Beberapa hari kemudian, aku menatap tidak percaya dua sosok yang ada di hadapanku saat ini. Seorang pria berwajah cantik dan seorang anak muda yang nampak seperti pangeran zaman China kuno dulu. Entah bagaimana caranya, mereka bisa masuk ke dalam tabir pelindung. Tapi, aura mereka mengindikasikan kalau mereka bukan orang biasa. Jangan-jangan....
“Anda berdua Dewa Beladiri, ya?” tanyaku ragu-ragu.
“Oh, kau punya mata yang bagus untuk ukuran seorang dukun,” pria yang berwajah cantik itu menjawab setelah sebelumnya memutar mata saat mendengar pertanyaanku. “Aku dewa beladiri yang menjaga wilayah barat daya, Mu Qing. Yang ini menjaga wiayah timur, Lang Qian Qiu.” Ia memperkenalkan pria di sebelahnya.
“Sebentar, jadi Anda berdua ini ... Xuan Zhen Jiangjun dan Tai Hua Jiangjun?” tanyaku tanpa bisa menyembunyikan keterkejutanku. “Apa yang kulakukan sampai Anda berdua menemuiku?”
“Kau melakukan pembunuhan di wilayahku dan melakukan aktivitas supernatural di wilayah Tai Hua,” jawab Mu Qing dengan segera. “Jelasnya, pembunuhan yang kau lakukan di Menara Saidah telah menjadi perhatian Surga dan Pejabat Surgawi memutuskan untuk mengawasimu sejak saat itu.”
“Tapi, Jenderal Xuan Zhen. Aku membunuh mereka karena mereka orang jahat. Kenapa pihak Surga sampai harus mengawasiku karena itu?” aku makin bingung karena merasa aku tidak melakukan sesuatu yang salah.
“Panggil saja aku Mu Qing, Xiao Luzi,” kata Mu Qing sebelum menjawab pertanyaanku. “Kalau hanya membunuh, mungkin tidak masalah. Namun, kau mengubah mereka menjadi tentara hantu. Kau tentu tahu tentang empat peringkat hantu, kan?” aku menganggukkan kepalaku pelan. “Lalu kenapa kau menambah resiko membuat ancaman baru bagi Surga?”
“Aku tidak bermaksud demikian, Qing-gege,” jawabku lirih. “Lagipula, hantu-hantuku tidak akan mengamuk seperti halnya Xuan Ji atau Qi Rong, aku berani jamin itu.”
“Ini masalah moral,” Lang Qian Qiu menyahut. “Orang yang sudah mati seharusnya pergi ke tempat yang sesuai dengan perbuatan mereka semasa hidup. Namun, kamu malah memberikan hukuman dunia yang membuat mereka berada di dunia antara. Kamu pasti mengerti maksudku.” Lang Qian Qiu menatapku tajam.
“Apakah menjadikan mereka bagian dari tentara hantu itu adalah sesuatu yang menyalahi moralitas?” Aku menatap balik Lang Qian Qiu. “Qian-gege, mereka saat hidup hanya menjadi sampah masyarakat, jadi apa salahnya jika mereka lebih berguna saat mati?” Mendengar itu, sang dewa beladiri penjaga wilayah timur itu terdiam. “Emm, aku minta maaf soal aktivitas supernatural yang kulakukan di Jawa Timur. Aku butuh banyak mana untuk membuat barang-barang gaib dan senjata untuk melawan makhluk-makhluk kegelapan dan soal mengubah Kencana serta Badarawuhi menjadi bagian dari tentara hantuku. Kalau Anda sekalian sebegitu cemasnya aku akan melakukan sesuatu yang mengganggu keseimbangan tiga alam, Anda sekalian bisa mengawasiku atau bahkan menangkapku. Hanya saja, aku harus memastikan kalau keluargaku serta orang-orang yang bekerja pada keluargaku akan baik-baik saja sepeninggalku nanti.”
Kedua dewa beladiri di hadapanku nampak terdiam dan cukup lama, hingga akhirnya Mu Qing angkat bicara. “Baiklah, nanti kami akan bicarakan dengan para Pejabat Surgawi yang lain tentang apa yang akan kami lakukan terhadapmu, Xiao Luzi. Selama perundingan, kami harap kamu nggak melakukan sesuatu yang aneh.”
“Melakukan sesuatu yang aneh seperti apa misalnya?” tanyaku penasaran. Merasa harus tahu secara spesifik apa yang ia maksud.
“Mengikuti ekspedisi alam gaib ataupun mengubah sesuatu menjadi bagian dari tentara hantumu,” jawab Mu Qing dengan segera.
“Baiklah, kalau begitu aku akan latihan saja,” aku menghela napas. “Aku lemah dalam pertarungan fisik, jadi paling tidak dengan berlatih aku bisa menjadi lebih kuat.” Aku sedikit terkejut saat Mu Qing tiba-tiba mendekatkan wajahnya padaku dan memperhatikanku dengan seksama. “Ada apa, Qing-gege?” tanyaku gugup.
“Mirip,” katanya dengan alis bertaut, membuatku terlongong seketika. “wajahmu sangat mirip dengan Xue Yu Tan Hua.”
Begini lagi. Aku bahkan belum pernah bertemu langsung dengan Hua Cheng, namun aku selalu dibilang memiliki wajah yang sama dengannya. Gimana maksudnya coba? Aku sengaja memotong pendek rambutku dan tidak lagi mengenakan baju-baju berwarna merah agar menghindari hal tersebut, dan sekarang aku dibilang sangat mirip dengan Hua Cheng?
“Mirip dari mananya, Gege? Aku ini manusia, bukan Raja Hantu dan lagi aku ini necromancer,” sanggahku segera.
“Tapi, Qi-mu sama dengannya,” pernyataan Mu Qing membuatku melebarkan mata. Kenapa dia mengatakan hal yang sama dengan Fu Yao? “Apakah mungkin kau juga—“
“Aku bukan taoist dan aku bukan penganut Mahayana,” jawabku sambil memperlihatkan rosario yang kukenakan, menunjukkan bahwa aku penganut Katolik. “Aku bahkan tidak menjalani kultivasi atau semacamnya, jadi mana mungkin aku sama dengan Hua Cheng? Kebetulan saja jika mana-ku sama dengannya.”
“Begitu, ya?” Mu Qing hanya merespons demikian dan dia kembali duduk manis di samping Lang Qian Qiu. “Bagaimana kau tahu tentang dewa beladiri, padahal kau bukan penganut Mahayana ataupun Taoisme?”
“Roh primordialku seorang Taoist, dan dia juga yang memberitahuku tentang kalian,” jawabku sedikit kelu. “Walaupun, kesadarannya sudah tidak lagi ada dalam diriku. Banyak yang terjadi di dunia lamaku sampai-sampai dia menggunakan kekuatannya untuk mengulang waktu.”
“Jangan bilang,” Lang Qian Qiu nampak terkejut. “dia adalah Zhang Yaoguang sang jiwa yang diberkati para dewa?”
“Sepertinya Qian-gege tahu banyak tentangnya, ya? Benar, itu sebabnya aku juga diberi nama yang sama dengannya dan untuk membedakannya, aku biasa memanggil reinkarnasi Yaoguang sebelumku itu dengan sebutan Zhihua,” aku membuang pandanganku ke arah lantai. Tak berani menatap mereka berdua. Dari ingatan Zhihua, aku tahu bahwa Zhang Yaoguang sudah berkali-kali bereinkarnasi—dengan nama kehormatan berbeda-beda tentunya, dan satu hal yang jelas ... mereka selalu menjadi taoist meskipun belum menjadi dewa walau sudah bertahun-tahun berkultivasi.
“Kau sudah melanggar banyak ketentuan langit, dan bahkan roh primordialmu sampai mengorbankan diri agar bisa mengulang waktu. Meskipun dia adalah jiwa yang diberkati sekalipun, hal itu—“
“Aku tahu!” aku segera memotong ucapan Mu Qing. “Aku waktu itu terlalu dibutakan oleh keinginan membahagiakan orang yang kusayangi dan mengakibatkan semuanya terseret ke dalam kesengsaraan. Itu dosa besar yang mungkin tak akan pernah bisa kutebus!”
Sepertinya keluarga ini sudah terbiasa melanggar banyak hal krusial dan menyangkut takdir, ya? Termasuk aku, karena itulah aku harus mengalami banyak hal yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Jiwa yang diberkati para dewa. Meski Zhihua serta Yaoguang sebelum-sebelumnya memiliki keistimewaan seperti itu, saat dia menggunakan kekuatannya untuk menulis ulang apa yang sudah terjadi ... itu akan dianggap melanggar takdir dan konsekuensinya sangat berat. Makanya keberadaannya pun menghilang.
“Aku tak akan bilang apa-apa lagi, Xiao Luzi. Kami akan kembali ke Surga sekarang dan mendiskusikan segalanya dengan mereka. Kau diam saja dan jangan melakukan sesuatu yang aneh, mengerti?” Mu Qing memperingatkanku sebelum pergi bersama Lang Qian Qiu.
Maret 2022, tanggal 23. Ulang tahunku yang ke dua puluh dua sudah lewat tiga hari yang lalu, dan masih belum ada kabar dari para dewa beladiri. Nggak mungkin juga aku mendatangi kuil mereka untuk bertanya, kan? Aku bukan pengikut mereka, dan ya kali aku datang hanya untuk bertanya? Kesannya nggak sopan banget!
Selagi menunggu kabar, aku bertanya pada Lan Fan tentang rahasia latihan beladirinya. Pemuda itu memberiku jawaban yang membuatku cukup tercengang.
“Hah? Lari 10km, push-up 100 kali, sit-up 100 kali, dan squat 100 kali tapi sambil bawa beban?” aku mengulang perkataannya. “Kau serius?” itu latihan macam apaan?!
“Benar, aku biasanya bawa beban 1 ton setiap olahraga dan hasilnya ya aku bisa dapat teknik tubuh besi,” jawab Lan Fan santai.
“Su Ho, 1 ton itu terlalu—“ aku merinding membayangkannya.
“Untuk pemula seperti Tuan Muda, kita akan mulai dari 100kg dulu. Kalau kau sudah terbiasa, kita akan tambah bebannya,” Lan Fan menyengir.
Aku makin lesu dibuatnya. Ini sih, latihan menjadi petarung tak terkalahkan versi Ammut yang diajarkan ke Sung Su Ho. Meskipun bebannya berbeda, tapi tetap saja olahraga sambil bawa beban itu terlalu—
“Baiklah,” aku mengganti pakaianku dengan baju training dan ternganga saat melihat beban seberat 100kg sudah teronggok manis di halaman rumah. Kapan Lan Fan menyediakannya? Sudahlah, aku harus mulai latihan.
Ternyata push-up, sit-up, squat yang masing-masing sebanyak 100 kali sambil bawa beban 100kg itu benar-benar sulit! Aku bisa merasakannya, bahwa otot-ototku robek dan tulang-tulangku terasa hampir patah! Belum termasuk lari 10km! Ya Tuhan Yesus!
Aku terkapar di tanah dengan luka-luka di tangan dan kaki. Ding Lan menyembuhkanku dengan kekuatannya sebelum aku mengalami gejala anemia akibat cedera. Aku menatap lurus ke arah Lan Fan dan bertanya. “Habis ini, kita mau latihan beladiri jenis apa dulu?”
“Beladiri apa saja yang Tuan Muda kuasai?” Lan Fan malah berbalik tanya.
“Baguazhang, Taijiquan, Wushu, Kung Fu, Wing Chun, dan Karate,” jawabku sambil menekuk-nekuk jemariku. “Err, untuk Karate aku baru sabuk hijau, sih.”
“Oke, kita mulai dengan Karate. Habis itu, kita lanjut ke Taek Kwon Do, Krav Maga, Aikido, Jiujitsu, dan beladiri lainnya,” perkataan Lan Fan membuatku terlongong.
“Sebentar, deh? Kamu master semua beladiri itu, kah?” tanyaku hati-hati. Lan Fan menganggukkan kepalanya dan nampak bangga. “Buset!”
Ya, nggak heran juga sih kalau dia juara MMA di Indonesia semasa hidup! Lha wong dia master semua beladiri itu! Dan ternyata Lan Fan sangat keras serta disiplin dalam berlatih. Terbukti dengan didikannya yang luar biasa padaku dalam melatih ilmu beladiri. Alhasil akupun tepar sehabis latihan. Ya, untungnya aku masih cuti kuliah. Coba kalau disambi kuliah, apa nggak rontok badanku?
Mu Qing datang kembali ke rumahku bersama dengan seseorang yang anehnya mirip sekali dengan Petra pada bulan April tanggal 21. Siapa, ya? Aku hanya pernah ketemu sama Fu Yao, Pei Ming, dan Lang Qian Qiu saja.
“Anu, Qing-gege ... dia ini siapa?” tanyaku sambil menunjuk ke arah pria yang memiliki wajah yang mirip dengan Petra itu.
“Feng Xin, dewa beladiri yang mengawasi wilayah tenggara. Kau mungkin mengenalnya dengan nama Nan Yang Jiangjun,” jawab Mu Qing tanpa ragu. “Feng Xin, nggak usah melototin Xiao Luzi begitu. Dia memang aneh, namun nggak mencurigakan.”
Aku tertawa canggung mendengarnya. Nggak mencurigakan tapi aneh? Itu pujian apa ledekan, ya? Feng Xin masih menatapku lurus-lurus dan ia akhirnya bertanya. “Kenapa bocah ini mirip sekali dengan Xue Yu Tan Hua?”
Pertanyaan itu lagi. Aku menghela napas. “Aku memiliki wajah yang sama dengannya bukan kemauanku, Feng-gege! Dari sananya mukaku memang begini!” seriusan deh, aku penasaran! Seperti apa sih sosoknya Hua Cheng itu?! Sampai aku dibilang memiliki wajah yang sama dengannya oleh banyak orang begini, hadeh! “Kalian sampai datang ke sini pasti ingin menyampaikan keputusannya, kan?”
“Ya, kami semua memutuskan untuk mengawasi setiap tindakanmu dan ikut serta dalam ekspedisi alam gaibmu,” jawaban Mu Qing itu membuatku tercengang. “Supaya kamu tidak melakukan sesuatu yang bodoh dan merugikan banyak pihak, makanya nanti minimal ada dua orang yang mengawasimu. Entah itu dewa beladiri atau sesuatu.”
“Sesuatu?” aku memiringkan kepalaku, nampak bingung.
“Kau akan tahu nanti,” Feng Xin ikut menjawab.
“Jangan bilang, hantu atau semacamnya?” aku merasa harus tahu.
“Tebakanmu tidak salah. Jika nantinya Xie Lian yang mengawasimu, sudah tahu kan siapa yang akan mendampinginya? Kalau kau melakukan sesuatu yang mencurigakan, mungkin kau akan mati lagi nanti,” kata Mu Qing dengan gamblang.
Oh, sial. Tentu saja aku tahu. Yang akan bersama Xie Lian sudah pasti Hua Cheng. Apa aku bisa menandinginya? Kayaknya nggak mungkin juga. Yah, syukur-syukur yang mendampingi Xie Lian itu Ban Yue, tapi kayaknya nggak mungkin juga, deh.
Ponselku berdering dan aku memberi isyarat pada Feng Xin dan Mu Qing kalau aku mau mengangkat telepon dulu. “Shalom, ini dari siapa, ya?” tanyaku usai mengucap salam.
“Erlangga, ini Lendra,” suara di seberang menjawab pertanyaanku. Pasti dia dapat nomorku dari Mbah Setyo. “Lusa, kita ada ekspedisi ke Menara Saidah. Kalau kamu bertanya kenapa ke sana, orang-orang yang tinggal di daerah itu yang meminta Mbah Setyo untuk mengurus ekspedisi ini!”
Ya Tuhan, kenapa harus Menara Saidah lagi, sih? Tapi, aku percaya Mbah Setyo nggak akan melakukan apa-apa padaku. “Baiklah, aku akan siap-siap kalau begitu. Apakah sudah ditentukan siapa saja yang akan ikut, Len?”
“Indira, Mariska, Gito, aku, dan Mbah Setyo. Kalau sama kamu jadi 6 orang, harusnya ada dua orang lagi, sih. Tapi, aku belum dengar kabar dari Mbah Setyo,” jawab Lendra terdengar kebingungan.
“Kamu mau ekspedisi ke mana?” pertanyaan Feng Xin mengejutkanku.
“Menara Saidah, Jakarta Selatan,” jawabku sambil menjauhkan ponsel. “Apakah kalian berdua mau ikut? Tapi, apa kalian bisa menyamar jadi manusia?”
“Jangan meremehkan kami,” Mu Qing memberikan tatapan tajam ke arahku. “Kami akan ikut!”
Aku menghela napas. “Len, ada dua orang yang akan ikut. Namanya Mas Mu Qing dan Mas Feng Xin. Nanti tolong beritahukan pada Mbah Setyo, ya? Sampai nanti.” Aku langsung menutup telepon.
“Jam berapa kamu ke sana?” tanya Feng Xin penasaran.
“Aku nggak tahu, kan belum dapat kabar dari Mbah Setyo, Feng-gege!” sergahku jengkel. “Tolong kalau kalian ikut ekspedisi nanti, pakaiannya jangan mencolok begitu. Jangan pakai hanfu juga. Pakai pakaian modern, bisa?”
“Kau pikir kami sebegitu kunonya, ya?” Mu Qing memutar matanya kesal. “Kami akan menginap di rumahmu sebelum hari keberangkatan. Apa kau punya kamar kosong?”
“Kamar kosong di rumah ini banyak, tinggal pilih saja kalian mau tidur di mana,” aku menghela napas. Lalu aku menunjuk dahi dan kedua bahu, berdoa untuk keselamatan kami semua.
“Kamu berdoa dengan cara begitu?” tanya Feng Xin.
“Kan aku sudah bilang kalau aku penganut Katolik,” rasanya aku sudah menjelaskan ini ke mereka beberapa hari lalu. “Kuil Xuan Zhen dan kuil Nan Yang tidak begitu jauh dari lokasi rumahku, tapi sudah kukatakan kalau aku bukan penganut Taoisme ataupun Mahayana. Jadi, paham kan maksudku?”
Mereka berdua menghela napas dan menganggukkan kepalanya. Repot juga kalau begini. Yah, meski aku bisa masuk ke kuil mereka ... tapi tetap saja aku tak bisa ngapa-ngapain di sana. Berdoa? Jelas tidak mungkin! Memberikan persembahan? Itu apalagi. Mau nggak mau aku harus minta tolong pada anggota keluargaku yang lain untuk melakukannya menggantikanku.
“Aku tinggal dulu. Aku harus membongkar inventaris dan membuat barang-barang gaib serta senjata,” pamitku pada kedua dewa beladiri itu sambil berjalan menuju ke arah ruang forging yang terletak di belakang rumahku.
“Boleh kami ikut? Kami ingin tahu caramu membuat barang-barang gaib serta senjata itu,” tanya Feng Xin sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Terserah, tapi jangan mengganggu konsentrasiku. Kalian cukup diam dan memperhatikan saja tanpa bertanya,” sahutku acuh tak acuh.
Setibanya di ruangan forging, aku segera membongkar inventaris dan menyimpan semua bahan-bahan itu di dekatku. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mulai memasukkan satu demi satu bahan-bahan senjata ke dalam tabung dan memasukkannya ke dalam tungku pembakaran. Sambil menunggu bahan-bahan tersebut mencair, aku mulai crafting benda gaib. Begitu aku selesai dengan tiga benda gaib berkualitas tinggi, aku menuju ke tungku dan mengambil tabung berisikan bahan-bahan senjata dengan pencapit. Lalu menuangkannya ke cetakan pedang panjang. Begitu agak mengeras, aku memukul-mukulnya dengan palu setelahnya mencelupkannya ke dalam bak air. Aku melakukan hal yang sama untuk membuat belati, knuckle, busur, ataupun senjata rahasia. Aku baru selesai membuat barang gaib dan senjata pada jam 12 siang keesokkan harinya. Aku meregangkan tubuhku dan menoleh ke arah dua dewa beladiri yang masih memperhatikanku tanpa istirahat sedikitpun.
“Qing-gege, Feng-gege, kusarankan untuk istirahat. Kalian kan begadang semalaman, memangnya nggak capek? Besok kita mulai ekspedisinya, loh?” kataku sambil melangkah ke luar ruangan seusai memasukkan senjata-senjata dan barang-barang gaib ke dalam inventarisku alias Huaniang.
“Yah, kami memang berniat untuk istirahat saat ini,” ujar Mu Qing sambil memperhatikanku. “Sepertinya, kamu tidak memiliki E-ming, ya? Berarti kamu memang bukan salah satu bentuk penyamarannya Xue Yu Tan Hua.”
“E-ming?” tanyaku dengan alis berkerut.
“Scimitar terkutuk milik sang raja hantu,” jelas Feng Xin. “Meskipun Hua Cheng memiliki banyak senjata, namun pedang itulah yang paling terkenal. Semacam signature-nya.”
Pedang terkutuk, ya? Aku mengambil Mysteltainn dari inventaris. “Aku hanya punya ini sebagai senjata terkutuk,” kataku sambil menunjukkan pedang berbentuk aneh itu pada mereka. Meski itu bukan satu-satunya pedang yang memiliki kekuatan terkutuk, namun aku sering mempergunakan pedang itu—selain belati Basilisk’s Fang tentu. “Aku tak punya scimitar yang kalian sebut-sebut sebagai E-ming.”
Aku berjalan gontai menuju ke arah kamarku dan mengabaikan reaksi kedua dewa tersebut. Tubuhku kelelahan akibat efek latihan kemarin dan juga pengurasan mana untuk crafting. Aku butuh istirahat cukup agar bisa ikut ekspedisi besok. Entah kejadian macam apa yang akan menantiku dan tim kami nantinya, namun aku harus siap dengan segala kemungkinan. Aku tepar di atas kasurku dan terlelap begitu saja.
Aku terbangun pagi sekali dan segera mandi serta berganti pakaian setelahnya. Aku mengenakan kaus putih lengan panjang, celana jeans navy, dan jaket hoodie abu-abu. Selesai berpakaian, aku memasukkan lilin, tali, aneka rempah, aneka bubuk garam, wewangian, dan batu permata ke dalam tasku.
Aku menuju ke ruang tamu di mana Feng Xin dan Mu Qing telah menungguku di sana, dan terkesiap melihat penampilan mereka dalam balutan baju modern. Meski Feng Xin terlihat seperti pria dewasa modern pada umumnya karena baju kasual dan rambut pendek, namun Mu Qing terlihat anggun dan elegan dengan rambut panjang serta wajah cantiknya meski pakaian yang dikenakannya sopan dan rapi. Kalau dipikir-pikir, Fu Yao juga tetap berambut panjang meski dalam penyamaran sebagai manusia dan aku jadi agak penasaran bagaimana penampilan Pejabat Surgawi lainnya saat menyamar jadi manusia.
“Kenapa melamun? Bukannya seharusnya kita berangkat sekarang?” suara Feng Xin mengejutkanku dan mengembalikan kesadaranku.
“Oh, maaf. Ayo, segera naik ke mobil. Aku yang akan menyetir,” kataku sambil menunjuk ke arah kendaraan yang terparkir di halaman. “Kalian duduk saja di bangku penumpang yang di bagian tengah mobil. Jangan ada yang duduk di sebelahku. Itu tempatnya Lan Fan.” Aku menunjuk ke arah hantu pemuda di sebelahku dengan jempol.
Mu Qing memperhatikan Lan Fan dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Sepertinya dari Qi yang dia miliki, peringkatnya kebih tinggi dari Wrath. Namun, belum mencapai Supreme.” Pemuda cantik itu menoleh ke arahku. “Dia ini aman, kan?”
“Aku berani jamin kalau dia nggak akan kayak Qi Rong, Qing-gege,” kataku sambil menghela napas dan membuka pintu mobil. “Ayo naik! Kita harus segera berangkat sekarang.”
Lan Fan, Mu Qing, dan Feng Xin segera naik ke mobil. Aku segera duduk di bangku kemudi dan menghidupkan mesin mobil, lalu mengendarainya menuju ke arah Cawang. Tapi, kenapa perasaanku tidak enak, ya?
Sesampainya aku di halaman Menara Saidah, aku melihat yang lainnya sudah berkumpul di sana dan mengelilingi sesuatu. Aku, Lan Fan, Mu Qing, dan Feng Xin segera menghampirinya.
“Mbah Setyo, ada apa? Kenapa kalian belum masuk?” tanyaku dan tercengang saat menyadari bahwa yang tengah mereka perhatikan adalah jenazah seorang gadis muda berambut merah menyala seperti api. “Apa ini? Apakah sebelumnya ada pembunuhan di sini?”
“Sebenarnya, dia adalah cenayang yang diminta oleh penduduk sekitar untuk menyelidiki tempat ini tanpa memasukinya, namun entah bagaimana caranya dia terbunuh dengan jantung terkoyak,” tutur Mbah Setyo seolah memberikan penjelasan padaku. “Namanya Wilona Agatha, dia ahli dalam memperbaiki barang gaib, meramal, retrokognisi, dan beberapa skill support yang mumpuni. Sayangnya dia mengalami nasib nahas begini.”
Aku melihat ada asap hitam yang menguar dari tubuh kaku gadis berambut panjang itu. Artinya mana-nya masih murni dan belum tercemar. Luka yang dialami oleh Wilona itu bukan luka yang wajar, lebih mirip seperti ditembak dengan laser atau semacamnya. Jangan-jangan....
“Apa mungkin dia kena santet, Mbah?” Indira sudah mendahuluiku untuk bertanya.
“Mungkin, tapi Mbah kurang tahu soal santet semacam ini,” Mbah Setyo menghela napas. “Ng?” beliau tertegun saat melihat sosok Mu Qing dan Feng Xin yang tengah memeriksa jenazah Wilona. “Mereka kah yang kamu sebutkan pada Lendra beberapa waktu lalu, Mahardika?”
“Ya, mereka orang kuil Xuan Zhen dan kuil Nan Yang,” jawabku sambil mendekat ke arah dua dewa beladiri itu. “Apa kalian tahu sesuatu, Kak Qing? Kak Feng?”
“Menurutku, ini santet yang disebut cindung,” jawab Mu Qing dengan ekspresi yakin. “Cindung itu santet yang sangat berbahaya karena mematikan. Biasanya menggunakan duri ikan baung, paku, jarum, atau benda-benda yang runcing sebagai media, dengan menyebutkan kata tuju ... media yang digunakan akan langsung melesat menuju ke arah korban dan korbannya akan mati seketika. Sebab sasarannya langsung ke jantung.”
Aduh, sepertinya itu kutukan yang sangat berbahaya. Meski aku kebal kutukan, jika terkena yang semacam cindung ... sudah pasti aku akan mati. Tapi, sayang juga kalau sosok seperti Wilona disia-siakan, kan? “Mundurlah, aku akan melakukan sesuatu pada gadis itu,” aku mengulurkan tanganku ke arah tubuh kaku sang puan yang tergeletak di atas tanah.
“Kamu mau apa?” tanya Feng Xin bingung.
“Arise,” kataku mengacuhkan pertanyaan dewa beladiri dari tenggara itu. Segera saja terdengar suara ledakan dan gumpalan asap hitam keluar dari tubuh kaku perempuan itu. Gumpalan asap itu membentuk sosok seorang wanita cantik berambut berwarna api dengan pakaian serba hitam dan ada aksen keemasan di sekitar bahu dan dadanya. Aku sedikit terpesona dengan kecantikannya, apalagi saat dia membuka matanya dan memperlihatkan sepasang netra berwarna merah dengan pupil berbentuk matahari. “Wow, baru kali ini aku melihat yang begini.”
“Apakah kau yang memanggilku?” tanya Wilona yang baru saja jadi hantu itu sambil menatap dalam ke arahku.
“Ya, apa kau keberatan bila mengabdi padaku?” aku berbalik tanya padanya. Wilona menggeleng dan berlutut di hadapanku. “Kalau begitu, mulai hari ini namamu adalah Yue Liang.”
“Apa-apaan kemampuan itu?” aku mendengar suara terkejut Feng Xin di belakangku. “Dia mengubahnya menjadi hantu?”
“Mahardika itu necromancer, Feng Xin. Kurasa kau tidak mendengarkan laporannya Qian Qiu dengan cermat, ya?” Mu Qing menyindir rekannya itu. “Yah, kuharap dia tidak menjadi bencana macam Bai Wuxiang, He Xuan, Hua Cheng, atau Qi Rong.”
Ya ampun, mereka khawatir amat sih sama kemampuanku satu ini? Yue Liang lantas membuang pandang ke arah Menara Saidah dan memperingatiku. “Hati-hati, Tuan Muda. Di dalam sana selain ada makhluk kegelapan kelas atas, ada para pengikut Barda Bestari juga.”
“Barda Bestari?” aku mengerutkan alis.
“Itu sekte sesat penyembah iblis bernama Ludira,” tutur Mariska seolah memberikan penjelasan padaku. “Kudengar tubuh astral Ludira sudah musnah, tapi para pengikutnya masih ada. Kemungkinan Ludira masih hidup di suatu tempat.”
“Ludira, ya?” itu mengingatkanku akan keturunannya Tian Yan, tapi apa mungkin iblis itu dan keluarganya Tian Yan ada hubungannya? “Mar, apa kamu tahu siapa saja anggota sekte itu?”
“Aku hanya tahu tiga anggota utamanya, Mas Erlangga. Mbah Sukriyo Guntur sang pemimpin sekte, Nyi Garjita yang ahli dalam racun dan ilmu pelet, dan Endaru yang ahli dalam berbagai ilmu kanuragan,” jelas Mariska sambil memasang tampang mengingat. “Yang namanya Mbah Guntur itu sangat ahli dalam santet, dan berbagai ilmu hitam. Kamu harus hati-hati, Mas.”
“Yah, meski aku kebal terhadap racun dan kutukan, kalau kutukannya macam cindung sih, aku juga nggak bisa berkutik,” responsku dibarengi helaan napas.
“Apa kita bisa masuk sekarang?” tanya Gito tak sabar. “Pegel juga nih nunggu di luar.”
“Kita akan masuk sekarang, tapi harus tetap waspada,” peringat Mbah Setyo sambil bersiap dengan senjata di tangan. “Lawan kita kali ini bukan hanya mekhluk halus, melainkan manusia pengikut aliran sesat.”
Aku menoleh ke arah Mu Qing dan Feng Xin. “Apa kalian keberatan jika nantinya berhadapan juga dengan manusia?”
“Kalau situasinya tidak memungkinkan seperti itu ya apa boleh buat! Nggak mungkin juga kita ajak bicara orang-orang yang memiliki ilmu hitam,” jawab Mu Qing ketus.
“Bagus kalau begitu,” kataku sambil masuk ke dalam menara bersama para peserta ekspedisi lainnya. Lan Fan, dan Yue Liang mengikutiku dari belakang.
Saat masuk, aura di dalam menara berubah mencekam. Berbeda sekali dengan ekspedisi yang waktu itu kulakukan bersama kelompoknya Pak Satria. Apa ini? Ini bukan aura dari makhluk gaib. Aku segera memunculkan Basilisk’s Fang dan Knight Killer sekaligus.
“Mas Erlangga, ada apa?” tanya Mariska bingung.
Aku meletakkan telunjuk di bibir dan berkata. “Kamu dan yang lainnya berlindung di belakangku. Biar aku, Mbah Setyo, Kak Qing, Kak Feng, dan Lan Fan yang mengurusnya.”
Meski tak paham maksudnya, Mariska, Indira, Gito, dan Lendra mengikuti perkataanku dan berdiri di belakangku. Samar-samar aku mencium aroma darah, sudah pasti ada orang-orang yang telah membunuh banyak manusia ada di sini. Serangan itu berlangsung sangat cepat dan aku menangkisnya dengan segera sebelum ada korban yang jatuh. Mataku terbiasa dengan gelap, dan aku bisa melihat pergerakan orang-orang yang menyerang kami.
Mu Qing dan Feng Xin menyalakan api dan membuat lingkaran api di sekeliling kami untuk mempermudah melihat siapa yang jadi lawan kami. Mereka adalah orang-orang yang berpakaian serba merah dengan ikat kepala aneh. Apa mereka anggota sekte Barda Bestari?
“Pemuda itu jangan dibunuh,” kata salah seorang di antara mereka yang nampak sangat tua. “Tuan Ludira memerintahkan agar kita membawanya hidup-hidup.”
“Baik, Mbah Guntur,” kata anggota lainnya yang menyebut identitas pria tua yang ternyata adalah Mbah Guntur sang pemimpin sekte itu.
“Kenapa kalian menginginkanku?” tanyaku merasa harus tahu.
“Tuan Ludira menginginkanmu,” jawab Mbah Guntur sambil tersenyum lebar.
Hah, apa katanya? Apa aku nggak salah dengar? Aku kan laki-laki! Kenapa iblis itu menginginkanku? “Kenapa dia begitu tertarik padaku?” aku kembali bertanya.
“Tanyakan pada dirimu sendiri, Tuan Muda Erlangga,” jawab Mbah Guntur sambil menyerang kami dengan ilmunya.
“Lan Fan, serang pria tua itu!” seruku sambil memasang pelindung di sekitar kami. Selagi Mu Qing, Feng Xin, Mbah Setyo, dan Lan Fan bertarung, aku akan melindungi kawan-kawanku dari serangan anggota sekte.
Pertarungan itu berjalan sedikit timpang karena Mu Qing dan Feng Xin lebih kuat daripada orang-orang yang mereka lawan. Mbah Guntur tidak ikut bertarung, dan hanya menonton kami dari tempatnya berdiri. Aku sempat mendengar pria tua itu bergumam sesuatu tentang Dewi Santika, namun sebelum aku sempat bertanya pada pria tua itu ... dia sudah menghilang.
Anggota sekte yang dilawan oleh Lan Fan, Mu Qing, dan Feng Xin roboh dengan bersimbah darah di lantai. Aku menghilangkan pelindung dan berjalan ke arah mereka. Tak ada asap hitam, apakah artinya aku tak bisa menjadikan mereka hantu pelayanku?
"Mana mereka terkontaminasi, Tuan Muda," Ding Lan memberitahuku. "Mereka tak akan bisa Anda ubah menjadi bagian dari pasukan hantu."
"Begitu, ya?" aku menghela napas. Aku jadi kepikiran dengan kata-kata Mbah Guntur, apa maksudnya dengan aku harus bertanya pada diriku sendiri tentang kenapa Ludira menginginkanku?
"Ada yang kau pikirkan, Xiao Luzi?" tanya Mu Qing.
"Aku sedang bingung dengan apa yang dikatakan oleh pria tua tadi. Kenapa Ludira tertarik padaku? Apa di masa lalu, aku pernah bertemu dengannya?" aku menjawab dengan kebingungan.
"Kau butuh sesuatu? Mungkin kami bisa bantu," Feng Xin menawarkan bantuan.
"Kak Feng, kalau tidak merepotkan ... apa bisa aku meminta daftar nama Zhang Yaoguang sebelumku beserta gambar dirinya? Sebenarnya paling mudah kalau ada fotonya, sih. Tapi, zaman dulu belum ada kamera, kan?" aku sedikit canggung saat meminta tolong padanya.
"Yah, paling yang sibuk nantinya istananya Ling Wen. Aku akan sampaikan padanya, kau tunggu saja dan jangan berbuat yang aneh-aneh," peringat Mu Qing.
"Ya, aku tahu, kok!" aku bersungut mendengarnya.
"Erlangga!" Gito memanggilku. "Kamu mau ikut membersihkan tempat ini, nggak?" tanyanya.
"Membersihkan apanya lagi, To? Tempat ini sudah terbebas dari makhluk astral," Mbah Setyo menjawab pertanyaan Gito.
"Hah? Seriusan?!" Gito malah nampak kaget.
"Betul itu, To. Makhluk-makhluk kegelapan penghuni gedung ini pergi bersamaan dengan menghilangnya Mbah Guntur," kataku menimpali. "Ayo, kita pulang. Aku ada pekerjaan lain setelah ini."
Aku nggak bohong, sih. Karena sesampainya di rumah, aku segera memusatkan pikiranku dan menyelami masa lalu Zhang Yaoguang terdahulu. Hingga sampai pada masa di mana seorang wanita yang sangat cantik bertemu dengan iblis penguasa sebuah hutan di Jawa Tengah, iblis itu pasti Ludira. Wanita cantik itu terlihat seperti dari etnis Tionghoa, tapi siapa namanya? Dia pasti salah satu dari reinkarnasi Zhang Yaoguang.
Ludira mencintai perempuan China itu, namun perempuan itu menikah dengan pria lain dan meninggalkan tanah Jawa. Berabad-abad setelahnya, Ludira selalu mencari wanita itu. Namun tak pernah bisa karena perempuan itu sudah tidak ada lagi. Yang kulihat dalam ingatan, perempuan itu bereinkarnasi menjadi lelaki setelahnya dan berturut-turut menjadi lelaki. Tak pernah lagi terlahir menjadi perempuan seperti sebelumnya. Aku jadi bertanya-tanya, jadi sebelum Zhihua dan sebelumnya lagi ... Zhang Yaoguang pernah bereinkarnasi menjadi perempuan? Kalau begitu....
"Hedeh! Rumit amat sih hidupnya Zhang Yaoguang ini?" keluhku usai menelusuri ingatanku dan tentu saja ingatan para Zhang Yaoguang.
Aku tak pernah tahu bahwa ada kisah semacam itu, dan mungkin saja setelah ini akan ada lagi kisah yang lebih membuatku tercengang.