JustPaste.it

Kotabaru, Yogyakarta, 16 Juni 2018. Aku mengunjunginya saat sedang menunggu waktu daftar ulang di universitas Pancasila setelah menyelesaikan tes masukku beberapa waktu lalu. Aku mendapat kabar kalau aku berhasil lolos dalam tes tersebut dan berhasil masuk ke fakultas yang kuinginkan. Tapi, aku harus segera menyelesaikan daftar ulang sebelum tanggal 31 Agustus, atau aku harus mengulang daftar tahun depan. Artinya, aku harus cepat!

“Yah, saatnya mencari tambahan kekuatan baru selagi menunggu masuk kuliah,” gumamku saat berada di dalam kendaraan yang membawaku ke rumah lawas yang berada di pinggiran Kotabaru ini.

Aku teringat kembali percakapanku dengan Kakek William beberapa waktu lalu.

“Apa? Kau mau ke rumah keluarga Ludiraningrat?” Kakek William terlihat terkejut saat mendengar perkataanku bahwa aku berencana ke sana.

“Ya, aku akan mengalahkan Heilige Moeder dan menjadikannya sekutuku, Kakek,” jawabku dengan tenang.

“Kakek tahu kamu sudah semakin kuat, tapi yang kamu lawan itu sekelas dengan keluarga Zhang,loh! Mereka juga punya kuasa untuk meredam publik dan polisi!” Kakek William berusaha mengingatkanku akan bahayanya rumah itu. “Kalau terjadi apa-apa padamu, apa yang harus kukatakan pada Cornelia?” Cornelia adalah ibuku, dan aku tahu pasti bagaimana ibu sering mengkhawatirkan aku saat aku terjerumus hal-hal berbahaya.

“Jangan khawatir, aku sudah cukup punya persiapan untuk menghadapi semua itu,” kataku setenang mungkin. “Aku hanya perlu membuat identitas palsu dan mendaftar sebagai pekerja di rumah itu.”

“Kakek akan siapkan segalanya untukmu. Kembalilah ke rumah ini dengan selamat,Mahardika,” setelah itu Kakek William mencoba membujuk Linghe-yeye untuk memperbolehkanku pergi ke tempat yang kumau.

“Meski begitu,” aku merogoh saku dan mengeluarkan dompetku. Lalu aku mengeluarkan dua kartu dari sana. “SIM palsu dan KTP palsu atas nama Xiao Luzi, ini apa-apaan? Kalau sampai ada yang tahu bahwa aku dari keluarga itu bagaimana?”

“Tuan Muda tidak perlu khawatir, identitas Tuan Muda terjamin!” Yelan mencoba menenangkanku. “Berkat otoritas Tuan Besar, seharusnya ini jadi perjalanan yang mulus bagi Anda.”

“Melawan Heilige Moeder itu nggak bisa dikategorikan mulus, Yelan,” aku menghela napas.

Meski aku telah banyak berlatih dalam beberapa bulan terakhir dan berhasil mengurangi waktu casting Jiuyang Shengong menjadi 30 menit, tetap saja aku masih lemah. Kalau diranking, aku saat ini berada di peringkat C lebih sedikit. Naik sedikit dari peringkat terakhirku. Mana-ku sudah meningkat daripada saat itu, namun aku sadar betul kalau aku masih kurang dalam berbagai aspek.

“Aku tipe mage, dan bukan fighter. Secara teknis, aku kurang diuntungkan dalam hand to hand combat. Kalau lawanku sangat tangguh, aku akan kurang  diuntungkan karena serangan fisikku yang kurang efektif,” aku menghela napas. “Aku harus menemukan seseorang yang bisa melatihku dalam bertarung, paling tidak seseorang yang expert dalam bidangnya.”

Meski aku telah diajari beladiri sejak kecil, namun itu masih kurang jika diterapkan dalam dunia yang kejam ini. Linghe-yeye memang memiliki banyak teknik khusus untuk membuat siapapun takut padanya, termasuk aku. Karena itu aku harus 3 kali—tidak, 100 kali lipat lebih kuat darinya. Pertanyaannya adalah ... bagaimana caranya agar aku bisa melampauinya?

“Den, kita sudah sampai,” ucapan sang supir angkutan dalam bahasa Jawa menyentakku ke alam sadar. “Mau dibantu untuk diturunkan barang-barangnya?”

Untungnya Yelan itu orang Jawa, jadi dia menerjemahkannya untukku agar aku memahami perkataan orang-orang di sekitarku. Aku hanya bisa bahasa Sunda, jadi ya ... ra ngerti aku cuk!

“Ah, terima kasih, Pak,” kataku dengan bahasa Jawa pas-pasan. Tak lupa kuberikan pula uang untuk membayar jasanya.

Aku menatap lurus ke arah wanita muda berambut panjang di hadapanku. Dia tersenyum ramah, namun aku tahu jelas ada yang janggal darinya. Karena inderaku jadi lebih tajam berkat latihan kerasku, aku bisa menciumnya. Samar-samar ... aku mencium aroma darah dari wanita ini.

“Mas Xiao Liugi, ya? Saya Rianti Ludiraningrat yang menghubungimu beberapa waktu lalu,” sapanya riang.

“Anu, Xiao Luzi, Mbak Rianti,” aku mengoreksi. “Jadi, apa pekerjaan saya di sini, Mbak?”

“Oh, maaf tho, Mas. Mas’e susah disebut namanya,” halah, basa-basi nggak perlu ini! “Mas cukup tinggal di paviliun, bersihkan paviliunnya, terus isi vas-vas yang ada di sekitar paviliun dengan bunga-bunga segar. Ambil saja bunganya di halaman, lalu sirami bunga yang ada di halaman depan dan belakang.” Rianti menjelaskannya padaku panjang lebar.

“Hanya untuk pekerjaan remeh begitu, Mbak sampai membayar saya 100 juta?” aku mengernyit. Apa yang dipikirkan oleh wanita ini? Seratus juta rupiah itu bukan uang receh.

“Umm, sebenarnya kami biasa mempekerjakan perempuan. Tapi, belakangan ini susah. Jadi, saat Mas mendaftar ... kami menerima Mas bekerja di sini,” Rianti nampak bingung saat memberikan penjelasan itu padaku. “Kami memberikan uang sebesar itu, karena kami dengar Mas sedang kesulitan keuangan.”

Nggak salah juga, sih. Untuk merawat sakitku dan membiayai kuliahku serta biaya sekolah Sylva, bisa dibilang butuh biaya yang nggak sedikit. Tapi, kenapa harus perempuan yang dipekerjakan? Dan baru kali ini mereka mempekerjakan laki-laki?

“Kenapa harus perempuan? Ada alasan khusus?” tanyaku.

“Oh, nggak, Mas. Biasanya perempuan kan lebih telaten,” Rianti nampaknya menghindari menjawab pertanyaanku dengan jelas. “Mari, Mas. Saya antar untuk lihat-lihat.”

Rumah itu bergaya kolonial Belanda, dan lebih besar daripada rumah-rumah lainnya. Meski letaknya agak terpencil, tapi aku menangkap kesan bahwa keluarga ini bukan keluarga sembarangan. Sama halnya seperti keluarga Zhang, keluarga ini sepertinya punya kuasa. Yah, itu rumor yang kubaca di forum-forum di internet. Aku menangkap mata kalung berbentuk segitiga yang terpasang di leher Rianti. Apa keluarga ini semacam penganut kultus?

“Mas Luji?” Rianti memanggilku dengan logat Jawanya yang medhok dan sepertinya tidak bisa melafalkan ‘Luzi’ dengan benar. “Kenapa, Mas? Kok bengong?”

“Hah? Anu, Mbak. Kaget banget karena rumah ini luas banget!” jawabku sekenanya. “Tapi, ini beneran yang saya urus cuma paviliunnya saja? Rumah utama nggak usah?” tanyaku penasaran.

“Iya, Mas. Rumah utama boleh dimasuki kalau sudah dikasih izin sama ditemani kami,” jelas  Rianti. “Oh ya, Mas. Usahakan agar Mas kerjakan apa yang  saya minta setiap hari, ya? Selambat-lambatnya ya tiga hari, kalau Mas mau pergi lama bilang dulu ke saya. Terus, kalau ada suara yang seharusnya nggak dari luar rumah, jangan dijawab. Tetap diam, dan jangan keluar sampai suara itu hilang sendiri.”

“Oke, Mbak. Saya akan bilang dulu, tapi kalau saya kelupaan sampai lebih dari tiga hari kenapa memangnya? Terus, kalau suara itu saya jawab, apa yang terjadi?” aku merasa harus tahu itu.

“Mas, kita masih pengen Mas kerja di sini, loh. Jadi, manut aja,” Rianti tersenyum aneh. “Masnya nggak bawa peliharaan, kan?”

“Nggak,kok. Tenang saja,” aku saja nggak pelihara hewan di rumah, ya kali bawa hewan ke sini.

“Baguslah, Mas. Kalau ada tamu yang mau nginep di sini sama Mas, tolong kabari saya ya, Mas? Jangan lupa kasih tahu segala hal yang saya katakan,” jelas Rianti lagi.

Hari-hari yang kulalui saat bekerja di rumah itu rasanya nyaman, dan bahkan aku punya banyak waktu santai. Makanya di sela-sela waktu santaiku, aku melatih kembali ilmu beladiri yang dulu pernah kupelajari. Bayaran seratus juta rupiah itu masih terbayang dan aku menerima pesan yang membuatku terhenyak dari Baba dan kedua kakakku.

[pesan dari Baba : Xiao Luzi! Kamu nggak main judi online, kan? Uang segitu dari mana? Kamu kerja apa?]

[pesan dari Xiaolan-dage dan Xiaofan-erge : Yao-er, kamu nggak terlibat sindikat penjualan narkoba, kan? Kamu nggak terlibat penjualan barang haram, kan?]

“Hadeh, gimana jelasinnya, ya?” gumamku sambil mengetik balasan pesan.    

[balasan pesan untuk Baba, Xiaolan-dage, Xiaofan-erge : aku kerja halal,kok. Kalau nggak percaya, aku kirimkan foto setiap aktivitasku di sini melalui WA.]

Lalu, aku menghujani grup keluarga dengan foto-foto aktivitasku selama di paviliun rumah Ludiraningrat ini. Barulah setelahnya mereka bilang kalau mereka percaya aku nggak kerja yang aneh-aneh. Tapi, ada pesan dari Nenek Lingga yang mengatakan kalau aku harus hati-hati selama di rumah Ludiraningrat ini, siapa tahu ada udang di balik batu.

Dugaan Nenek Lingga memang tidak salah. Kira-kira dua minggu setelah aku bekerja di rumah itu, aku mendengar suara percakapan dari arah rumah utama. Karena inderaku makin tajam setelah pelatihan yang kujalani beberapa bulan terakhir, pendengaranku pun menjadi 5 kali lipat lebih tajam daripada orang biasa. Aku bisa mendengar percakapan mereka bahwa mereka tengah merencanakan sesuatu padaku. Mereka akan membawaku ke hadapan Nenek Bunda setelah tiba waktunya.  

Aku tersenyum di atas kasurku saat mendengar semua itu. “Sepertinya nanti akan ada panen besar, ya?” mataku berkilau kebiruan. Ya, membunuh orang-orang ini tentu tidak melanggar perjanjianku dengan Kakek William.

Hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya, di mana semua anggota keluarga Ludiraningrat berkumpul. Aku bisa mengetahui itu dari liontin yang mereka semua kenakan. Kalau tidak salah, hari ini tanggal 17 Agustus 2018 dan mereka sama sekali tidak mengikuti acara 17-an. Aku merasakan sesuatu yang tidak beres.

“Mbak Rianti, kenapa hari ini semuanya berkumpul di sini?” tanyaku seusai menghabiskan sarapanku.

“Oh,  anu, Mas Luji. Hari ini kita mau ke rumah utama, Mas Luji harus ikut,” jawaban itu membuatku sedikit kaget.

“Loh, kenapa saya harus ikut juga?” yah, ini bukan pertama kalinya ada orang banyak berkumpul di rumah ini. Meskipun tak sebanyak sekarang.

“Orang penting di keluarga kami ingin bertemu dengan Mas,” jawab Rianti agak canggung.

Hidungku mencium aroma kembang segar, dan beberapa bahan yang biasa digunakan sebagai sesajen. Walau aku tahu mereka menyembunyikannya dengan rapi agar aku tak curiga, namun mereka tak bisa membohongi inderaku. Aku menghela napas pelan, aku pasti akan ditumbalkan pada sesuatu di rumah ini. Tapi ... aku memang sudah mengincar itu!

“Baiklah, saya akan mengikuti jika demikian, Mbak,” aku tak dapat menyembunyikan senyumku.

Rianti dan orang-orang di dekatnya nampak kaget saat melihatku tersenyum. Mereka mungkin tak paham bagaimana mungkin aku masih bisa senyum di saat seperti sekarang. Namun, aku tak perlu jelaskan hal itu.

Setelah pembicaraan yang sempat kucuri dengar tanpa sengaja itu, aku memang mengalami sesuatu yang aneh. Aku mendengar suara yang tak seharusnya berada dalam rumah saat aku sedang mencuci baju. Aku mengabaikannya sesuai dengan peringatan sang Tuan Rumah, dengan alasan aku belum siap berhadapan dengan sesuatu di rumah ini. Setelahnya, suara itu menghilang. Dan itu menimbulkan kecurigaan di benakku.

“Mas Luji, lewat sini,” suara Rianti mengejutkanku ke alam sadar. “Mas Luji kenapa bengong?”

“Oh,  maaf, Mbak. Saya agak gugup,” aku berbohong.

Pintu menuju rumah utama sudah dibuka dan orang-orang yang tadi bersama Rianti beberapa sudah masuk ke sana. Meski jaraknya masih 15 meter lagi, tapi aku bisa mencium aroma apek, amis darah, dan daging yang membusuk. Lalu ... asap hitam yang biasa keluar dari tubuh yang mati pun menguar dari sana. Mataku kembali berkilau kebiruan, sepertinya aku harus bertindak sebagai necromancer lagi setelah ini.

Aku memasuki pintu yang juga digurat simbol segitiga itu dan terkesiap karena ruangan di dalamnya cukup gelap. Orang-orang yang tadi bersama Rianti menyalakan penerangan dengan lilin pada candelier, dan itu membuatku makin penasaran.

“Mbak Rianti, kenapa pakai lilin dan bukan lampu listrik?” tanyaku.

“Listrik di sini mati, Mas. Makanya kami pakai lilin,” jawab Rianti sekenanya.

Aku tak bertanya apa-apa lagi dan hanya menebar pandangan ke sekeliling. Ada lukisan gunung Merapi dengan tulisan berbahasa sansekerta, lalu buku-buku bersimbol segitiga yang sepertinya memakai bahasa Jawa dan Belanda. Lalu foto-foto keluarga....

“Apa?” aku tak dapat menyembunyikan keterkejutanku.

Di foto-foto yang terpajang, aku dapat melihat satu per satu anggota keluarga dari mereka kecil hingga dewasa dan di setiap foto yang hanya diambil saat Idul Fitri itu ... selalu ada satu orang yang berbeda. Mereka tidak nampak seperti orang Jawa. Seseorang yang berbeda itu kebanyakan adalah perempuan dan berasal dari berbagai suku, bahkan ada orang Tionghoa, dan bule juga. Apa maksudnya ini?

Aku terkesiap saat melihat vas bunga yang berisikan darah dengan bunga layu di sebuah nakas yang ada di bawah lukisan gunung Merapi, lalu gambar segitiga besar dengan darah yang sudah kering. Lalu foto seseorang dengan kerudung aneh yang namanya tertuliskan Heilige Moeder II—Bunda Kudus II. Berarti info yang kudapat dari bacaanku waktu itu tidak salah.

“Mas Luji,” suara Rianti terdengar aneh. “Sudah waktunya, Mas. Nenek Bunda ingin bertemu Mas.”

Aura ini ... hahhh, rasanya aku tak bisa berpura-pura tenang lagi sekarang. “Sudah cukup sandiwaranya! Kalian payah!”

“Maksud Mas apa? Mas bikin takut...” salah seorang dari kerabatnya Rianti nampak ketakutan saat melihatku menatap dingin mereka semua.

“Kalian semua berpikir, aku tak mengetahui apapun tentang rumah ini?” aura membunuh keluar dari tubuhku dan aku bergumam. “Huaniang, Basilisk’s Fang.” Tanganku segera saja menggenggam belati beracun itu. “Salah besar!” aku segera melesat ke arah di mana aku bisa merasakan mana yang sangat besar di tengah-tengah ruangan yang dipenuhi dengan tirai-tirai. Aku memotong semua tirai itu dengan belatiku dan aku berhenti di depan sebuah sosok besar yang menatapku dengan kelaparan. “Akhirnya aku bertemu denganmu, Heilige Moeder II.”

Aku menebar pandangan ke sekeliling dan banyak asap hitam berkerumun di sekitar kakiku. Aku juga melihat sisa-sisa mayat di sana. “Mereka korbanmu? Kenapa kau melakukan ini?”

“Aku butuh mereka agar aku tetap bisa hidup selamanya dan menjamin keselamatan serta kesejahteraan keluarga ini!” jawab wanita mengerikan itu dengan suara kering.

“Baiklah, sekarang aku mengerti kalau keluarga ini semacam kultus,” kataku sambil bersiap dengan belatiku. “Kau tidak mendengar jeritan mereka yang tak bisa beristirahat tenang karenamu?”

“Apa peduliku? Yang penting, aku bisa tetap hidup sampai sekarang. Satu orang untuk setiap tahun bukan hal buruk, kan?” Bunda Kudus tersenyum menjijikkan.

“Sangat buruk,” aku berdecih. “Arise.” Seketika saja berkumpullah hantu-hantu dari mereka yang telah meninggal di ruangan ini seusai aku mengucapkan itu. “Aku akan membunuhmu, dan mengakhiri kultus sesat ini!” aku segera melesat ke arah wanita mengerikan itu dan menyerangnya dengan belatiku.

Namun, wanita itu dengan cepat menahan seranganku dan memberiku serangan kejutan yang menyakitkan. Aku tak punya kesempatan untuk menyembuhkan luka dengan potion,karena itu aku harus bergerak secepat  mungkin agar bisa memberikan damage pada makhluk sialan ini! Paling tidak menggoresnya agar racun dari belatiku bisa dirasakan makhluk itu, namun ia bisa mengelak setiap seranganku.

Hantu-hantu yang kubangkitkan membantuku dalam pertarungan, namun karena mereka pada dasarnya tidak memiliki kelebihan apa-apa saat hidup ... bantuan yang mereka berikan padaku tidak terlalu signifikan. Apakah aku bisa keluar dari situasi sulit ini?

Di saat aku berpikir begitu, semua anggota keluarga Ludiraningrat mengepung dan menyerbuku. Ini benar-benar di luar dugaan!

“MINGGIR!” teriakku sambil berlari ke arah mereka dan menggores mereka dengan belatiku.

“AAAARRRGHHHH! A, APA INI?! RACUN?!” mereka semua menggeliat dan menggelepar kesakitan.

“Matilah dalam penderitaan,” kataku dengan dinginnya sembari meninggalkan mereka semua dan beralih pada Bunda Kudus yang berdiri di depanku. Wanita tua mengerikan itu menatapku dengan marah.

“Beraninya kau membunuh keturunanku! Siapa kau sebenarnya?!” hardiknya.

“Zhang Yaoguang, seorang calon kepala keluarga Zhang,” aku tersenyum kecil. “Aku menantikan saat-saat ini untuk membunuhmu, Nyonya Ludiraningrat.”

“Pantas saja kau merasa gembira dan tenang-tenang saja saat memasuki tempat ini. Rupanya kau berasal dari keluarga yang memiliki otoritas sama seperti keluargaku. Tapi,” Bunda Kudus menatapku dalam. “Kau pikir, anak keluarga Zhang mampu membunuhku? JANGAN MIMPI KAU BOCAH!” setelah berkata demikian, wanita mengerikan itu menyerangku dengan cepat dan memberiku serangan telak.

Aku mundur beberapa langkah dan menyuruh Huaniang memberiku potion untuk memulihkan lukaku. Dalam sekejap, lukaku pulih dan aku kembali bergerak untuk mengatasi serangan dadakannya Bunda Kudus. Harus kuakui kalau ini sama seperti Sung Jin Woo saat melawan Anjing Penjaga Cerberus, Bunda Kudus memiliki kekuatan di atasku dan kalau aku tak berhati-hati atau salah langkah ... bisa dipastikan aku akan mati. Terlebih pertarungan kami berjalan timpang dan aku mulai kelelahan.

Eh, tunggu.... “Arise,” kataku sambil menjadikan orang-orang yang kubunuh tadi sebagai pasukan hantuku. “Kalau menggunakan mereka sebagai tameng dan melawanmu, pasti akan mudah, kan?” aku tersenyum kecil saat memerintahkan mereka untuk maju.

“JAHANAM! BERANINYA MEMANFAATKAN KETURUNANKU UNTUK MELAWAN—“kalimatnya terputus saat belatiku menyentuh tenggorokannya dan menebasnya hingga putus.

“Jangan berteriak-teriak, kau hanya membuatku pusing,” kataku setelah melihatnya tergolek di lantai dan mati. “Nah, sekarang.” Aku menghadapi hantu-hantu dari para korban Bunda Kudus dan tersenyum samar. “Maaf sudah memanggil kalian, sekarang ... kalian harus pulang ke alam barzakh.” Seusai berkata demikian, mereka menghilang. “Lalu...” aku menatap dingin ke arah tubuh kaku Bunda Kudus. “Arise.”

Segumpal bayangan hitam melingkupi tubuh wanita mengerikan itu dan perlahan gumpalan itu membentuk sosok wanita cantik yang langsung berlutut di hadapanku. Aku sedikit terkejut karena sosoknya lebih cantik daripada yang kulihat sebelumnya di foto.

“Err, kamu Bunda Kudus II, kan? Aslimu lebih cantik daripada yang di foto,” komentarku saat mengamatinya.

“Inilah sosok asli saya sebelum mulai mengonsumsi wanita, Tuan Muda Zhang. Sekarang, saya akan melayanimu,” wanita berambut panjang keperakan itu masih berlutut dan sedikit menundukkan kepalanya.

“Hmm, kalau begitu aku harus memberimu nama baru,” aku menangkup daguku dan berpikir sejenak. “Namamu sekarang adalah Tian Yan.”

“Saya akan terima nama itu dengan senang hati,” setelah berkata demikian ia memerintahkan hantu anggota keluarga Ludiraningrat untuk berlutut di hadapanku.

“Oi, Tian Yan! Itu berlebihan! Aku belum jadi kepala keluar—lho...” perlahan pandanganku kabur dan kesadaranku hilang. Ah, sial. Aku lupa kalau aku punya penyakit bawaan anemia dan tadi aku tak segera memulihkan cederaku. Aku pasti berakhir dirawat di rumah sakit lagi setelah ini.

Bau refisol menyerbu indera penciumanku saat aku siuman dan tebakanku benar. Tapi, bagaimana aku bisa dibawa ke tempat ini? Lalu, apakah aku masih di Yogyakarta?

“Ah,” aku merasakan mana yang mengerikan menguar di dekatku dan membuatku langsung menoleh. “Kakek William, kok bisa ada di sini?” tanyaku gugup. “Apa Kakek yang membawaku ke rumah sakit?”

“Menurutmu?” Kakek William menggertakkan gigi, pertanda kalau beliau sedang marah. “KAKEK SUDAH BILANG PADAMU SUPAYA HATI-HATI DAN TIDAK MEREMEHKAN MUSUHMU, KAN? TAPI, APA YANG KAU LAKUKAN?! TELAT SEDIKIT, KAU BISA MATI TAHU!”

Seorang perawat masuk ke kamarku dan meletakkan telunjuk di bibir, isyarat untuk tidak berteriak karena kami berada di rumah sakit. Kakek William segera meminta maaf pada sang perawat.

“Aku minta maaf, Kakek,” lirihku sambil meremas selimutku. “Aku akan lebih berhati-hati lagi nanti. Maaf sudah membuat Kakek khawatir.” Aku menundukkan kepala untuk mengakui kesalahanku. “Anu, ini di rumah sakit mana?” tanyaku sambil menebar pandangan.

“Rumah sakit PKU Muhammadiyah di Yogyakarta,” jawab Kakek William sambil menatap lurus ke arah samping kananku. “Wanita itu yang memberitahuku dan membuatku harus cepat melarikanmu ke sini,” aku menoleh ke arah samping kananku dan tertawa gugup saat melihat Tian Yan sedikit menundukkan kepalanya. “Apa kau tahu kalau berpindah tempat itu membutuhkan mana yang tidak sedikit?” Kakek William menatapku tajam.

“Aku tahu, aku minta maaf, Kek,” aku sedikit menundukkan kepalaku. “Jadi, sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?”

“Dua puluh hari,” jawaban Kakek William itu membuatku langsung mencari ponselku dan melihat kalender di sana. Ah, mampus! Waktu daftar ulangku terlewat! Aku menundukkan kepalaku makin dalam. “Kau terlihat lesu, ada apa?”

“Aku harusnya daftar ulang di universitas Pancasila,” aku menengadah dan menatap lemas Kakek William. “dan sekarang aku harus mengulang daftar tahun depan!”

“Sudah resiko. Sudah tahu sedang mendaftar ke universitas, malah berburu makhluk mistis. Salah sendiri!” tukas Kakek William tajam dan membuatku makin lesu. “Yah, artinya kamu punya waktu untuk belajar dan berjuang supaya jadi lebih kuat lagi. Kau masih berkeinginan untuk menjadi kepala keluarga Zhang, kan?”

“Ya, benar sih. Tapi—“ aku ragu dengan gagasan itu.

“Kau mau Zhang Wuji yang mengambil posisimu?” pertanyaan itu membuatku membeku. Tentu saja aku tahu siapa yang dimaksud. Dia adalah kakak sepupuku dari anak perempuan yang lahir dari istri pertama Linghe-yeye. Dengan kata lain, cucu laki-laki pertama yang lahir. Namun, karena lahir dari anak perempuan ... tentu saja ia tak memiliki hak untuk menjadi kepala keluarga Zhang. Tapi, jika terjadi sesuatu padaku atau aku benar-benar tidak bersedia menjadi kepala keluarga ... maka ia akan diangkat jadi kepala keluarga. Meskipun aku tahu bahwa Kak Wuji tidak seambisius itu menjadi kepala keluarga. Dia lebih peduli untuk mengurusi keluarganya dan tidak tertarik menjadi seseorang yang berkuasa. Kalau tak salah, dia sudah menikah dan memiliki anak.

“Aku tak ingin itu terjadi,” aku mengepalkan tanganku kuat-kuat. “Kak Wuji bisa saja dicelakai oleh seseorang nantinya. Aku tak mau membuat keluarganya bersedih.”

“Jika demikian, kau harus berlatih lebih keras dan mendapatkan hantu-hantu yang kuat. Kakek akan mendukungmu agar menjadi lebih kuat dari sekarang,” Kakek William menepuk pundakku. “Omong-omong, Kakek membuatkanmu senjata bagus.” Beliau memberikanku belati berwarna kemerahan dan berujar. “Ini terbuat dari sengat manticore dan mampu menghancurkan zirah ataupun eksoskeleton binatang sihir. Belati ini pasti berguna untukmu.”

Aku menerimanya dengan agak ragu dan memperhatikannya. Ini terlihat seperti Knight Killer, tapi ini belati yang bagus. “Kakek, apa aku juga bisa membuat senjata sebagus Basilisk’s Fang atau Knight Killer ini?” tanyaku sambil memberikan belati itu pada Huaniang agar tersimpan sebagai inventory.

“Jika kau mengasah kemampuanmu sebagai pandai besi, kau bisa saja membuatnya, Mahardika,” jawab Kakek William tenang. “Lalu Kakek mau tanya, ngapain kamu menjadikan orang-orang dari keluarga Ludiraningrat sebagai infantrimu?” beliau menunjuk hantu-hantu ber-rank rendah di belakang Tian Yan.

Aku tertawa canggung. “Err, kupikir mereka akan berguna di kemudian hari. Makanya—“

Kakek William menghela napas. “Ya, ya, Kakek mengerti. Tidak usah kamu jelaskan.” Kakek William lantas menatapku dalam-dalam. “Semakin kamu kuat, sepertinya ada yang hilang dari dirimu. Tidak, mungkin kau sudah lama kehilangan itu. Nalurimu untuk membunuh manusia kembali dan membuatmu membantai mereka tanpa merasa bersalah. Patut kau ketahui, Mahardika. Semakin besar kekuatan yang kau miliki, semakin besar juga tanggung jawab yang akan kau emban. Jangan kau lupakan itu.”

Aku melalui waktu setahun untuk berlatih menjadi lebih kuat dan mengasah kemampuan-kemampuan lain. Sejujurnya kalau untuk beladiri aku masih sangat kurang, jadi kemungkinan nantinya aku akan ikut semacam pelatihan atau menemukan guru yang mengajariku secara eksklusif.

Sebenarnya kalau dibandingkan dengan cucu-cucu laki-laki Linghe-yeye yang lain—mengecualikan Kak Bayu dan Kak Rahmadi, aku hanyalah larva semut di mata mereka. Sementara mereka punya berbagai kelebihan yang tidak kumiliki. Meskipun kandidat terkuat selain aku adalah Kak Wuji, ada kemungkinan yang lain pun akan bersaing untuk mendapatkan posisi sebagai kepala keluarga. Walau secara teknis, itu tidak bisa dilakukan karena keluargaku yang menganut sistem patriarki.

September 2019 ... Aku mengenakan seragam OSPEK yang diminta oleh kakak-kakak senior. Kemeja putih dengan celana panjang hitam, lalu dengan amat sangat terpaksa rambutku dicukur cepak selama mengikuti OSPEK. Yah, tidak masalah sih. Selama aku nggak bikin masalah, kupikir aku bisa melewatinya dengan baik. Setelah masa OSPEK berakhir, aku memutuskan untuk masuk ke UKM Karate dan bukannya teater. Entah kenapa, aku ingin menghindari sosok Petra atau siapapun yang ada di UKM tersebut.

Aku melalui semester pertamaku dengan baik-baik saja sambil menyisihkan waktu untuk aktif di Karate dan sambil jualan. Untuk membantu keuangan Baba dan Moeder serta untuk tambahan uang saku juga, sih.

Aku sedang menuliskan pembukuan keuanganku di kantin saat sosok yang kuhapal di dunia lamaku menghampiri dan menyapaku. “Kamu Mahardika dari fakultas teknik jurusan teknik mesin, kan?”

“Ya, ada apa, Kak Petra?” tanyaku sambil menoleh ke arahnya.

Pria itu mengernyit. “Apa aku pernah mengenalkan diri? Kok kamu bisa tahu namaku?”

“Loh? Kakak kan memperkenalkan diri saat pengenalan UKM saat OSPEK dulu,” kataku mencari alasan. Gawat! Aku keceplosan menyebutkan namanya!

“Apa iya, ya? Aku lupa,” Petra menangkup dagunya dan menatapku lekat. “Kudengar kamu jualan, ya? Masih ada? Aku mau beli.”

Kenapa jadi  copy-paste dengan kejadian di dunia lama, ya? Tapi, karena aku melalui waktu yang diputar ulang, aku harus bersabar saat semuanya terjadi lagi. Meski tentu saja aku menghindari kemungkinan-kemungkinan terburuk. “Masih ada kue sus 20 lagi dan risoles 19 lagi. Kakak mau yang mana dan berapa banyak?” tanyaku.

“Semuanya, soalnya aku lapar banget dan makanan di kantin pasti sudah pada ludes,” Petra meringis melihat beberapa kedai di kantin sudah pada tutup karena makanannya sudah pada habis terjual.

Aku tertawa canggung menanggapi perkataannya. Siapa suruh baru datang ke kantin jam 4 sore? Ya sudah pasti pada habis, lah! Aku lantas memasukkan semua pesanannya ke dalam kantung plastik dan menyerahkannya padanya. “Semuanya jadi 39 ribu rupiah, Kak.”

“Terima kasih, ini untuk bayarannya. Kembaliannya untuk kamu saja,” kata Petra sambil memberikan uang seratus ribu padaku.

“Loh? Kak! Tunggu! Ini kebanyakan!” cegahku, namun ia berlalu sangat cepat dari tempatku. “Dia kenapa, sih? Korslet?”

“Tuan Muda, sepertinya dia—“ Yelan mulai berspekulasi.

“Jangan sampai. Aku nggak mau lagi menjalin kasih dengan laki-laki di kehidupan keduaku ini,” kataku dengan tegas.

Aku nggak boleh jatuh hati dengan laki-laki lagi. Itu hanya akan memperburuk keadaanku nantinya. Aku harus hidup dengan sesuai kodrat dan tidak boleh menyalahinya lagi.

Sialnya, Petra mendatangiku bersama Abah saat aku semester dua. Mereka memintaku untuk ikut serta dalam latihan drama karena mereka kekurangan orang dalam pertunjukan besar mereka, Legenda Raja Arthur. Aku menghela napas dan berujar pada mereka.

“Aku bersedia untuk membantu kalian dalam pentas tersebut, tapi aku tidak mau memerankan tokoh perempuan. Tidak masalah bila nantinya aku diberikan peran antagonis. Jika kalian tidak mau, anggap saja kesepakatan ini tidak pernah ada,” dengan tegas, aku harus mengatakan itu. Jika tidak, aku akan terperosok ke dalam kesalahan yang sama nantinya.

Abah dan Petra saling berpandangan, lalu mereka akhirnya berkata bahwa mereka akan mengatur soal itu dengan baik dan memastikan ujian kenaikan tingkatku di UKM karate tidak terganggu. Aku lalu melewati hari-hari latihan intensif di UKM karate dan teater. Aku juga menghindari hubungan intensif dengan anggota teater, mencegah terjadinya tragedi terulang. Lagipula, aku nggak mau sampai membunuh Petra kalau sampai dia ‘menyentuh’ku nanti. Jika itu sampai terjadi, artinya aku gagal memenuhi janjiku dengan Kakek William.

“Kau nampak pucat, apa kau baik-baik saja?” tanya Abah sembari memperhatikan wajahku seusai latihan hari itu.

“Ah, aku hanya sedikit kelelahan, Bah. Aku baik-baik saja,” aku berkilah sambil meraih obatku dari dalam tas, dan meminumnya segera.

“Itu obat apa?” sial, Abah memang jeli dari dulu. “Kau yakin kalau kau baik-baik saja?”

“Ini obat untuk penderita anemia, Bah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan!” jawabku segera. “Hanya perlu istirahat sebentar, nanti juga pulih.”

“Jangan memaksakan diri, ya? Anemia itu bukan penyakit yang bisa disepelekan,” Abah menepuk kepalaku pelan dan melempar senyum padaku sebelum meninggalkanku yang tengah membuka kotak bekalku.

Satu hal yang tidak pernah berubah dari lelaki yang bernama asli Zulfikar Baharuddin itu adalah ... dia masih tetap seorang yang baik hati dan peduli dengan orang lain. Terbukti dengan kekhawatirannya akan penyakitku itu. Yah, meski sebenarnya aku masih punya dua penyakit menyusahkan yang mengharuskanku minum obat lagi.

Setelah beberapa kali kontrol ke rumah sakit, sepertinya gangguan psikiatriku semakin memburuk dan otomatis jumlah obat yang harus kukonsumsi semakin banyak. “Ya, ampun. Aku jadi seperti pecandu narkoba saja ini jadinya,” keluhku sambil menghabiskan bekalku.

Jiuyang Shengong tidak dapat memulihkan penyakit bawaan ataupun penyakit mental. Jadi, aku harus mengandalkan obat-obatan untuk mengurangi dampaknya. Aku merasakan kehadiran seseorang di dekatku dan membuatku refleks menghunuskan garpuku ke arah orang tersebut.

“Woah, rileks, oi! Kamu mau bunuh orang dengan garpu itu?” Petra nampak pucat dengan sikapku yang super waspada itu. Ujung garpu yang tajam menempel di kulit lehernya.

“Eh, maaf, Kak! Refleks!” kataku sambil menarik tanganku dan meletakkan garpu di kotak bekal. “Kenapa Kakak tiba-tiba menghampiriku? Bukannya latihan sudah selesai?” tanyaku bingung.

“Sebenarnya,” ia nampak lebih gelisah dan berulang kali merapikan rambutnya yang agak gondrong itu dengan jari. “aku mulai tertarik padamu. Sejak pertama kali kita bertemu.”

Hah? Apa katanya tadi? Apa aku nggak salah dengar? “Kakak nggak salah ucap, kan? Aku laki-laki, bukan perempuan. Mana mungkin Kakak tertarik padaku, kan?” aku menatapnya tajam.

“Perasaanku nggak salah!” tegasnya. “Aku pikir itu tadinya hanya kekaguman, namun nyatanya aku benar-benar tertarik padamu. Dan aku ingin—“

“Aku menolak!” aku segera berkata dengan tegas. “Aku tidak mau berpacaran dengan laki-laki. Itu jawabanku. Maaf, Kak. Aku tidak bisa menerima perasaanmu.” Aku segera mengemasi barang-barangku dan berlalu dari gedung UKM teater.

“Tunggu!” aku tidak menduga kalau dia begitu gigih dan mencengkeram bahuku erat. “Kau yakin dengan ucapanmu? Aku benar-benar—“

Pria ini ... apa dia benar-benar ingin kubunuh? Tidak, aku tak boleh melakukan itu! Aku melepaskan tangannya dari bahuku dan menatapnya dingin. Aura membunuh menyelubungi diriku. “Aku yakin kalau aku tidak salah ucap. Kak Petra, kalau kau masih ingin hidup ... jangan pernah berpikir untuk menyentuhku. Mengerti?”

Aku melihat wajahnya pucat ketakutan dan akhirnya aku meninggalkannya yang masih terpaku di tempatnya. Aku yakin, dia tak akan berani macam-macam denganku setelah ini. Karena, aku berbeda dengan aku di dunia lamaku.

Waktu berlalu cepat dan aku mendapatkan hantu bernama Ding Lan dari ekspedisiku bersama seorang penyihir bernama Conrad von Lohengrin—dia meninggal karena kecerobohannya dalam menghadapi lawan-lawannya dan aku mengubahnya menjadi hantu pelayanku, dan akhirnya aku punya seorang healer yang handal. Paling tidak, untuk saat ini.

Hingga akhirnya tiba saat itu. Masa-masa di mana sebuah pandemi alias mimpi buruk terjadi. Tahun 2020, bulan Maret tanggal 11 ... penyakit COVID 19 menjadi bencana internasional karena menjadi pandemi di seluruh dunia termasuk Indonesia. Perkuliahanku juga menjadi kelas online dan hanya datang beberapa kali ke kampus untuk mengikuti praktikum. Masa-masa PSBB ini sungguh membuatku sedikit sulit beraktivitas karena ke mana-mana harus laporan dan mengenakan masker. Otomatis semua kegiatan pun benar-benar diawasi.

Saat aku di semester 3, kira-kira bulan November 2020 ... Petra datang ke rumahku dan aku dengan enggan menerimanya sebagai tamu. Aku bertanya padanya saat kami duduk di ruang tamu. “Ada keperluan apa sampai Kakak datang ke rumahku?”

“Aku ... entah kenapa seperti pernah mengenalmu sangat lama,” Petra memulai dengan canggung. “Maksudku, ini seperti bukan mengenalmu dalam waktu setahun ke belakang. Aku seperti sudah mengenalmu lebih dari dua tahun. Aneh, kan? Lalu ...” dia menatapku agak aneh dan dia menjangkau serta menyentuh sejumput rambutku. “...rasanya kau berambut panjang sepinggang, bukan sependek ini.”

Apa ini? Petra memiliki ingatan saat ia berada di dunia lama, kah? Bagaimana mungkin? “Kakak pasti salah. Aku nggak pernah memanjangkan rambut sejak aku kuliah.” Aku mencoba untuk berkilah.

“Mulanya aku berpikir bahwa aku salah ingat. Tapi,” ia kembali menatapku aneh. “aku merasa kalau aku pernah melakukan sesuatu yang buruk terhadapmu, makanya waktu itu kau mengancamku. Aku pernah menyentuhmu, kan?” pertanyaan itu membuatku refleks membulatkan mata.

Ya Tuhan Yesus, apakah ini karma? Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam dan mengepalkan tanganku kuat-kuat. Ingatan mereka-mereka yang ada di dunia lama, sepertinya bercampur dengan mereka-mereka yang ada di masa ini. Meskipun di masa sekarang Petra tidak menyentuhku, namun di dunia lama....

“Ya, kau memang menyentuhku di dunia lama atau di masa ketika aku mati di masa depan, dan itu membuatku sangat trauma terhadapmu,” aku perlahan menengadah dan menatap dalam matanya. “Karena itu, aku tidak mau kau melakukannya lagi di dunia baruku ini. Aku tak mau kau melakukan hal bodoh yang menunjukkan arogansimu padaku. Itu membuatku semakin buruk ke depannya.”

“Jadi, aku sudah melakukan hal buruk padamu, ya?” Petra nampak sangat menyesal. “Aku minta maaf, meski aku tahu maaf saja tak akan cukup untuk menghapus traumamu terhadapku.”

“Nasi sudah jadi bubur, Kak. Meskipun saat ini aku tidak kau sentuh pun, aku sudah tak lagi perjaka karena perkosaan yang kualami ketika aku berusia sepuluh. Makanya, aku berhati-hati saat berinteraksi dengan pria di sekitarku,” kataku getir. “Meski demikian, aku bersedia memaafkanmu. Namun, aku tetap tak bisa menerima perasaanmu. Itupun berlaku pada pria lain yang mungkin menaruh hati padaku.”

Aku harus mengatakan itu agar aku tidak lagi jatuh ke dalam kesalahan yang sama. Itu adalah hukuman untukku, jadi aku harus menerimanya dengan lapang dada.

“Aku mengerti, Mahardika. Maaf, aku malah membuatmu teringat hal-hal yang tak menyenangkan,” Petra berujar demikian sambil berdiri. “Kalau kau memerlukan bantuanku, katakan saja. Aku akan dengan senang hati membantumu.”  

“Aku tak yakin, tapi kalau kamu mau membantuku aku akan menerima. Namun, kuharap kau tidak syok saat tahu siapa aku sebenarnya nanti,” kataku lirih.

“Loh, kamu bicara apa? Kamu ya kamu, memangnya apalagi yang kau sembunyikan?” perkataan itu membuatku refleks menatapnya dalam-dalam. “Aku tidak mempedulikan apapun yang terjadi nanti, yang penting aku bisa membantumu keluar dari kesulitan.”

“Kakak yakin dengan ucapan Kakak itu?” aku menaikkan sedikit alisku. “Aku tak berharap Kakak akan melihatnya, sebab itu adalah sisi lain diriku yang kusimpan rapat-rapat.” Ya, aku pernah membunuh manusia di usia sangat muda, waktu itu karena aku dikuasai kegilaan dan amarah. Tapi, tetap saja ... banyak orang tak berdosa yang jadi korban. Aku berharap, aku tak lagi harus membunuh orang yang tak berdosa. Kalau penjahat sih, lain soal.

“Aku tak begitu paham, tapi aku ini kuat. Jadi, aku tak akan syok begitu saja. Yah, awal-awal memang syok. Tapi toh buktinya aku tetap menemuimu, kan?” Petra menyengir bajing.

“Terserah, deh. Tapi, aku tak menjamin keselamatanmu loh, ya?” aku akhirnya pasrah saja dengan kekeraskepalaannya itu.

Petra lalu berpamitan dan aku bersiap untuk kuliah online lagi setelahnya. Aku harus latihan setelah ini agar bisa menjadi lebih kuat lagi. Tapi, mungkin karena situasi di luar sangat buruk ... kesehatanku pun drop. Belum lagi, aku menerima hukuman dari Linghe-yeye. Otomatis aku harus dirawat intensif di rumah sakit akibat anemia dan infeksi  pernapasan. Nggak lucu! Padahal aku tahu kalau rumah sakit bukanlah tempat yang baik untuk perawatan, terlebih di masa COVID begini. Aku akhirnya menghabiskan waktu cukup lama di rumah sakit dan terpaksa mengikuti perkuliahan online di kamar rawat.

“Tuan Muda,” Yelan, Huaniang, Tian Yan, dan Ding Lan menatapku cemas.

“Nggak usah memasang wajah begitu, aku akan baik-baik saja,” jawabku segera sambil melirik ke arah kantong darah dan kantong infus di sisi ranjangku. “Karena aku nggak punya ‘berkah umur panjang Kandiaru’, aku nggak kebal terhadap penyakit. Walaupun aku  bersyukur masih bisa kebal racun dan kutukan.”

Kebal terhadap kutukan, dengan catatan bukan kutukan yang berasal dari diriku sendiri. Maksudnya kutukan yang kutujukan pada seseorang, namun mental balik ke aku. Kalau seperti itu kondisinya, aku tetap tak bisa menanganinya.

Balik lagi ke penyebab aku harus berakhir di rumah sakit. Kakek tua itu masih saja menghukumku dengan kejam jika aku tak memenuhi syarat sebagai pewaris. Ya Tuhan! Waktu aku memotong pendek rambut panjangku, beliau juga menghukumku karena aku dianggap  telah melanggar tradisi. Tapi, kalau dipikir lagi. Di rumah ini bukan hanya aku yang berambut pendek, kan? Kakak keduaku—Kak Rahmadi,  Xiaofan-erge telah memilih meninggalkan tradisi memanjangkan rambut sejak ia berumur sepuluh. Tapi, ia  terbebas dari hukuman karena sejak awal ia bukanlah pewaris. Kalau dipikir lagi, Linghe-yeye telah menetapkan berbagai  peraturan tak masuk akal untukku sejak beliau menyuruhku menjadi pewaris. Aku tidak punya kesempatan untuk menolak, jadi aku hanya bisa terus maju.

“Masalahnya, bagaimana caranya melampaui Linghe-yeye? Kekuatan tubuhnya dan mana yang beliau miliki luar biasa, melebihiku. Mungkin beliau itu masuk ke kelas Tanker-Mage, ya?” gumamku sambil menyandarkan punggung ke bantal.

Kalau di ranking, beliau mungkin berada di Rank S. Shuang Lin saja sampai harus terkena luka dalam untuk mengalahkannya, dan kemungkinan waktu itu ia berada di Rank B. Err, Rank AAA deh waktu dia dikuasai oleh Xuan Bian. Yang jelas, aku yang waktu itu maupun aku yang sekarang nggak akan bisa menandingi Linghe-yeye ataupun Shuang Lin. Ralat, maksudnya Xuan Bian.

“Hantu yang memiliki kekuatan setara Qi Rong itu lebih kuat daripada aku yang dulu. Artinya, aku harus latihan empat kali lebih keras supaya bisa melampauinya juga,” aku merenung. Aku yang sekarang setara dengan Tian Yan yang merupakan seorang Assassin-Tanker, meski aku masuk ke dalam kelas Assassin-Mage. “Kalau dipikir lagi, waktu itu aku kondisinya lebih buruk dari sekarang karena terkena kutukan akibat mengubah takdir. Jadi, wajar saja kalau aku tak bisa menangani  Xuan Bian.”

“Nona Huaniang, siapa itu Xuan Bian?” aku mendengar Ding Lan bertanya begitu pada Huaniang.

“Ah, itu semacam archenemynya Tuan Muda di masa lalu. Kekuatannya sangat dahsyat sampai harus ditangani oleh Dewa Beladiri. Dan hantu itu juga—“

“Huaniang,” aku segera memotong ucapan Huaniang sebelum hantu wanita itu membeberkan rahasiaku lebih banyak lagi pada Ding Lan. “jangan lanjutkan lebih dari itu.”

“Maafkan aku, Tuan Muda,” karena nama yang kuberikan pada hantu adalah semacam pengikat, mereka tak bisa menentangku kala aku menentukan sebuah perintah. Maka dari itu, Huaniang hanya bisa tutup mulut.

Sebenarnya, aku bisa saja menyuruhnya untuk kowtow. Tapi, kalau aku menghukumnya begitu ... yang ada semua barang di inventoryku berhamburan nantinya. Aku lantas mengevaluasi para hantuku saat ini. Tian Yan berada di rank A, begitu juga Ding Lan. Yelan saat ini di rank C, dan Huaniang di rank D. Perlahan tapi pasti, Yelan dan Huaniang kekuatannya kembali seperti dulu. Artinya, semakin kuat aku ... mereka semua akan menjadi kuat juga. Tapi, kekuatan penyerangku saat ini baru Tian Yan saja, dan percuma juga kalau ia mudah dilemahkan dengan sihir atau serangan fisik. Aku jadi keingat sama Sung Jin Woo yang memukul Hwang Dongsuk dengan satu tangan, dan melemahkan pertahanannya. Sedangkan saat melawan Kang Tae Shik,  ia menggunakan skill Murderous Intent. Tian Yan adalah gabungan antara Hwang Dongsuk dan Kang Tae Shik, jadi setidaknya ia punya pertahanan yang bisa menutupi kekurangan Assassin.

Tapi, tetap saja aku butuh Mage yang lebih kuat daripada Ding Lan dan Fighter yang bisa memimpin barisan depan. Kalau mengikut peringkat di Solo Leveling, sih ... kira-kira Tian Yan setara dengan Iron dan Ding Lan setara dengan Greed. Aku belum punya yang sekuat Igris,  Tusk, Beru, dan Bellion.

“Bahkan aku di dunia lama saja nggak punya yang sekuat itu,” aku menunduk lesu saat ingat bahwa semua hantu yang kupunya tak banyak membantu. Untuk Niao Lian, Ivanna, dan Jusetsu adalah pengecualian, tapi tetap saja mereka nggak berada di rank S. “Eh, tunggu ... apa yang terjadi kalau aku punya hantu yang berada di rank tinggi?”

“Tuan Muda,  apa kamu mau membuang kami saat punya hantu yang lebih kuat?” Yelan menatapku cemas.

“Mana mungkin. Jangan berpikir bodoh,” sergahku segera. “Aku butuh kekuatan lebih untuk melawan Linghe-yeye,  dan juga untuk melindungi keluarga Zhang dari ancaman. Makanya aku harus lebih kuat daripada aku yang dulu.” Paling tidak, aku harus berada di rank S atau di atasnya lagi.

Sebulan masa tinggal di rumah sakit berasa setahun bagiku. Karena harus ada ini dan itu, aku tak bisa meninggalkan rumah sakit dalam waktu singkat. Makanya akhirnya rawat inapku jadi sebulan. Sial banget! Masa-masa COVID memang tidak menguntungkan, makanya aku harus ekstra keras menjaga kesehatanku.

Agustus 2021, aku datang ke kampus untuk mengurusi cuti kuliah. Aku nggak bisa konsentrasi kalau memikirkan keinginanku untuk jadi lebih kuat di masa pandemi begini. Makanya, aku memutuskan untuk cuti selama satu tahun. Bedanya, kalau di dunia lama aku cuti karena sakit ... kalau sekarang, aku cuti dengan alasan memiliki pekerjaan yang tak bisa kutinggal. Meski pada kenyataannya, aku hanya kerja bantu-bantu orangtuaku jualan.

Aku harus berpikir untuk mencari pekerjaan saat masa cutiku dimulai, dan saat aku sedang duduk-duduk di teras fakultas teknik ... seseorang menghampiriku. “Permisi, Kak. Boleh minta tanda tangannya?” aku menoleh dan tanpa sengaja aku menghela napas.

Dan terjadi lagi ... kenapa juga aku mesti ketemu sama dia, Ya Salam? Aku melirik penampilanku dan baru kusadari kalau saat ini aku mengenakan jas almamater. Aku lupa juga kalau ini masa-masa OSPEK. Pasti aku dikira kakak-kakak panitia, deh!

“Dek, kamu fakultas mana?” tanyaku sambil menatapnya dari atas sampai bawah. Aku baru sadar kalau dulu semasa OSPEK, Shuang Lin terlihat lucu.

“Fakultas Teknik,  Kak. Jurusan Informatika,” jawabnya malu-malu.

Oh iya, aku baru ingat kalau aku dan dia sefakultas. “Anu,  Dek. Aku bukan kakak panitia. Lihat! Aku nggak pakai nametag, kan?”

Tanpa babibu, dia langsung ngibrit dan meninggalkanku yang menatapnya kebingungan. Shuang Lin kenapa, sih? Malu banget karena salah mengira? Aku nggak tahu, yang jelas katanya dia nggak ikut OSPEK sampai selesai. Kakak-kakak panitianya nggak tahu kenapa dia nggak ikut sampai selesai. Tapi, aku tahu alasannya. Shuang Lin menderita asma dan PTSD. Kombinasi fatal yang mengancam nyawa.

Sepulang dari kampus, aku ke rumah sakit untuk kontrol bulanan. Lalu pulang dengan sekantong kresek obat-obatan. Lagi-lagi obatku banyak seperti biasa, dan membuatku sedikit frustrasi karenanya. Omong-omong, gara-gara PSBB ... aku jadi nggak pernah latihan karate lagi. Tentu saja akibatnya ujian kenaikan tingkatku jadi makin tertunda. Bayangkan saja, dua tahun kuliah dan aku baru sabuk hijau! Ya Salaaaam!

Suatu hari di bulan November 2021, sebuah tawaran pekerjaan datang padaku. Mereka membutuhkan shaman untuk ekspedisi alam gaib. Pekerjaan ini bukanlah sebuah pekerjaan remeh, malahan sangat berbahaya dan butuh pengalaman lebih di bidangnya. Aku sendiri bingung bagaimana orang yang bernama Satria Juhana ini bisa tahu nomorku dan identitasku, tapi ya sudahlah. Daripada bengong juga, akhirnya kuterima pekerjaan tersebut. Apalagi bayarannya luar biasa besar, delapan juta rupiah untuk sekali ekspedisi. Lumayan lah, aku bisa pakai untuk bayar UKT-ku.

Kukenakan jaket  hoodie biru mudaku dan mengemasi berbagai kebutuhan dalam ransel. Aku menyimpan senjata dan ramuan pada inventory alias Huaniang. Lagipula, aku tak perlu menyebutkannya secara langsung untuk memanggil benda-benda yang kubutuhkan. Hanya menyebutkan dalam hati, mereka akan segera muncul di tanganku.

“Mahardika,” Kakek William mendatangiku sebelum aku berangkat. “Berhati-hatilah, pekerjaan yang kamu terima itu sepertinya mencurigakan. Kakek khawatir mereka akan mencelakaimu.”

“Jangan khawatir, Kek. Aku bisa jaga diri, kok. Lagipula, meskipun mereka punya mata batin sekalipun, mereka tak akan bisa melihat Huaniang yang berfungsi sebagai inventarisku,” kataku dengan santai.

“Kakek percaya padamu,” lelaki tua berkacamata itu tersenyum. “jangan lupa janjimu pada Kakek, kau tak boleh membunuh orang yang tak berdosa.”

“Aku mengerti, Kek. Mahardika pamit dulu, ya?” aku segera menyalami tangannya dan menciumnya. Barulah setelahnya aku berangkat.

Aku memarkirkan motorku di depan pabrik tua di bilangan Depok. Rumah utama keluarga Zhang juga ada di daerah Depok, sih. Tapi, lokasi yang ditunjukkan oleh Pak Satria berada di Sukmajaya. Ini dekat dengan studio alam TVRI yang katanya angker itu. Aku bertanya-tanya juga, sih. Kenapa mereka menyuruhku jauh-jauh datang dari Lenteng Agung ke Depok? Aku menggendong ranselku dan berjalan ke arah dalam pabrik. Aku  melihat sekelompok orang yang lebih tua dariku berkumpul di sana, kira-kira ada 6-7 orang. Pria yang lebih tua menghampiriku dan menyapaku.

“Halo, maaf memanggilmu ke sini, Tuan Muda Zhang,” sapa pria itu. “Nama saya Satria Juhana, saya mendapatkan nomormu dari kenalan saya.”

“Kenalan?” alisku bertaut. Yah, aku lebih sering menggunakan nama Cinaku untuk orang di luar kampus, sih. Jadi, aku nggak perlu bertanya kenapa pria ini memanggilku ‘Tuan Muda Zhang’. Tapi, dari mana pria ini dapat nomorku? “Ah, nama saya zhang Yaoguang. Panggil Yaoguang atau Yao-er saja, jangan pakai embel-embel ‘Tuan Muda’. Rasanya nggak enak dipanggil begitu.” Aku jujur saja tidak terlalu suka dipanggil demikian oleh orang-orang di luar lingkungan rumah atau para hantuku. Makanya, aku memilih untuk dipanggil dengan nama kecil saja.

“Baiklah, Yao. Seperti yang kukatakan di telepon, kami membutuhkan shaman untuk ekspedisi ini. Tujuan kami adalah membersihkan tempat-tempat angker dan membuatnya kembali ramai. Dari  sanalah, kami akan mendapatkan bayaran besar,” kata Pak Satria seolah memberikan penjelasan padaku. “Nah, tolong tanda tangani kontrak ini.”

Aku membacanya dengan seksama dan mengernyitkan alis. Segala sesuatu yang terjadi dalam ekspedisi ditanggung sendiri, ya? Artinya berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Lalu, barang jarahan yang didapatkan dari ekspedisi akan dibagi 8. Sepertinya tidak ada yang mencurigakan, jadi kutandatangani kontrak tersebut dan mengembalikannya pada Pak Satria.

“Yao, satu hal lagi. Kami harap, kamu tidak mengajak siapapun ke sini. Sebab, kami bergerak secara rahasia,” Pak Satria tiba-tiba menampakkan raut aneh.

“Kenapa rahasia?” tanyaku penasaran.

“Tahan rasa ingin tahumu, Dik. Kamu tak ingin celaka, kan?” salah satu teman Pak Satria melingkarkan tangannya ke bahuku dan aku merasakan cengkeraman yang kuat. Sepertinya mereka mengancamku, ya?

“Baiklah, aku mengerti. Aku tak akan bertanya,” aku menghela napas. “Omong-omong, rasanya tadi aku melihat kalian ada tujuh orang. Satu orang lagi ke mana?” aku menebar pandangan ke sekeliling.

“Nah, itu dia,” Pak Satria menunjuk ke belakangku dan membuat mataku melebar saat menoleh ke arahnya.

“Kak Petra?”

“Loh, Mahardika? Kamu menerima pekerjaan di ekspedisi alam gaib juga?” Petra malah kelihatan kaget.

“Kalian saling kenal?” temannya Pak Satria yang bernama Ono nampak kaget.

“Ah, dia kakak tingkat saya, Mas. Kami satu universitas, tapi beda fakultas,” jawabku gugup. “Sebentar ya, Mas. Saya mau bicara dulu dengannya.”

Aku segera menyeret Petra menjauh dari kerumunan itu dan berbisik-bisik. “Kak Petra, ngapain kamu di sini? Bukannya kamu nggak bisa lihat ‘mereka’?”

“Oh, aku menerima pekerjaan sebagai tukang angkut barang-barang mereka. Bayarannya gede, delapan juta. Kapan lagi ada pekerjaan gampang dengan upah segede itu, kan?” jawab Petra dengan santainya. “Aku nggak ngerti, kenapa kamu mengenalkan diri sebagai Zhang Yaoguang? Bukannya namamu Erlangga Adiputra Mahardika?”

“Ah,  itu nama asliku. Aku sudah pernah bilang kan, kalau aku ini keturunan China-Belanda-Indonesia? Aku lebih sering pakai nama Cina di luar kampus dan luar lingkungan rumah,” aku sedikit canggung saat menerangkan hal tersebut pada Petra.

“Oh, aku paham sekarang. Yah, aku mengandalkanmu dalam menangani soal makhluk gaib, ya?” Petra menepuk pundakku dan aku menanggapinya dengan tawa canggung.

Aku dan Petra lantas kembali bergabung dengan Pak Satria dan kelompoknya. Aku bersiap dengan benda-benda yang digunakan untuk eksorsisme dan berjalan beriringan dengan Petra yang menggendong tiga ransel besar yang entah berisikan apa. Melihatnya yang tidak kesulitan menggendong ransel besar itu membuatku berpikir kalau jangan-jangan dia ini punya tenaga monster?

Tapi kondisi ini, kenapa dia jadi kayak Sung Jin Woo sementara aku jadi kayak Yoo Jin Ho? Hhh, aku berharap ini tim nggak kayak timnya Hwang Dongsuk yang berkeinginan untuk membunuh Jin Woo dan Jin Ho, kalau itu sampai terjadi ... artinya aku harus membunuh di depan Petra.

“Mahardika, ada apa? Kok wajahmu jadi seram begitu?” tanya Petra sambil berbisik-bisik saat kami berjalan beriringan.

“Aku hanya mengkhawatirkan beberapa hal, Kak. Tapi, jangan cemas. Aku berani jamin kalau Kak Petra tak akan kenapa-kenapa,” kataku sambil tersenyum kecil.

“Yao, tolong buka gerbangnya,” suara Mas Ono mengagetkanku.

“Ah, baik!” aku segera menjalin tali dan menyalakan beberapa lilin hitam. Lalu menabur garam dan beberapa bubuk ramuan kering, setelahnya aku baru mengucapkan mantera. Sebuah gerbang dunia lain terbentuk menyerupai bentuk gate seperti di dunia Solo Leveling. Begitu gerbang tersebut terbuka, kami segera memasukinya. Tentu saja aku berjalan di belakang bersama Petra.

Sebenarnya, aku agak mencemaskan tim  eksorsis ini. Kalau melihat peralatan mereka, kayaknya mahal. Tapi, kenapa harus mempekerjakan shaman juga? Dan lagi shaman yang masih mahasiswa sepertiku, kenapa bukan yang lebih profesional? Kesampingkan tentang hak istimewa keluarga Zhang, kemampuanku sebagai shaman masih belum memadai untuk saat ini.

Tugasku hanya menyucikan tempat ini dari ‘mereka’ dan mengirimkan mereka ke alamnya. Sebenarnya itu bukan pekerjaan yang terlalu berat, aku sudah berulang kali melatih kemampuan eksorsisme. Hanya saja  ... aku mencemaskan cara orang-orang ini yang begitu kasar memperlakukan arwah penasaran. Aku nggak ngerti lagi di sini siapa yang sebenarnya setan.

Kami tiba di luar gerbang dan memasuki wilayah studio alam TVRI yang katanya berhantu. Dari luar, aku sudah dapat merasakan aura yang sangat kuat. Kira-kira lilin-lilin dan peralatanku cukup nggak, ya? Pak Satria, Mas Ono, Mas Danu, Pak Wahyu, Pak Bima, dan Mas Anton sudah mendahului masuk ke dalam sana dan segera saja gumpalan energi negatif menghadang. Itu adalah kumpulan-kumpulan roh jahat yang penuh dengan dendam. Segera saja aku menggunakan purifying spell dengan lilin putih, minyak lavender, dan selenite. Ini menghabiskan banyak mana, tapi ini adalah sihir yang paling kukuasai.

Rintangan telah hancur, dan kami menuju ke arah sumber aura jahat ini berasal. Bangunan yang ada di tengah-tengah dengan cat berwarna merah. Katanya sih, ada hantu sinden di sana dan rasa-rasanya kok ... mirip Badarawuhi dalam kisah KKN di Desa Penari, ya? Baru saja kami berdiri di depan pintu, ada tembang dalam bahasa Jawa. Aduh, aku nggak ngerti lagi. Ini kita lagi ada di pesta kawinan adat Jawa apa bagaimana, sih?

“tā mā de, zhè shì shénme dōngxī?” umpatku kesal dalam bahasa Cina. Pengennya sih pakai bahasa Sunda, tapi takut ada yang paham. Mampus, deh.

Pak Satria dan yang lainnya menatapku aneh. Seolah mereka berkata ‘ngomong apa sih nih anak?’. Aku segera melambaikan tanganku dan berujar. “Jangan pedulikan saya, tadi saya sedang kesal saja. Haha.”

Pak Satria membuka pintu dan suasana singup pun menyambut kami. Bagian dalam bangunan nampak tidak terawat, namun lagu Jawa masih mengalun di udara. Aku mengucap beberapa mantera banishing dan protection sambil menyalakan lilin hitam dan menabur seasalt. Paling tidak harus ada pelindung di sekitar kami agar tidak terkena energi negatif hantu tersebut. Kutukan adalah hal terburuk yang mungkin diterima tim ini, tapi aku adalah pengecualian karena aku kebal terhadap kutukan.

Mas Ono dan Pak Satria bertindak cepat untuk menghancurkan entitas sinden itu. Dan entah bagaimana ceritanya, suasana bagian dalam gedung terasa lebih lega serta ‘bersih’. Mereka lalu memunguti barang-barang yang ada di tempat ini lalu membagikannya pada anggota tim, termasuk aku dan Petra. Barang-barang dari emas, dan semuanya sudah disucikan. Uang delapan juta rupiah juga sudah ditransfer dan masuk rekening.

“Kerja bagus, Yao! Petra juga! Ayo, kita makan siang dulu,” ajak Pak Satria sambil menyuruh kami berdua untuk makan bersama mereka. Kami pun mengikuti apa yang disuruh. “Besok, kita akan ke Menara Saidah di Cawang,” perkataan Pak Satria itu membuatku yang sedang mengunyah nasi langsung tersedak.

“Hah? Menara Saidah? Yang kelihatan dari stasiun Cawang itu?” tanyaku sedikit syok. Gila, naik apa ke sana? Pakai motor jelas nggak mungkin, aku bisa saja mengendarai mobil tapi ... horeang euy!  Kalau naik kereta, buset itu lagi! Mencolok banget kalau bawa-bawa ransel gede berbau aneh.

“Iya, kenapa memangnya? Toh, ekspedisi kita kali ini sukses berkat kamu, kan? Apa kamu takut?” Pak Satria tersenyum aneh.

“Bukan begitu, Pak. Baiklah, saya akan ke sana dengan kereta,” kataku sambil menghabiskan makan siangku secepat mungkin. Jaraknya lumayan banget dari Lenteng Agung, tapi nggak masalah lah.

Meski begitu, aku nggak nyangka kalau apa yang kutakutkan bakalan kejadian. Walau pada awalnya Pak Satria dan timnya bersikap ramah dan baik padaku dan Petra, kenyataannya berbeda saat kami berada di Menara Saidah. Saat berada di dalam gedung 28 lantai itu, entah mengapa Pak Satria dan timnya terlihat aneh. Seolah mereka kesurupan hantu di tempat ini. Tidak, sejak awal mereka memang memiliki niat jahat. Jika tidak, mana mungkin mereka memilih menara ini sebagai tempat ekspedisi?

Menara Saidah terkenal sebagai gerbang menuju dunia lain. Semua kejadian di tempat ini tak akan terekspos keluar, sama halnya dengan sesuatu yang terjadi dalam dungeon. Tempat ini tidak bisa dipindai dengan peralatan elektronik dan tidak ada cctv juga. Karena semuanya ada 28 lantai, tidak mungkin juga kami akan memusnahkan semua roh di sini, kan?

“Tempat ini membuatku merinding,” komentar Petra saat berada di pintu masuk Menara Saidah. “Aku tidak bisa melihat makhluk halus, tapi entah kenapa aku merasa tidak enak.”

Bahkan orang yang tidak memiliki mana seperti Petra pun bisa merasakan kengerian tempat ini, ya? Tapi, aku tak paham kenapa barang bawaanku diperiksa saat tiba di tempat ini. Mereka tidak menemukan sesuatu yang aneh, jadi akhirnya aku dibiarkan masuk dengan membawa ranselku. Yah, mereka tak akan bisa memeriksa inventarisku, kan? Huaniang memiliki skill stealth yang cukup mumpuni dan tak bisa dideteksi dengan cara apapun. Yang bisa melihatnya hanya aku saja yang merupakan pemiliknya.

“Kak Petra, jangan jauh-jauh dariku,” peringatku padanya.

“Aku pasti nggak akan jauh-jauh darimu, tapi kenapa kau memperingatiku lagi?” Petra kelihatan bingung.

“Musuh kita bukan hanya roh jahat saja, tapi—“ ucapanku terpotong ketika suara Mas Danu mengejutkanku.

“Oh, Dek Yao dan Dek Petra sudah datang, ya? Ayo, kita segera masuk,” ajaknya pada kami berdua.

Meskipun perasaan kami nggak enak, kami berdua masuk dan saat tiba di lobi ... aku segera menggunakan banishing dan protection spell untuk menjaga kami dari hal-hal yang nggak diinginkan. Tapi, tentu saja sihir ini hanya berlaku untuk makhluk gaib. Bukan untuk melindungi dari kejahatan manusia.

Sambutannya luar biasa saat berada di dalam gedung. Lalu seperti biasa, Pak Satria dan timnya berperang dengan makhluk gaib yang ada di lantai dasar ini. Mereka sangat kompak seperti biasa, dan itu menimbulkan perasaan aneh bagiku. Perburuan berlanjut hingga lantai 7, hingga tiba-tiba saja mereka pergi duluan menuju ke basement karena ada urusan dan membuatku menempatkan Tian Yan dan Yelan ke dalam bayangan Pak Satria dan Mas Ono.

“Kenapa mereka pergi duluan dan meninggalkan barang jarahan ini, ya?” tanya Petra bingung.

“Aku juga nggak tahu, Kak. Yang penting, kita kemas dulu saja barang-barangnya,” kataku sambil mengikat kain pembungkus dan meletakkannya di inventarisku alias Huaniang.

“Tuan Muda!” Yelan tiba-tiba menghadap dan melaporkan padaku dengan panik. “Segera ke basement sekarang!”

“Ada apa? Pelan-pelan,  Yelan,” kataku mencoba memahami perkataan hantuku ini.

“Aku tak bisa jelaskan! Anda harus melihatnya sendiri!” Yelan masih nampak panik.

“Ding Lan!” seruku pada hantu pria itu dan sosok penyihir berambut pirang itu muncul di depan kami. “Segera teleportkan aku dan Kak Petra ke tempatnya Tian Yan!”

Tanpa banyak bicara, penyihir itu segera melakukan apa yang kusuruh dan begitu kami sampai di tempatnya Tian Yan ... mataku melebar saat melihat kedua kakak laki-lakiku bersimbah darah dan nampaknya menderita patah tulang juga. Aku melihat senjata milik Pak Satria dan timnya ternoda darah. Apa-apaan ini?

“Oh, Dek Yao dan Dek Petra ada di sini? Aku baru saja hendak menghabisi orang-orang yang memata-matai kita ini,” Pak Satria menyengir kejam.

“Pak Satria, apa yang Anda lakukan pada Kak Bayu dan Kak Rahmadi?” tanyaku dengan suara bergetar. “Apa salah mereka sampai Anda dan orang-orang Anda ingin membunuh kedua kakakku?”

“Yao, bukannya kami sudah bilang kalau tidak boleh mengajak orang ke sini?” Pak Wahyu menyeringai kejam. “Kami hanya memberikan sedikit pelajaran pada mereka.”

“DING LAN! SEMBUHKAN MEREKA, CEPAT!” teriakku segera pada hantu berambut pirang itu.

Segera saja ia bergerak untuk menyembuhkan mereka berdua. Namun, Pak Satria menatapku aneh. “Sepertinya kau bukan sekedar shaman biasa ya, Yao? Kami harus membunuhmu dan Petra agar tidak ada barang bukti.”

Aku mendecih. Tapi Pak Bima berujar, “Dia itu anak keluarga Zhang, loh. Nggak apa kalau kita membunuhnya?”

“Peduli setan! Yang penting, kita harus mengurus mereka,” Pak Satria nampak gila. Ia menghunuskan senjatanya ke arahku dan Petra. “Apa kalian pernah membunuh orang? Sepertinya kalian harus bersiap.”

Mas Anton menyerang ke arah Petra dengan bola energi, aku segera berlari ke arahnya dan menerima serangan itu. Akibatnya aku pun tersungkur di tanah dan aku merasakan kepalaku berdenyut-denyut serta perih. Sial, ada luka di sana, ya?

“Mahardika! Kau baik-baik saja?” Petra berseru khawatir padaku. “Kenapa kalian begitu tega?” serunya pada Pak Satria dan timnya.

“Yang lemah akan mati, itulah hukum dunia ini,” Pak Satria menyeringai. “Sepertinya aku akan membunuh Yao dulu, baru kamu.”

Saat ini aku sadar, mengapa Kakek William memperingatkanku sebelum berangkat hari itu. Tidak semua orang yang bekerja di bidang ini adalah orang baik. Orang-orang tamak dan mengincar ketenaran pun ada. Mungkin aku telah tertipu, atau mungkin juga bodoh. Padahal inderaku sudah memberitahuku bahwa mereka berenam berbahaya dan berbau darah. Aku segera bangkit dan menyeka luka di pelipisku dengan lengan jaketku.

“Kenapa aku bisa lupa? Kalau aku lemah, semuanya akan direnggut dariku,” ucapku sambil berjalan mendekat ke arah mereka. “Kalian sampai berbuat sejauh ini, artinya kalian sudah siap menerima konsekuensinya, kan?” aku menatap elang keenam pria itu.

“Apa katamu?” Pak Bima mengerutkan alis. “Satria, biar aku saja yang mengajari bocah ini.” Pria berkuncir itu mendekatiku dan merangkulku. “Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh bocah sepertimu?”

“qù sǐ ba,” ucapku sambil menggerakkan belatiku dan membuat kepalanya terpisah dari badannya. Darah muncrat dan mengotori wajah dan bagian atas jaket biru mudaku.

“Bima!” seru Pak Satria dan lainnya kaget saat melihat aksiku.

“Sejak kapan dia pegang senjata? Anton, kamu tadi periksa tasnya, kan?” seru Mas Ono tegang.

“Aku sudah periksa dan nggak ada senjata itu di sana! Tadi, Pak Wahyu dan Danu juga lihat!” seru Mas Anton panik.

“Ma, Mahardika?” Petra nampak pucat. Oh, iya. Dia baru kali ini melihatku membunuh manusia,ya?

“Maafkan aku, Kak. Kau harus melihatku seperti ini. Tapi,” aku menatap elang lima orang yang tersisa. “mereka ini harus menerima hukumannya.”

“Kubunuh kau, Yao!” seru Pak Satria sambil menyerang bersamaan dengan kawan-kawannya.

“nǐ zhège hún dàn! qù sǐ ba!” seruku sambil menyerang Mas Ono dan Mas Danu dengan belatiku dan membuat mereka mengalami kelumpuhan dan pendarahan hebat. Lalu menyerang Pak Wahyu dan Mas Anton dengan cepat agar mereka tidak bertindak dengan sihirnya.

“Kau memang cepat, Yao. Tapi, apa kau bisa mengalahkanku dengan ajian tubuh besi ini?” Pak Satria memperkuat pertahannya dengan kekuatan batinnya.

Pada akhirnya, ia sama saja dengan Hwang Dongsuk, ya? Aku bergerak cepat ke arahnya dan menekap wajahnya dengan tangan kananku. “Pak Satria, kuakui Anda memang kuat. Tapi, aku punya berita buruk untuk Anda.” Aku membantingnya ke tanah dan menghilangkan ajiannya dengan sekejap. “Aku selama ini berlatih agar menjadi lebih kuat.” Aku menatapnya dingin.

“Tunggu! Jangan bunuh aku!” Pak Satria menatapku horor. “Barang jarahannya bisa kalian ambil semua dan uang bayarannya akan kutingkatkan jadi tiga kali lipatnya! Jadi, ampuni aku!”

“Lima kali,” aku segera memotong. “Bapak sudah mengatakan akan membunuhku dan berniat melakukannya sebanyak lima kali dan berusaha membunuh kedua kakakku. Sekarang, Anda memintaku untuk mengampuni Anda?” aku menatapnya dingin.

“Kau pikir bisa lolos dari ini, bajingan?! Apa kau tahu kalau adik lelakiku—“ aku memutus kepalanya dengan belatiku dan membuat kepala Pak Satria menggelundung di dekat kakiku.

“Aku tak peduli siapa dia, kalau ia mencoba menyentuh seujung rambut saja anggota keluargaku atau temanku ... ia tak akan selamat,” ujarku dingin. Meskipun aku tahu itu akan percuma, orang mati tak akan bisa berkata-kata, kan?

Aku mendengar suara orang muntah di belakangku.  Yah, wajar saja kalau Petra sampai bereaksi begitu. Aku baru kali ini sebrutal itu di depannya, kan? Aku mendekati Ding Lan dan bertanya padanya. “Bagaimana keadaan kedua kakakku?”

“Maafkan aku, Tuan Muda. Nyawa mereka bisa diselamatkan, tapi ... aku tak bisa menyembuhkan patah tulang Tuan Bayu,” jawab Ding Lan dengan penuh sesal.

“Tidak apa, kita akan bawa mereka ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan intensif,” kataku sambil memapah Kak Rahmadi. Ding Lan memapah Kak Bayu dengan hati-hati dibantu oleh Tian Yan.

“Mahardika,” Petra menatapku lemah. “Tolong jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi? Ini bukan kali pertamamu membunuh orang, kan? Gerakanmu itu—“

“Aku akan jelaskan semuanya, Kak. Jadi, kau bisa ikut aku ke rumah sakit. Tolong setirkan mobil, ya?” pintaku pada Petra sambil menepuk pundaknya. “Oh, ya. Sebelum aku lupa,” aku menatap mayat-mayat di sekitarku. “Arise.” Pak Satria dan kelima anggota timnya akhirnya menjadi hantu pelayanku. Aku lantas menyuruh mereka kowtow selama 36 jam di sana, lalu mengajak Petra untuk segera ke parkiran.

Kak Bayu dan Kak Rahmadi ke sini pasti dengan mobil, kan? Tebakanku benar saat melihat xpander hitam di depan bangunan Menara Saidah. Aku dan Ding Lan mendudukkan Kak Bayu dan Kak Rahmadi di bangku tengah, lalu ia duduk di dekat jendela. Sementara aku duduk di sebelah Petra yang menyetir menuju ke rumah sakit UKI, dan membawa kedua kakakku ke UGD segera.

Aku menanti pemeriksaan dokter bersama Petra di luar ruangan dan mulai bercerita pada kakak tingkatku itu. “Kau benar, itu bukan kali pertamaku membunuh orang. Aku sudah pernah membunuh orang ketika usiaku 7 tahun. Saat itu, aku dirundung habis-habisan karena aku anak blasteran. Hingga akhirnya aku tidak tahan lagi dan membalas mereka, tapi ... sepertinya kemarahanku berubah jadi keinginan membunuh yang membara. Karena itu—“

“Kamu membunuh orang-orang di sekitarmu?” tebak Petra. Aku menganggukkan kepalaku. “Tapi, membunuh orang di usia semuda itu ... apa tidak berpengaruh pada kejiwaanmu?”

“Tentu saja berpengaruh,” aku menatap sedih ke arahnya. “Bagaimanapun, aku tak hanya membunuh orang jahat. Tetapi juga orang tak berdosa, sehingga sekolahku ditutup karena semua murid dan gurunya kubunuh dengan kedua tanganku ini. Kejadian itu berlanjut  saat aku berusia 8, dan akibatnya aku harus dirawat di rumah sakit jiwa dalam waktu cukup lama karena tekanan psikis yang berat. Hal itu berlanjut saat aku berusia 10 dan nenekku tewas saat melindungiku dalam peristiwa itu.” Aku menghela napas panjang. “Keluarga Zhang memiliki otoritas dalam menekan media dan hukum, jadi aku tidak dikenakan hukuman pidana walau melakukan tindakan sekejam itu. Tapi, sepertinya setelah ini akan ada hal buruk yang menantiku dan anggota keluargaku.”

“Adik laki-laki Pak Satria itu namanya Yudhi Juhana, dia seorang kepala gangster dan anggota klub eksklusif milik Jon Jones, petarung MMA terkuat di dunia. Kalau kamu jadi targetnya Yudhi, anggota keluargamu pun bisa jadi targetnya selain aku,” penjelasan Petra itu membuat tengkukku merinding.

Sial, Yudhi dan Jon Jones itu kekuatan fisiknya di atasku! Kalau aku yang sekarang melawan mereka, sudah pasti aku akan mati! Aku menatap ke arah langit-langit, aku harus latihan intensif dan menemukan hantu-hantu yang kuat agar aku bisa mengalahkan mereka! Hanya itu peluang yang kupunya.

“Err, ini mungkin terkesan pribadi, tapi ... tadi kamu ngapain di depan mayat Pak Satria dan yang lainnya?” tanya Petra penasaran.

Oh ya, aku lupa kalau dia lihat proses itu, ya? “Tolong rahasiakan apapun yang kau lihat dan dengar, ya? Itu adalah kemampuan nekromansi turunan dari keluargaku. Tapi, berbeda dengan kemampuan yang dimiliki keluargaku, aku hanya bisa mengekstrak jiwa mereka dan menjadikan mereka sebagai pelayanku. Semacam tentara hantu, tapi mereka bisa mewujud menyerupai manusia hidup seiring bertambah kuatnya aku. Dengan kata lain, mana yang mereka miliki bersumber dariku.”

“Ya, ampun. Ini kok kedengarannya seperti game, ya? Maksudku nekromansi dan semacamnya kupikir cuma ada dalam game,” Petra menghela napas. “Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Tentu saja mengasah diriku agar menjadi semakin kuat dan menemukan hantu-hantu kuat agar bisa melindungi diriku dan orang-orang sekitarku. Berhubungan dengan keluarga Zhang memang beresiko seperti itu, makanya aku harap aku bisa melindungimu dengan bantuan hantuku,” aku menatapnya sedikit enggan. “Lagian kok kamu bisa-bisanya kegiur sama pekerjaan sebagai porter ekspedisi alam gaib? Kamu sampai melihat sisi lain diriku yang aku hindari orang untuk tahu hal itu.”

“Yah, aku sedang senggang juga, sih. Soalnya perkuliahan kan lebih banyak online, jadi aku punya banyak waktu luang,” jawab Petra santai.

“nǐ shì gè shǎ guā!” aku mengatai Petra dengan bahasa Cina.

“Hei, kamu ngatain aku bego, ya?” Petra meradang.

“Heee, kamu ngerti bahasa Cina, toh?” aku meledeknya.

“Nggak, tapi sudah pasti kamu ngatain aku, kan?” ia menudingkan jarinya ke arahku.

“Dih, pede banget kamu, Kak!” sergahku segera, mencoba berkilah. “Yang jelas, kalau kamu butuh pekerjaan ... mendingan kerja di rumahku saja. Keamananmu terjamin!” Diam-diam aku menyusupkan Tian Yan ke bayangan Petra.

“Seriusan?” Petra menatapku tak percaya. “Aku bakalan dibayar berapa?”

“Nggak segede Pak Satria kalau sehari sih, palingan ya hanya seharga nmax kalau dikumpulin sebulan,” jawabku asal.

“Kamu gila, ya? Itu sih gede banget, oi!” Petra terbelalak. “Aku mesti kerja ngapain?”

“Jualan kue dan camilan,” aku nyengir. Petra lesu mendadak.

 Dokter keluar dari ruang UGD dan aku segera mengampirinya. “Dokter, bagaimana kondisi kakak-kakak saya?”

“Dokter Bayuadjie mengalami patah tulang parah di kedua lengan dan kaki. Mungkin butuh tiga bulan agar pulih sempurna, itupun harus menjalani terapi agar bisa bergerak dengan optimal seperti sediakala. Untuk Psikolog Rahmadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi, mungkin ia akan mengalami trauma atau semacam phantom pain. Jadi, ia harus terapi agar bisa pulih,” jawaban dari Dokter Maryo ini membuatku ingin menambah hukuman Pak Satria dan kroninya, tapi aku segera menahan diri.

“Begitu, ya? Terima kasih atas pemberitahuannya, Dokter Maryo,” aku menundukkan sedikit kepalaku dan segera masuk ke ruang rawat kedua kakakku.

Mereka berdua terlelap, namun aku yakin mereka kesakitan luar biasa gara-gara luka yang diberikan Pak Satria dan kroninya. Ding Lan telah berhasil menghilangkan rasa sakit itu, namun patah tulangnya Kak Bayu ternyata tidak bisa disembuhkan olehnya. Aku baru ingat kalau Ding Lan memiliki kondisi khusus saat menyelamatkan seseorang yang berada di ambang kematian. Ia hanya bisa memulihkan satu dari dua kondisi, keadaannya sama bila ada tiga kondisi. Ia hanya bisa memulihkan dua dari tiga. Intinya tidak bisa 100% pulih bila kondisinya di ambang kematian. Artinya, aku harus punya hantu yang support magicnya melebihi Ding Lan.

Aku mengeluarkan ramuan penyembuh tulang patah dari inventaris dan meminumkannya ke mulut Kak Bayu, ia terbatuk dan seketika siuman. Aku tersenyum saat melihatnya. ”Bagaimana kondisimu, Xiaolan-dage?”

“Sensasi yang bikin tersedak ini, itu ramuan penyembuh tulang, ya?” tanya Kak Bayu sambil menudingkan jarinya ke arahku. “Adouw!”

“Dage, ramuan itu butuh waktu seminggu untuk memulihkan 100% loh, jangan banyak gerak dulu,” aku menegurnya. “Atau Dage lebih suka ngamar di rumah sakit selama tiga bulan?”

“Jangan bercanda kamu sama Dage, ya?” Kak Bayu menatap tajam ke arahku. “Kamu pasti habis bunuh orang lagi, kan? Meski kamu sudah cuci, masih kecium bau darahnya.”

“Hhh, dokter memang hebat,” aku menghela napas. “Iya, tapi aku tak punya pilihan. Kalau aku tak membunuh mereka, aku dan kalian sudah pasti akan mati. Lagipula, aku sudah menetapkan hukuman yang pantas untuk mereka. Mereka tak pantas beristirahat dengan tenang.”

“Jangan-jangan kamu?” Kak Bayu nampak kaget. “Mengubah mereka jadi hantu pelayan?”

“Memangnya apalagi yang bisa dilakukan oleh necromancer sepertiku selain itu?” aku menatapnya aneh. “Aku memutuskan untuk berburu entitas yang lebih kuat lagi agar aku bisa melindungi kalian semua saat menjadi kepala keluarga Zhang nanti. Makanya, Dage dan Erge harus cepat sembuh dan mendukungku, ya? Aku tak ingin kalian berlama-lama di rumah sakit.”

“Jangan bilang, habis ini kamu mau ke luar kota kayak waktu itu?” tanya Kak Bayu lagi. Aku mengangguk. “Ke mana sekarang? Masih pulau Jawa atau nyebrang?”

“Desa terpencil di Jawa Timur, yang julukannya desa penari itu, loh,” jawabku tenang. Kak Bayu langsung mendelik ke arahku dan nampak tidak senang. “Santai, Dage. Aku ke sana nggak dalam waktu dekat, kok.”

“Jangan bilang, kamu mengincar Badarawuhi buat jadi hantu pelayanmu?” Kak Bayu menatapku penuh selidik. Aku hanya nyengir bajing. “Kamu harus latihan keras paling tidak 5 kali lebih banyak dari biasanya supaya kamu bisa lebih kuat, terlebih lagi dia itu ratu penguasa Tapak Tilas, loh. Jin yang punya kekuatan lebih besar daripada yang kamu kira.”

Benar juga. Dengan kekuatanku yang sekarang, kayaknya mustahil banget bisa ngalahin Badarawuhi, ya? Aku harus membuat senjata berelemen holy atau shadow agar bisa melawannya. Artinya aku harus membongkar inventarisku nanti.