan jiwa mereka sudah melebur denganku, begitu pula ingatan mereka. Meski demikian, butuh waktu untukku agar aku bisa mempelajari ingatan dari Zhihua ataupun Klein. Bagaimanapun, aku ini reinkarnasinya Zhihua, kan? Meski dalam prosesnya jiwa Zhihua pecah jadi empat dan berdiri sendiri di dunia lamaku.

“Sudahlah, tidak ada waktu untuk menyesali apa yang sudah terjadi. Aku harus berusaha memperbaiki segalanya sebelum semuanya terlambat. Dengan begitu, aku bisa memimpin keluarga Zhang dengan baik. Aku tak akan mengulang kesalahan yang sama seperti di masa lalu,” kataku dengan penuh tekad.

Bulan Februari 2022, semua persiapanku sudah beres dan aku berangkat dengan delapan orang lainnya dalam ekspedisi alam gaib menuju ke desa terpencil di Jawa Timur. Pimpinan ekspedisi ini adalah Mbah Setyo Pranoto, seorang shaman yang sudah terkenal di seantero pulau Jawa akan kehebatannya. Kalau dihitung denganku, totalnya ada 6 laki-laki dan 3 perempuan. Aku mengernyit saat melihat seorang pemuda kisaran usia SMA ikut dalam ekspedisi ini. Penampilannya terlihat seperti Sung Su Ho, anaknya Sung Jin Woo dan Cha Hae In. Saat kutanyakan pada Mbah Setyo mengenai identitasnya, beliau menjawab bahwa namanya adalah Kencana—Fransiscus Xaverius Michael Kencana untuk lengkapnya, usianya 18 tahun dan katanya baru lulus SMA Mei 2021 lalu. Astaga, usianya cuma beda  4 tahun dariku dan dia ikutan ekspedisi ini? Apa dia bercanda?

Sepertinya dia mendengar percakapanku dengan Mbah Setyo, sebab Kencana menghampiriku dan mengajukan protes padaku. “Sebentar, Kak. Apa maksudmu dengan anak kecil? Aku sudah membaca persyaratan ekspedisi ini dan hanya dikatakan perempuan atau laki-laki yang sudah akil balig dan memiliki kekuatan batin boleh ikut, tidak ada kalimat ‘hanya yang berumur di atas 20 saja yang boleh ikut’!”

Aku menatapnya dalam-dalam, dan bertanya. “Apa kau pernah berpartisipasi dalam ekspedisi seperti ini sebelumnya?”

“Kalau ekspedisi resmi, ini baru pertama kalinya,” jawab Kencana. “Tapi, aku  sering berhubungan dengan makhluk gaib dan sebangsanya. Jadi, jangan anggap remeh aku!”

“Oke, apa pekerjaanmu selain pelajar?” aku jadi semakin ingin tahu tentang identitas pemuda yang penampilannya seperti Sung Su Ho ini.

“Petarung MMA, dan aku yang terbaik di Indonesia,” jawabnya tanpa ragu dan membuatku tercengang seketika.

“Hah? Serius lo?” beneran deh, itu fakta yang membuatku benar-benar kaget.

“Kenapa sekaget itu? Kakak hanya menilaiku dari penampilan luar saja kah?” alisnya Kencana terlihat mengernyit. “Begini-begini, aku menguasai  45 jenis beladiri dari seluruh dunia.”

Oke, aku memang salah karena hanya memandangnya sebelah mata. Tak kusangka jika dia bukanlah bocah biasa. Harusnya aku ingat nama itu, Kencana dikenal dengan nama Petarung Tubuh Besi Mike di dunia MMA. Disebut demikian karena dia memiliki kekuatan tubuh yang luar biasa dan tak tertandingi seolah tubuhnya terbuat dari besi. Tapi, aku nggak nyangka kalau dia berpartisipasi juga dalam ekspedisi ini.

Aku mengevaluasi para partisipan ekspedisi ini. Mbah Setyo sudah pasti Rank A, ‘Su Ho’ alias Kencana di Rank B, Indira Saputri di Rank B, Lendra Oktaviano, Gito Kurniawan, aku dan Mariska Anggraeni di Rank C, sementara Galih Saputro dan Niken Pramita di Rank D. Meski mana-ku berada di Rank B, dengan kekuatan tubuhku yang sekarang tetap saja aku masih di Rank C. Nasib amat!

Tapi, sepanjang perjalanan menuju desa Penari ... aku kok merasakan ada yang aneh, ya? Seperti ada yang mengawasi. Kami disambut hangat di desa oleh Pak Batara sang kepala desa dan beliau mewanti-wanti kami agar tidak melewati gapura yang membatasi desa dengan hutan Tapak Tilas. Lalu keanehan demi keanehan dimulai, ‘Su Ho’ bilang kalau dia melihat makhluk hitam bersama dengan Lendra  saat hendak mandi di malam pertama. Lalu di malam kedua, Mariska kerasukan dan memperagakan tarian Jawa. Namun saat ia sadar, ia sama sekali nggak merasa telah melakukannya. Yang aneh adalah ... aku merasakan pusing sejak menapaki kaki di desa ini dan sering dihantui wanita yang mengenakan pakaian tari Jawa yang memintaku untuk menemuinya di Tapak Tilas. Perempuan dalam mimpiku itu memikatku dengan berbagai muslihat, meski aku menolaknya mentah-mentah. Pak Batara lantas menyuruh kami berempat menemui Mbah Buyut yang merupakan dukun desa pada hari keempat dan kami disuguhi secangkir kopi.

“Mbah, apa nggak masalah menyuguhkan kopi manis begini?” tanyaku seusai meneguknya dua kali.

“Kopinya enak banget, Mbah. Manis dan legit,” timpal Mariska.

Lendra dan ‘Su Ho’ menatap kami berdua dengan keheranan. “Kak Dika, Mbak Maris, kopinya pahit banget, loh. Indera perasa kalian kenapa?” tanya Kencana alias si ‘Su Ho’ dengan wajah bingung.

“Hah? Beneran, Su Ho?” aku malah kaget dan kelepasan manggil Kencana dengan nama itu.

“Su Ho siapa?! Aku Kencana, oi! Bukan anggota EXO!” protes Kencana dengan kesal.

Aku dan Mariska lantas menoleh ke arah Mbah Buyut dan bertanya apakah benar yang dihidangkan ke kami adalah kopi pahit? Dan beliau mengatakan itu memang benar. Alasan kami merasakannya sebagai kopi manis adalah karena kami sedang diincar oleh makhluk halus. Aku menghela napas. Ini apaan lagi, dah? Ekspedisi alam gaib tapi praktisinya malah disukai makhluk halus? Capek deh.

Sepulangnya dari rumah Mbah Buyut, aku berdoa dan membaca Alkitab di kamarku. Kencana juga ikut berdoa karena kepercayaan kami sama. Sebenarnya kami sekamar berenam, namun empat yang lainnya sedang keluar untuk sholat di mushola. Dua hari kemudian saat kami berdua selesai berdoa pada rembang petang, Kencana menarik ujung jaketku dan berbisik.

“Kak Dika, kok di bawah tempat tidurnya Mas Galih ada sesajen, ya?” aku langsung melongok ke arah yang disebutkan oleh Kencana dan mengernyit saat melihat adanya benda tersebut di sana.

“Buat apaan sesajen ginian? Bukannya dia muslim?” tanyaku keheranan.

Kencana menggeleng dan mengangkat bahu, pertanda kalau dia nggak tahu. “Tapi, Kak. Aku pernah mergokin kalau ada suara perempuan mendesah di kamar, tapi pas aku cek cuma ada Mas Galih aja. Terus ya Kak, kok sejak masuk ke desa ini ... Mas Galih jadi pendiam gitu.”

Aku mulai terbit rasa curiga dan akhirnya memanggil hantuku. ”Yelan,” wanita Jawa itu segera menampakkan diri di hadapanku. “Buntuti Galih, tapi jangan sampai ketahuan. Setelah itu, lapor padaku.”

Yelan segera mengikuti perintahku dan aku menoleh ke arah Kencana yang nampak takjub. “Kamu kenapa?”

“Keren! Itu hantu summonnya Kak Dika? Kok cantik banget?” entah kenapa dia jadi seperti bocah autis yang penasaran dengan segala hal.

“Su Ho, jangan berisik. Itu Yelan,hantu pelayanku. Ceritanya panjang, dan yang jelas dia akan terus melayaniku sampai aku bilang ia boleh istirahat serta melepas nama yang kuberikan,” jawabku tanpa ragu.

“Sudah kubilang, aku bukan Su Ho EXO!” protes Kencana dengan wajah merengut. “Kenapa hantu yang diberi nama harus menuruti majikannya?” tanyanya penasaran.

“Itu adalah belenggu serta sumpah setia untuknya. Sekali dilekatkan nama tersebut, apapun yang diperintahkan padanya tak boleh dibantah. Tapi, ada kalanya aku tak memberikan nama pada hantuku, meskipun mereka tetap tak bisa membantahku sebagai majikan mereka,” jelasku panjang lebar.

“Ooh, begitu. Aku pernah dengar kalau kamu itu shaman, tapi memiliki kemampuan kontraktor juga, ya?” tanya Kencana lagi, entah kenapa dia sangat penasaran tentangku.

 “Lebih tepatnya, aku ini necromancer,” kataku sambil berdiri dari tempatku duduk. “Aku mau cari Mbah Setyo, kamu mau ikut?”

Kencana mengangguk dan kami berpapasan dengan Mariska yang sepertinya baru selesai sholat. Gadis berhijab itu nampak bingung. “Kamu kenapa, Mar?” tanyaku dengan alis mengernyit.

“Mas Erlangga, Mas Kencana, ada yang aneh sama desa ini,” Mariska mulai bertutur. Aku memberi isyarat padanya untuk duduk di dipan, dan dia menuruti. Aku dan Kencana duduk berhadapan dengannya. “Aku sering dihantui perempuan yang memakai pakaian tari Jawa, terus aku sering tak sadarkan diri. Aku nggak tahu kenapa. Lalu kayaknya ada yang aneh sama Mas Galih dan Mbak Niken.”

“Niken? Kenapa dia dengan Galih?” aku mulai terbit rasa curiga.

“Nggak tahu, Mas. Tapi, firasatku mengatakan mereka melakukan sesuatu yang aneh,” jawaban Mariska itu membuatku refleks memejamkan mata untuk melihat apa saja yang dilihat oleh Yelan. Kebetulan hari juga sudah beranjak malam, seharusnya ini memudahkanku untuk tahu apa saja yang dilihat oleh hantuku yang bertugas sebagai informan itu. Aku tercengang saat mengetahui apa yang baru saja kulihat melalui mata Yelan dan mendadak membuka mataku. “Mas Erlangga? Kenapa, Mas?” Mariska nampak bingung dan takut. “Mas melihat sesuatu?”

“Niken dan Galih, mereka ... berzina di sendang (tempat mandi) yang ada di Tapak Tilas,” aku memijat pelan pelipisku. Sial, kenapa juga aku harus melihat yang kayak gituan? “Dan sebelumnya, mereka bertengkar mengenai gelang yang harusnya diberikan padamu.”

“Gelang?” Mariska nampak pucat. “Gelang apaan, Mas Erlangga?”

“Nggak tahu,” aku menggeleng. “Kepercayaanku berbeda denganmu, jadi aku hanya meminta agar kamu berdoa pada Tuhan agar diberikan perlindungan. Kalau bisa, aku inginnya memberikanmu mantera perlindungan.”

“Mas Erlangga, nggak boleh ngasih yang kayak gituan ke aku!” Mariska cemberut.

“Iya, iya, nggak kok!” aku tertawa canggung.

Keesokkan harinya, sekitar jam 12 siang ... “Loh? Ada apa, ya? Kok di luar ribut banget?” aku mendengar suara kerumunan orang di luar rumah.

 Aku, Kencana, dan Mariska segera menuju ke luar rumah dan ternyata penduduk sudah berkumpul di depan rumah joglo yang kami tempati. Mereka menuding ke arah Mariska dan berkata.

“Itu dia ular yang dilihat sama Pinem dan Gatot!”

“Bunuh dia!”

“Bakaar!”

Aduh, kenapa jadi rusuh begini? Bagaimana cara menenangkan mereka? Apa Mariska diguna-guna oleh Badarawuhi sehingga terlihat seperti ular di mata para penduduk?

“Sebentar, bapak-bapak. Ibu-ibu. Mas, Mbak. Mbak Mariska ini manusia, bukan ular jadi-jadian atau semacamnya. Baca istigfar sebelum menuduh,” Kencana mencoba menenangkan para warga yang mulai ribut.

“Alaaah, kalian kan pendatang! Sebelum kalian datang, nggak pernah terjadi yang aneh-aneh!” salah satu warga menyergah ucapan Kencana.

Aku harus bagaimana, ya? Aku ingin membantu Kencana bicara, tapi masalahnya ... aku nggak bisa bahasa Jawa halus! Untungnya sebelum terjadi hal nggak diinginkan, Pak Batara turun tangan dan memberi pengertian pada para warga. Setelah warga bubar, Pak Batara meminta kami untuk segera menyudahi kegiatan ekspedisi alam gaib ini. Namun, Mbah Setyo dengan tegas mengatakan tak akan menyudahi sebelum berhasil membersihkan tempat ini dari teror makhluk halus alias para jin yang iseng.

“Saya setuju dengan Mbah Setyo. Kami tak boleh mundur sebelum menyelesaikan tugas kami,” aku menimpali ucapan Mbah Setyo.

“Terserah ya, Pak. Mas. Kami sudah memperingatkan. Kalau ada apa-apa, jangan salahkan kami,” Pak Batara nampak sedikit berang dengan kekeraskepalaan kami dan meninggalkan kami.

“Mar, kamu di sini saja sama Kencana. Aku mau menemui Galih dulu,” kataku pada Mariska sebelum beranjak. “Oh ya, sebelum lupa...” aku baru ingat sesuatu. “Ding Lan,” panggilku pada hantu penyihir itu dan ia segera muncul di hadapan kami. “kamu temani Kencana dan Mariska, lindungi mereka berdua dari apapun, oke?”

Ding Lan mematuhi perintahku dan Mariska nampak takjub. “Makhluk summon yang terlihat seperti manusia? Kamu punya yang semacam itu juga, Mas Erlangga?”

“Errr, nanti akan kujelaskan kalau semua ini sudah beres, ya?” janjiku pada gadis berhijab itu.

Aku mengetuk pintu kamar sebelum masuk dan melihat Galih meletakkan sesajen baru di bawah kolong tempat tidurnya. “Aku dengar dari Kencana, katanya ada suara perempuan di kamar dan aku serta dia menemukan sesajen itu di bawah ranjangmu kemarin. Kamu juga sering menghilang saat hari beranjak malam, Galih. Katakan, apa yang sedang kamu lakukan?” tanyaku tanpa basa-basi saat melihatnya nampak tergeragap ketika aku menangkap basah dirinya melakukan hal-hal tak wajar.

“Demi Allah, Rasulullah, Erlangga. Aku nggak bermaksud melakukan ini semua, aku—“ Galih nampak bingung saat memberikan penjelasan.

“Nggak usah bawa-bawa Allah dan utusan-Nya!” bentakku walau aku non-muslim. “Kamu sudah melakukan hal-hal yang melanggar ketentuan agamamu! Ngapain kamu naruh sesajen, terus melakukan hal-hal yang tak sepantasnya di hutan larangan itu?” aku mencecarnya dengan pertanyaan. “Katakan, apa perempuan berbaju tarian Jawa itu yang menemuimu? Lalu dia juga yang menyuruhmu melakukan ini?”

Galih mengangguk dan bercerita kalau ia didatangi perempuan bernama Dawuh dalam mimpi dan memintanya untuk mendatanginya di pendopo yang ada di Tapak Tilas setiap malam untuk bercinta dengannya sebagai jaminan untuk keselamatan Mariska. Sebab Dawuh melilitkan ular pada Mariska dan menyuruhnya untuk memberikan gelang sebagai jimat untuk keselamatan Mariska. Bahkan, Galih tak bisa menahan hasratnya untuk menggauli Niken di tempat angker itu. Aku mendengus dan mencibir.

“Kau bodoh, ya? Bisa-bisanya diperdaya oleh jin? Padahal kamu muslim, dan kamu tahu hukumnya seperti apa, kan? Aku memang Katolik, tapi aku tahu kalau perbuatanmu itu salah besar dalam ajaran muslim. Aku nggak ngerti, apa sebenarnya tujuanmu untuk mengikuti ekspedisi ini? Untuk menyalurkan hasrat bejatmu, kah? Atau ingin mengikuti ajaran sesat Dawuh?”

“Aku nggak bermaksud begitu, Er. Demi Tuhan. Aku sendiri nggak tahu kenapa aku nggak bisa menolak ajakan Dawuh, dan dia memintaku untuk memberikan gelang mustika pada Mariska, walaupun Niken menolak keras untuk memberikannya padanya. Aku baru dengar hari ini dari Mbah Setyo kalau nggak tahunya baik Mariska maupun kamu diincar makhluk halus, aku nggak tahu lagi harus berbuat apa sekarang,” Galih nampak terpojok sekarang.

“Nggak usah khawatir soal aku, aku bisa mengatasi ‘mereka’. Yang jadi masalah itu Mariska, dia memang bisa mengatasi makhluk gaib ... tapi kalau lawannya perempuan bernama Dawuh itu ... dia nggak mungkin bisa menang,” aku menghela napas panjang. “Aku nggak menyarankan kamu bawa jimat penangkal atau semacamnya, tapi aku sarankan kamu banyak-banyak baca doa dan tobat sebelum terlambat.” Aku beranjak dari kamar dan bermaksud meninggalkan Galih. “Aku katakan ini demi kebaikanmu, Galih. Jika kamu terus menemui Dawuh, kamu nggak akan selamat nantinya.”

Aku membongkar inventarisku dan membuat barang gaib dengan bahan-bahan yang ada. Kalau mau menggempur kediamannya Dawuh alias Badarawuhi itu, aku harus mempersiapkan segalanya dengan matang kan? Aku baru selesai crafting keesokkan harinya dan sedikit lelah karena menghabiskan mana untuk membuat semua ini.

“Kak Dika,” Kencana menemuiku di ruangan dekat dapur tempatku melakukan crafting. “Kakak sedang apa? Lalu itu barang-barang apa?”

“Oh ya, kamu baru melihat ini ya, Su Ho?” aku mengabaikan protesan darinya yang sudah kudengar berkali-kali saat aku memanggilnya begitu. “Ini salah satu keterampilanku, membuat barang-barang sihir berkualitas tinggi dan tentu saja untuk membuatnya membutuhkan mana yang tidak sedikit.” Aku mengambil potion pemulih mana dari Huaniang dan menenggaknya hingga habis. “Kau mungkin butuh ini, jadi pakailah.” Aku memberikan mantel penyembunyi aura dan pedang suci tempaan terbaruku yang disebut sebagai Excalibur pada Kencana.

“Aku belum pernah pakai pedang sebenarnya, tapi okelah,” Kencana agak ragu saat menerima barang-barang itu dariku. “Kak Dika di luar dugaan memiliki skill crafting yang mumpuni, ya? Apa nggak ada senjata berbentuk knuckle?”

“Ada, tapi kau harus berhati-hati saat menggunakannya,” aku memberikan knuckle terkutuk yang disebut sebagai Berserk. “Mana-ku cukup untuk mengendalikannya, tapi tidak dengan kekuatan tubuhku. Mungkin ini lebih berguna untukmu ketimbang aku dalam menggunakannya saat bertarung.”

“Kakak tipe mage sih, ya? Kayaknya wajar kalau sampai bilang begitu,” komentar Kencana yang terdengar seperti sebuah keluhan. “Kalau gabungan tipe fighter sepertiku, pasti bisa memakai senjata semacam ini.”

“Jangan meledekku ya, bocah!” omelku sambil menjitak kepalanya dan segera kusesali karena kepalan tinjuku terasa sakit! Anjir, kepalanya kayak batu! Keras banget! “Aku tipe mage sekaligus assassin. Jadi paling nggak, aku bisa mengatasi kerumunan musuh. Cuma kalau hand to hand combat, aku agak kurang. Ya, kamu tahulah!”

“Kak, aku mau tanya sesuatu yang agak pribadi,” Kencana tiba-tiba terlihat sangat serius dan membuatku sedikit takut. “Hantu-hantu yang kamu summon itu ... apa semuanya berasal dari manusia yang sudah meninggal?”

Mataku sedikit membulat saat mendengar pertanyaan itu. “Bagaimana kamu bisa tahu?”

“Karena hantu-hantu yang kamu miliki terasa familiar wajahnya, makanya aku sempat searching dan ternyata dugaanku tepat,” jawab Kencana segera. “Kalau nggak salah, kamu sempat bilang kalau kamu itu necromancer tapi masa sih kamu—“

“Aku nggak ngebunuh Yelan ataupun Ding Lan saat mereka masih hidup, mereka meninggal saat menjalankan tugas ekspedisi bersamaku,” aku memotong kalimat Kencana dan mematahkan keraguannya. “Hantu memiliki empat peringkat yaitu Malice, Menace, Wrath, dan Supreme. Tapi, mereka biasanya dikategorikan sebagai iblis atau roh jahat. Sementara hantu pelayanku tidak dikategorikan ke dalam empat yang kusebutkan, meski mereka memiliki kemampuan setara. Ding Lan setara dengan Wrath, sementara Yelan setara dengan Malice. Hantu dengan peringkat Wrath dan Supreme bisa menyamar menjadi manusia, namun hanya yang berperingkat Supreme lah yang sempurna dalam penyamaran.” Aku mengernyit saat melihat Kencana melongo mendengar penjelasan panjangku. “Kamu kenapa? Apa penjelasanku susah dimengerti?”

“Bukan, Kak. Hanya saja, itu bukannya peringkat hantu dalam kepercayaan Tiongkok, ya? Terus, kok nama-nama hantumu pakai nama Cina semua? Padahal mereka nggak ada tampang Cina samsek,” Kencana menggaruk pelipisnya dan nampak bingung.

“Aku kan Chindo, jadi wajar kalau tahu soal begituan,” aku menghela napas saat menjelaskannya pada ‘Su Ho’ di dekatku ini. “Aku kasih nama Cina karena menurutku itu lebih mudah dilafalkan olehku. Apa menurutmu aneh?”

“Aneh sih nggak, hanya kedengeran unik?” Kencana agak ragu saat mengucapkan hal tersebut.

Aku tertawa canggung. “Artinya aku aneh, kan?”

“Erlangga,” Indira memanggilku dari ambang pintu ruangan yang kupakai. “Boleh kita bicara sebentar?”

“Ngomong aja di sini kalau bukan rahasia, Ndi,” kataku pada Indira. “Soal apa?”

“Aku menemukan selendang warna hijau di tasnya Niken, terus tiba-tiba Niken kerasukan dan mengatakan kalau aku nggak boleh ikut campur,” Indira mulai bercerita padaku dan Kencana setelah ia duduk di dipan yang ada di ruangan yang kupakai ini. “Terus, kata Mariska ... aku kerasukan dan bilang ke Mariska kalau ada yang nggak selamat di antara kita. Pas aku siuman, aku menemukan gelang di tasnya Mariska. Aku nggak tahu itu gelang apaan, makanya aku mau kamu mengeceknya. Kamu ahli soal barang-barang semacam ini, kan?” Indira mengeluarkan sebentuk gelang yang sepertinya terbuat dari emas dari buntelan kain kecil yang dibawanya dan memberikannya padaku.

Aku segera memeriksanya setelah menerima gelang tersebut dari Indira dan beberapa saat setelah selesai memeriksanya, aku terkejut karena aku tahu gelang milik siapa yang ditunjukkan oleh Indira padaku ini. “Indira, Niken sama Mariska ke mana sekarang?” tanyaku sambil kembali membungkus gelang itu dengan kain.

“Mereka ada di kamar, kenapa memangnya?” Indira malah bertanya balik.

“Itu gelang milik Dawuh,” jawabku. “Niken yang meletakkan gelang itu di tasnya Mariska.”

“Tapi, kenapa?” Kencana yang juga mendengarkan bertanya kaget. “Kok Mbak Niken meletakkan benda terkutuk itu di tasnya Mbak Maris?”

“Mungkin Niken juga sudah diperdaya oleh Dawuh,” kataku dengan pasti. “Kencana, tolong bilang pada Mbah Setyo untuk bersiap malam ini. Indira, kamu tolong jaga Mariska dan Niken.”

“Oke, tapi kenapa kita nggak ngajak Mas Gito dan Mas Lendra juga, Kak? Terus Mas Galih gimana?” tanya Kencana.

“Nanti aku akan bilang ke mereka untuk berjaga saja di desa, kalau Galih kemungkinan dia akan menemui Dawuh lagi di Tapak Tilas,” kataku dengan pasti.

“Hah? Ngapain Mas Galih nemuin perempuan itu di hutan angker itu, Erlangga? Terus, kenapa aku disuruh jagain Niken sama Mariska? Kamu, Kencana, dan Mbah Setyo mau ngapain?” tanya Indira sambil tercengang-cengang.

“Kalau dugaanku benar, mungkin yang dimaksud oleh sosok yang merasukimu itu—tentang yang nggak selamat di antara kita itu, adalah Galih dan Niken. Mereka sudah melanggar pantangan di desa ini,” jawabku sambil mengemas barang-barang untuk hunting nanti malam. “Kamu bisa menjaga Mariska dan Niken dari gangguan jin kan, Ndi?”

“Soal itu aku bisa saja melindungi mereka dari gangguan jin, hanya saja aku nggak berdaya juga kalau yang melakukan adalah jin dengan ilmu tinggi, Er,” kata Indira dengan lesu.

“Paling tidak, kamu menunjukkan kalau kamu ada usaha untuk melindungi mereka nanti,” aku menepuk pundak Indira. “Aku mempercayai kemampuanmu!”

“Aku akan berusaha,” kata Indira sambil menggenggam tasbihnya erat.

Malamnya, aku bersama Kencana dan Mbah Setyo bergerak menuju Tapak Tilas. Saat sedang berjalan, aku memejamkan mataku dan melihat melalui mata Yelan bahwa Galih juga bergerak ke Tapak Tilas. Aku membuka mataku dan menghela napas. Dugaanku benar bahwa Galih menemui Dawuh lagi.

Aku tersentak saat mendapati kami bertiga dikelilingi oleh makhluk-makhluk berwarna hitam. Aura jahat yang mereka pancarkan membuatku merasa tercekik dan suasana yang tak menyenangkan ini....

“Mahardika,” suara bariton Mbah Setyo mengejutkanku. “Ayo.”

“Baik!” aku segera mengeluarkan Mysteltainn dan bersiap untuk menyerang para makhluk yang mengepung kami. Kencana sudah bersiap dengan Berserk, sementara Mbah Setyo bersiap melantunkan doa-doa pengusir jin dan setan.

Bersama Kencana, aku membasmi makhluk-makhluk itu dengan senjata kami. Entah kenapa semakin kami masuk ke dalam Tapak Tilas, semakin berat udaranya. Lalu, tiba-tiba terdengar suara berisik ditingkahi suara-suara seperti tangisan. Aku tercengang saat melihat wanita-wanita muda—yang sepertinya berasal dari desa sebelah, tengah digiring oleh makhluk-makhluk berwujud setengah manusia setengah ular entah menuju ke mana.

Kencana segera merangsek ke arah gerombolan itu dengan senjatanya dan mengabaikan peringatanku untuk tidak gegabah. Dengan kekuatannya yang luar biasa, dia bisa menghancurkan pasukan jin itu hanya dengan beberapa pukulan. Kemampuan bertarungnya memang luar biasa, walau mana yang dia miliki tak sebanyak Mbah Setyo. Setelah makhluk-makhluk itu selesai dibasmi oleh Kencana, aku dan Mbah Setyo melepaskan tali yang mengikat para gadis.

“Kalian sudah aman sekarang,” kataku sambil memastikan apakah mereka mengalami luka atau tidak.

“Terima kasih, Mas,” kata salah seorang gadis sambil berulang kali menyalamiku.

“Erlangga! Kencana! Mbah Setyo! Gawat!” suara Indira mendekat dan terdengar panik.

“Ada apa?” tanya Mbah Setyo segera.

“Mas, Mas Galih mendadak menghilang dan Mariska pergi mengejarnya. Lalu Niken, Niken...” Indira nampak kesulitan untuk bercerita.

“Mbak Niken kenapa, Mbak Indira?” tanya Kencana tak sabar.

“Niken sekarat!” perkataan Indira itu membuat kami terkesiap.

“Sekarat? Sekarat gimana maksudnya, Ndi?” aku mengguncang bahunya gadis berambut pendek itu dengan panik.

“Kata Mbah Buyut, roh Niken dibawa pergi ke dunia jin yang disebut Angkoromurko dan beliau—“ sebelum Indira selesai bercerita, tiba-tiba saja ada serangan yang menuju ke arahnya.

“AWAS!” dengan segera, Kencana menghalangi serangan itu dan otomatis mengenai dirinya. Aku menebas makhluk yang menyerang itu dengan pedangku. “Mbak Indi nggak apa-apa?” tanya Kencana dengan tubuh bersimbah darah.

“Kencana, kenapa kamu melindungiku? Lukamu harus segera dioba—eh?” Indira nampak kaget karena darah di tangannya perlahan berubah menjadi ungu, pertanda bahwa luka Kencana  tercampur dengan racun.

Kencana memuntahkan darah segar dari mulutnya. “Aku nggak nyangka kalau itu serangan beracun, Mbak. Tadinya kupikir, aku bisa menahannya dengan tubuhku. Sepertinya aku kelewat sombong dengan julukan ‘Petarung Tubuh Besi’, ya?” ia terkekeh lemah. “Tapi, aku ... aku nggak mau mati. Aku harus bisa tetap hidup, karena ada yang ingin kulakukan. Aku—“ darah keluar lagi dari mulutnya dan kali ini berwarna kehitaman. “—nggak mau mati.” Seusai berkata demikian, napasnya terhenti untuk selamanya.

Indira menjerit keras dan wanita-wanita yang tadi digiring oleh jejadian setengah ular itu menangis tersedu-sedu. Mbah Setyo mengheningkan cipta dan mulutnya berkomat-kamit melantunkan doa. Kencana, kamu meninggal karena melindungi seseorang dan gugur sebagai pahlawan. Tapi, kenapa aku merasakan kesedihan besar darimu? Apakah kau memiliki sebuah penyesalan?

Aku bergerak mendekati tubuh kaku Kencana dan berkata. “Maaf, aku tak bisa menghidupkanmu lagi, Kencana. Tapi, aku hanya bisa melakukan ini untuk mengabulkan keinginanmu....” aku memejamkan mataku perlahan dan membukanya kembali sebelum berujar. “Arise.”

Tiba-tiba sekelilingku gelap. Apa terjadi sesuatu saat aku mengekstraksi jiwanya? Aku tidak merasakan apa-apa. Lalu berbagai kejadian berkelebat di depan mataku. Sepertinya itu adalah masa lalu dan ingatan Kencana. Papa dan Mamanya mengabaikannya dari titik ia menginjak usia 7 tahun dan itu membuatnya menjadi anak yang suka berkelahi. Meskipun ia tidak hidup serba kekurangan, namun ia begitu menginginkan kehangatan keluarga. Kencana lalu mulai mengikuti kelas MMA dan menjuarai berbagai turnamen dengan harapan Papa dan Mamanya memberikan apresiasi padanya dan kembali mencurahkan perhatian padanya, tapi—

“Oh, aku kembali ke tempat semula,” gumamku saat menyadari sekelilingku telah normal kembali. Kemudian, aku melihat sebentuk asap hitam keluar dari jasad Kencana dan membentuk sosok hantu dari pemuda tersebut. Berbeda dengan hantuku yang lain pada saat baru menjadi hantu, sosok Kencana terlihat lebih jelas dan menapak di tanah. Hampir tak ada bedanya dengan dirinya saat masih hidup, hanya saja—kulitnya lebih pucat daripada sebelumnya. “Kukira gagal.”

Perlahan Kencana membuka matanya dan dia bertanya padaku. “Kak Dika, apakah kamu berhasil menyembuhkan luka-lukaku?” mataku melebar demi mendengar pertanyaan itu. Apakah Kencana berpikir dia masih hidup? Matanya lalu tertuju ke arah tubuh yang berada di pangkuan Indira, sementara gadis-gadis ang tadi di selamatkannya menatapnya ngeri. “Kak Dika, itu tubuhku, kan? Kalau begitu, aku—“ dia menatap kedua tangannya sendiri. “—sudah mati?” aku bisa melihat ekspresi syok tergambar di wajahnya.

Gawat! Kalau sampai dia histeris dan tidak menerima kematiannya sendiri, dia bisa jadi roh jahat dan mana-nya yang masih murni itu akan tercemar! Itu lebih buruk, karena sama saja aku menciptakan Xuan Bian jilid dua!

“Kencana! Tolong tenang! Kuasai dirimu dan jangan panik! Kamu tidak boleh menjadi hantu pendendam!” seruku segera pada hantunya Kencana sebelum dia terkontaminasi.

“Apakah ... kamu yang mengubahku menjadi hantu pelayanmu, Kak Dika?” pertanyaan itu membuatku seketika membeku, namun aku menganggukkan kepalaku sebagai ganti jawaban. “Kamu nggak bisa menyembuhkan lukaku, kah?”

“Aku nggak bisa menyembuhkan lukamu karena terlalu parah dan juga kamu sedang sekarat. Aku nggak bisa menghidupkan orang mati juga, maka yang bisa kulakukan untukmu hanya itu,” jawabku kelu. “Maaf, mungkin kamu nggak berkenan menjadi hantu. Aku janji, aku akan mengembalikanmu ke alam barzakh saat kamu menyelesaikan apa yang menjadi penyesalanmu.”

“Tidak, kamu tak perlu melakukan itu untukku,” suaranya tak lagi terdengar bergetar, namun tegas dan penuh kesungguhan. “Aku akan mengabdi padamu dan membantumu. Sampai kapanpun, aku akan selalu bersamamu, Kak Dika—bukan, Tuan Muda.”

Aku menghela napas dan berujar padanya. “Kalau begitu, mulai hari ini kamu adalah Lan Fan.” Seusai aku berkata demikian, warna kulit Kencana berubah menjadi sama seperti saat dia masih hidup dan tidak lagi pucat. Auranya pun menguat dan dia benar-benar tidak nampak seperti hantu!

Aku menatap ke arah Indira dan berkata. “Ndi, kamu bawa jasad Kencana ke rumah Pak Batara, kami akan menyusul Mariska. Lalu Mbak-Mbak sekalian, silakan ikuti Indira. Besok pagi, kami akan antar kalian ke desa tempat kalian tinggal.”

“Erlangga, kamu sebenarnya melakukan apa ke Kencana? Kamu itu sebenarnya siapa?” tanya Indira dengan tergeragap.

“Aku anggota keluarga Zhang, dan seorang necromancer. Yang kulakukan padanya adalah mengekstrasi jiwanya dan menjadikannya hantu pelayanku,” jawabku tanpa menutup-nutupi lagi. “Ayo, Mbah Setyo, Lan Fan. Kita berpacu dengan waktu saat ini.”

Kami bertiga segera beranjak ke tempat di mana Mariska berada dengan melacak auranya. Di luar dugaan, Lan Fan memiliki kemampuan semacam itu jadi mempermudah kami untuk mencarinya. Pencarian kami berakhir di sebuah pendopo terbengkalai yang di sana tengah diselenggarakan pentas tarian Dawuh. Mbah Buyut, Mariska, dan Niken ada di sana. Niken tengah menari dengan anggunnya sambil menangis, sementara Mariska nampak tengah dipegangi oleh orang-orang di pendopo itu. Mbah Buyut tengah berseru pada seseorang di depannya. Wanita berpakaian tarian Jawa berwarna hijau yaitu Dawuh alias Badarawuhi.

Kami bertiga sampai di pendopo dan aku merangsek maju ke depan. Aku melepaskan Mariska dari cengkeraman ‘orang-orang’ itu. Lalu aku menatap elang jin wanita yang menatapku penuh minat.

“Kamu wangi sekali, cah bagus. Aku sangat menantikan laki-laki sepertimu,” kata Badarawuhi dengan ayunya dan membuatku sedikit muak. “Sayangnya kamu tidak bisa menjadi Dawuh, padahal kalau kamu wanita—“

“Nyarita naon sia, koplok?!” umpatku dalam bahasa Sunda.

“Tuan Muda,” Huaniang menatapku dengan pucat. “Jangan ngomong kasar sama perempuan!”

“Tetap di sini ya, cah bagus?” tangannya Badarawuhi terulur ke arahku dan bermaksud untuk mengusap wajahku.

Aku menepisnya dan mengacungkan pedangku. “Bermimpilah.”

“Tuan Muda, biar aku yang menghadapinya!” Kencana yang sekarang sudah bernama Lan Fan, maju ke depan dan memasang kuda-kuda tempur.

“Kau baru menjadi hantu, apakah kau memiliki kekuatan untuk menghadapi Dawuh?” tanyaku sedikit sangsi pada Lan Fan. Namun tatapan mata Lan Fan mengatakan seolah ia sangat yakin, sehingga aku akhirnya memberikan buff padanya. “Baiklah, Lan Fan. Kalahkan dia. Ini perintah.”

Mana milik Lan Fan meningkat dan pertarungan antara sang ratu ular dengan hantuku itu berlangsung sengit. Aku melihat Mbah Buyut nampak terpaku melihatku berdiri di depan Mariska sambil tetap mengacungkan Mysteltainn. Sementara Mbah Setyo membacakan doa-doa untuk mengusir kerumunan roh jahat di sekitar kami. Niken masih menari sambil menangis.

Aku mengagumi gerakan Lan Fan yang sangat pro dalam bertarung. Dia bahkan mampu melepas belitan tubuh ular Badarawuhi dengan kekuatan tubuhnya. Rank B dengan buff, mungkin melebihi Rank A walaupun belum menyentuh Rank S.

“Apa kau pikir bisa menandingiku, cah bagus? Kau pikir siapa aku ini? Aku adalah ratu penguasa desa ini!” seru Badarawuhi dengan angkuhnya.

“Kalau aku masih manusia, aku pasti tak akan bisa menandingimu. Tapi, sekarang aku adalah hantu ... aku pasti bisa mengalahkanmu!” seru Lan Fan sembari meninju wajah wanita itu dengan knuckle-nya.

Duh, pasti sakit. Apalagi pas di wajah. Tapi, melihat mereka saling bertukar pukulan dan tendangan membuatku yakin kalau pertarungan ini akan berlangsung tak lama lagi. Ledakan demi ledakan yang timbul akibat adu kekuatan mereka cukup membuat Mariska, Niken, dan Mbah Buyut sedikit terhempas anginnya. Dan melihat Badarawuhi kewalahan membuatku tersenyum.

“Sudah berakhir,” kataku sambil menepuk pelan pundak Mariska. “Kamu sudah aman sekarang, Mar.”

Aku nggak bisa meluk Mariska karena aku bukan muhrimnya gadis itu. Meskipun sebenarnya pelukan adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk menenangkan sang puan. Aku memejamkan mataku dan melihat melalui mata Yelan bahwa Galih—yang dalam kondisi telanjang bulat, dibopong oleh Gito dan Lendra bersama beberapa warga ke rumah yang kami tempati di desa dan dibaringkan di sebelah Niken. Mereka berdua dalam keadaan sekarat.

“Yelan, kemari,” panggilku pada hantuku itu dan saat aku membuka mata, wanita berambut panjang itu sudah muncul di hadapanku. “Tolong tenangkan Mariska. Kamu bisa peluk dia.” Perintahku padanya.

Pertarungan berakhir dan Badarawuhi mati di tangan Lan Fan. Mayatnya tergeletak di lantai pendopo yang kotor. Niken akhirnya berhenti menari dan dia jatuh terduduk sambil menangis. Aku menepuk pundak Lan Fan dan berujar.

“Kerja bagus, Lan Fan.” aku menatap mayat siluman wanita itu dan mengucap sesuatu yang sudah sangat kutunggu-tunggu. “Arise.” Seketika saja sosok Badarawuhi berdiri di hadapanku dan berlutut memberi hormat. “Kuberi kau nama Xiao Hua dan perintah pertama untukmu adalah kowtow selama 4 hari.”

“Sebentar—Tuan Muda?!” Xiao Hua hendak memberi protes, namun ia tak bisa membantah karena tubuhnya mematuhi perintahku. “Aku disuruh sujud begini padahal aku pakai kemben?!”

Mbah Buyut menatapku aneh dan bertanya. “Bagaimana kamu bisa mengalahkan dewi penunggu desa ini?”

“Entahlah, Mbah. Aku hanya ingin membebaskan desa ini dari kejahatan yang dilakukan oleh Dawuh, dan sudah saatnya kita pulang,” kataku sambil menoleh ke arah Niken yang dipapah oleh Mariska dan Yelan.

Sesampainya di rumah yang kami tempati di desa, kami mendapati Indira, Gito, dan Lendra menangisi Kencana, Niken, dan Galih. Mariska menghambur memeluk Indira dan berkata kalau dia mengejar Galih ke Tapak Tilas. Lalu saat menemukan jejaknya di sebuah sendang (tempat mandi), ternyata Galih sedang bercinta dengan Badarawuhi dan mereka berdua dikelilingi oleh ular-ular.

Mbah Buyut membuatkan kopi untukku dan Mariska, dan saat kami meminumnya ... kami sontak memuntahkannya karena rasanya super pahit! Aku menyeka mulutku dengan sapu tangan, Mariska pun melakukan hal yang sama.

“Mbah nggak bisa menyelamatkan Galih, sebab dia sudah terlalu sering bersetubuh dengan Badarawuhi,” kata Mbah Buyut dengan penuh sesal. “Dan ular-ular yang dilihat oleh Mbak Mariska adalah anak-anak hasil hubungan Galih dengan Badarawuhi.”

“Lalu Mbak Niken bagaimana, Mbah?” tanya Mariska.

“Dia sebenarnya sudah terpilih menjadi Dawuh berikutnya dan harus menari sampai mati. Tapi, karena Badarawuhi sudah tiada ... dia akan pulih empat hari kemudian,” jawab Mbah Buyut dengan pasti. “Mbah sudah gagal melindungi kalian semua, bahkan timbul korban. Tapi, itu hukuman buat Galih atas apa yang dia lakukan.”

“Mas Erlangga, kenapa Mas nggak menyelamatkan Mas Galih, Mas?” tanya Mariska padaku sambil mencengkeram lengan jaketku.

“Aku nggak bisa, Mar. Aura kehidupan Galih sudah tipis. Aku juga nggak bisa menjadikannya hantu pelayanku karena itu artinya hanya akan menyiksa jiwanya. Itu adalah hukuman untuknya karena sudah melanggar pantangan,” jawabku kelu sambilmenunduk.

“Tapi, kamu bisa menyelamatkan Mbak Niken! Kenapa kamu—“

“AKU BUKAN DEWA YANG SERBA BISA, MAR!” aku kelepasan membentak Mariska. “Maaf sudah membentakmu, tapi ekspedisi kita sudah berjalan dengan baik walau kita harus kehilangan Kencana dan Galih. Bahkan, aku nggak tahu harus ngomong apa ke orang tuanya Kencana kalau tahu bahwa anak mereka telah tewas dan sekarang menjadi pelayanku.”

Galih meninggal empat hari kemudian, dan Niken pulih dari kondisi sekaratnya. Orang tuanya Kencana datang jauh-jauh dari Sentiong ke desa terpencil ini untuk melihat keadaan anak mereka dan mereka menangis histeris saat melihat jasad anak semata wayang mereka dalam kondisi mengenaskan. Mbah Buyut bilang kalau kedua orang tuanya Kencana boleh membawa pulang jenazah anak mereka dan berkata bahwa mereka berdua beruntung karena Kencana tidak melakukan perbuatan yang melanggar pantangan sehingga tidak harus terikat dengan desa ini seperti halnya Galih.

Galih harus dimakamkan di desa penari, dan Niken jadi lebih pendiam sejak pulih dari kondisi sekaratnya. Mungkin ia sadar bahwa tindakannya sudah menyeret semua orang dalam bahaya. Dua hari setelah meninggalnya Galih, kami semua pulang ke Jakarta dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aku sendiri merasa tak tega saat melihat ekspresi kedua orang tua Kencana yang merasa sangat menyesal dan kehilangan, namun aku tak bisa membiarkan mereka bertemu dengan Kencana yang kini sudah kuberi nama Lan Fan. Kalau aku melakukan itu, sama saja aku akan membuat Lan Fan terikat dan perlahan akan mengubahnya menjadi roh jahat. 

Sesuai janji, aku menceritakan segalanya pada Mariska, Indira, Mbak Setyo, dan Lan Fan. Tentang siapa diriku, tentang kekuatan yang kumiliki, dan tentang keinginanku untuk mendapatkan hantu-hantu dengan kekuatan luar biasa agar bisa melindungi keluarga serta orang-orang yang bekerja pada keluarga Zhang. Mbah Setyo hanya mengangguk-angguk paham, sementara Mariska, Indira, dan Lan Fan ternganga mendengar ceritaku.

“Kalian kenapa?” tanyaku heran.

“Mas Erlangga, kenapa keluarga Mas diincar oleh orang-orang jahat?” tanya Mariska penasaran. “Sampai harus mencari hantu untuk mendapatkan kekuatan luar biasa itu agak—“

“Yah, dunia ini tidak semulus kelihatannya, Mar. Banyak orang jahat di dunia ini yang menginginkan saingannya hilang dengan cara-cara yang tak wajar. Salah satunya dengan membunuh mereka dan menjadikan anggota keluarganya hidup dalam teror. Meskipun aku tak berkeinginan seperti itu walau nantinya jadi kepala keluarga,” jawabku disertai dengan helaan napas. “Tak sedikit juga orang-orang di dunia yang punya pengaruh seperti keluargaku. Mereka juga bisa saja menekan media dan hukum selama punya kuasa.”

“Aku paham dengan kengerian yang dimiliki keluargamu, Er. Tapi,” Indira melirik ke arah Lan Fan yang duduk di sebelahnya. “kenapa kamu nggak membiarkan Kencana ketemu sama orang tuanya? Kasihan loh, mereka sampai depresi.”

“Hah? Depresi?” Lan Fan terlihat kaget. “Mbak Indira tahu dari mana?”

Aku menatap dalam Indira, bermaksud meminta gadis itu untuk menjelaskannya pada kami. Dia nampak bingung hendak menjelaskan dari mana, namun akhirnya ia menceritakannya juga. “Beberapa hari lalu Tuan Ignatius dan Nyonya Frederica menemuiku dan mereka meminta untuk menjelaskan tentang nasib nahas yang menimpamu, Kencana. Eh, apa aku harus memanggilmu Lan Fan, ya?” Indira nampak kikuk.

“Panggil aku Kencana juga nggak apa-apa, Mbak Indira,” kata Lan Fan dibarengi tawa canggung.  “Lalu, apa Papa dan Mama mengatakan sesuatu tentangku?” tanyanya.

“Mereka bilang, mereka meminta maaf karena sudah menelantarkan dan mengabaikanmu selama bertahun-tahun. Lalu,  jika mereka memiliki kesempatan ... mereka ingin meminta maaf langsung padamu,” jawab Indira sambil menghela napas. “Tapi, aku katakan pada mereka itu tidak mungkin karena kamu sudah meninggal. Kemudian, mereka bertanya padaku apakah aku mengenal nama Zhang Yaoguang? Karena katanya dia bisa menghubungkan dunia ini dengan dunia sana. Aku bilang tidak tahu, dan mereka nampak kecewa. Siapa yang menyangka kalau Zhang Yaoguang itu adalah si Erlangga.”

Aku menghela napas dan berkata. “Maaf deh, Ndi. Aku nggak bisa membeberkan jati diriku sembarangan. Iya kalau aku ketemu sama orang baik, kalau yang punya niatan buruk? Apalagi kalau sampai tahu kediamanku, bisa kacau semua nanti.”

“Kok kami bisa memasuki kediamanmu?” tanya Indira keheranan.

“Karena aku mengizinkan kalian masuk. Toh aku bisa mendeteksi kalian punya niatan buruk atau tidak,” jawabku acuh tak acuh. “Soal orang tuanya Lan Fan, nanti akan aku coba tangani. Aku akan melihat dulu keadaannya sebelum memutuskan mempertemukan mereka dengan Lan Fan. Salah langkah, aku bisa membuat Lan Fan berubah menjadi roh jahat nanti.”

“Mas Erlangga,” Mariska curi-curi pandang ke arah Xiao Hua yang berdiri rikuh tak jauh dariku. “Apa dia benar-benar aman?”

“Jangan khawatir, setelah menjadi hantu pelayanku ... tidak ada yang bisa melawan kehendakku. Tak peduli seberapa saktinya mereka saat masih hidup,” jawabku tenang. “Yah, untungnya aku nggak perlu jelasin beginian pada Lendra dan Gito. Semakin banyak yang tahu rahasiaku, makin nggak aman aku.”

“Lalu kami bagaimana?” tanya Mariska lagi dengan ketakutan.

“Selama nggak ada jejak kalian melakukan kontak denganku, aman-aman saja. Toh mereka juga nggak bakalan bisa mengusik Mbah Setyo juga,” kataku santai. “Ekspedisi alam gaib tidak menyiarkan wajah pesertanya, kan? Seharusnya tidak masalah. Kecuali ada di antara kalian yang sengaja merekam atau mengambil gambarku tanpa izin.”

“Meskipun listrik dan sinyal ponsel sudah masuk ke desa penari, seharusnya mereka akan kesulitan menggunakan benda elektronik. Sebab daerah itu dipenuhi aura magis yang bisa mengacaukan kerja benda elektronik,” jelas Mbah Setyo tanpa ragu. “Saya bisa menjamin identitas kalian semua agar tidak bocor. Lain halnya kalau kalian ikut ekspedisi abal-abal.”

“Aku hanya mengkhawatirkan beberapa hal saat ini, Mbah. Tapi, kurasa aku tak perlu menjelaskan segalanya pada Anda. Anda sudah kujelaskan secara garis besar mengenai beberapa hal tentang keluarga Zhang, sisanya silakan baca tersiratnya saja,” kataku sambil menatap lurus ke arah Mbah Setyo.

Mbah Setyo tertawa kecil dan menepuk-nepuk pundakku. “Tidak perlu khawatir, Mahardika. Saya paham apa yang kamu maksudkan.”

“Terima kasih,” ucapku sambil menundukkan sedikit kepalaku.

Setelahnya, aku mengantar Mbah Setyo, Mariska, dan Indira keluar dari area rumahku. Dari luar, rumahku tidak kasat mata karena dipasangi tabir pelindung oleh Linghe-yeye. Jadi, hanya orang-orang yang sudah diizinkan oleh penghuni rumah lah yang bisa masuk ke dalam rumah yang kami tinggali ini.

“Tuan Muda,” Lan Fan terlihat canggung saat hendak menyampaikan sesuatu padaku. “Apakah boleh aku menemui orang tuaku?”

“Su Ho,” aku memanggilnya dengan nama alternatif agar belenggunya tidak aktif. “Aku tidak bisa mengizinkannya untuk saat ini. Kau harus banyak berlatih agar bisa mengolah mana dan kekuatan jiwamu. Jika kepepet, biar aku saja yang mengurus hal itu.”

“Kenapa Tuan Muda memanggilku Su Ho ketika aku masih hidup bahkan setelah aku menerima nama baru saat aku meninggal? Aku kan bukan Su Ho EXO!” Lan Fan kembali protes.

“Su Ho itu nama karakter dari Solo Leveling. Kebetulan sifat dan perawakannya sama persis denganmu, makanya aku memanggilmu Su Ho,” jawabku ringan. “Apa kau keberatan?”

Lan Fan mengernyitkan alis. “Bukannya nama karakter dalam Solo Leveling itu Sung Jin Woo, ya? Su Ho itu siapa?”

Aku tertawa. “Nanti kau akan tahu kalau membaca epilog pada webtoonnya.”