JustPaste.it

Gelap ... dingin ... apakah ini kematian?

Suara tangis terdengar menyayat hati. Memanggil nama yang tersemat pada seseorang yang telah pergi.

Aku. Aku telah meninggalkan dunia ini untuk selamanya di usiaku yang ke dua puluh empat tahun.

Erlangga Adiputra Mahardika Van Leeuwen, telah meninggal dunia karena penyakit sirosis.

Itu yang diberitakan oleh orang-orang. Meski yang sebenarnya adalah ... aku mati karena konsekuensi  akibat mengubah alur takdir dengan bantuan makhluk gaib. Aku melakukannya demi kebahagiaan orang yang kusayangi dan aku tak menyesal telah melakukannya.

Lalu setelahnya ... berbagai suara terdengar.

Kenapa kau mengorbankan dirimu pada seseorang yang bahkan tidak menghargai pengorbananmu?

Kenapa kau mengorbankan hal-hal yang berharga bagimu hanya untuk satu orang yang akhirnya memilih meninggalkanmu?

Kenapa kau malah menghancurkan sesuatu yang seharusnya kau lindungi?

Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Seolah semua pertanyaan itu menyalahkan diriku yang telah membuat sebuah pilihan bodoh dan konyol. Secara tiba-tiba, sebuah penglihatan layaknya sebuah tayangan video muncul di hadapanku. Menampilkan semua yang terjadi pasca kematianku.

Raditya mengakhiri hidupnya. Keluarga Zhang musnah karena pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang yang memang membenci keluarga tersebut sejak lama karena ulah Zhang Linghe. Orang-orang yang bekerja di keluarga tersebut hidupnya terancam. Bahkan sisa-sisa keturunannya tak dapat hidup dengan tenang karena teror.

Aku terhenyak. Apakah ini semua terjadi karena kesalahanku? Keluarga Zhang yang kehilangan kepala keluarganya ... diincar oleh orang-orang jahat yang mendendam pada Kakek Linghe dan selama ini mereka tak berkutik selama masih ada Kakek Linghe dan aku. Begitu aku tidak ada....

Semuanya hancur.

Aku membulatkan mataku. Kenapa begini? Apakah Zhihua tidak dapat melindungi keluargaku jika aku tiada? Ataukah karena aku mengandalkan Zhihua karena dia lebih cakap dalam memimpin ketimbang diriku? Oh! Aku tiba-tiba tersadar akan sesuatu. Roh tak akan bisa berbuat apapun tanpa tubuh, dan selama ini Zhihua dapat beraktivitas karena diriku masih ada. Jika aku tiada, maka...?

Itu benar! Jika aku tiada, maka mustahil bagi Zhihua untuk melakukan apapun yang seharusnya dilakukan oleh orang hidup! Tak peduli sesakti apapun dia, jika penopangnya tak ada ... maka dia pun tak berdaya. Aku benar-benar melupakan itu. Tapi, penyesalan sudah pasti datang terlambat. Setelah aku mati dan semuanya musnah, apalagi yang bisa kulakukan?

Seandainya saja, aku diberi kesempatan untuk memperbaiki segalanya ... aku ingin melindungi semua yang kusayangi. Tak peduli apapun yang terjadi. Meski aku harus merangkak dari bawah sekalipun, meski aku harus menemui berbagai kesulitan dan merasakan berbagai kepahitan ... aku akan melewatinya! Dan akan kulindungi semuanya! Dan yang pasti, aku tak boleh salah pilih lagi nantinya!

Kau yakin, Mahardika?

Suara Zhihua bergema di kepalaku.

Kau yakin bahwa kau kali ini benar-benar tidak akan melakukan hal yang bodoh dengan mengambil keputusan gegabah?

Lagi, suara Zhihua bergema di kepalaku.

“Aku,” aku menelan ludah sebelum melanjutkan ucapanku. “tak akan membuat keputusan gegabah lagi hanya untuk membahagiakan satu orang. Aku harus memikirkan berapa banyak orang yang menderita setelah aku memilih keputusan tersebut. Kalau perlu, aku tidak keberatan jika aku sendiri yang menanggung semua penderitaan itu. Jangan orang lain.”

Kalau itu masih memungkinkan dan memang masih bisa ... aku benar-benar akan melakukannya!

Jangan lupakan, kata-katamu itu Mahardika....

Itulah suara terakhir Zhihua yang kudengar dan setelahnya sebuah cahaya terang menyelimutiku. Aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya.

Suara alarm ponsel yang sangat berisik membuatku terganggu dan aku mencari-cari benda itu.

“Aduh, aku masih ngantuk...” ucapku sambil mengusap mata. “Eh?”

Sebentar, mengantuk? Apa itu masih mungkin? Aku sudah mati, kan? Tapi, nyatanya aku masih bisa bernapas dan merasakan kulitku sendiri. Apa ini mimpi? Aku mencubit keras pipiku dan terasa sakit. Berarti ini bukan mimpi. Aku menebar pandangan ke sekelilingku dan terkesiap saat melihat kalender. Tanggal 25 Juli 2017. Artinya saat aku masih berusia 17 tahun?

Kalau aku kembali ke masa ini, apakah nantinya aku akan bertemu dengan Niao Lian, Petra, dan Xuan Bian yang pernah memerkosaku?

“Tuan Muda, tenanglah,” suara lembut nan menenangkan menyapa indera pendengaranku. “Niao Lian, dia kembali ke kehampaan.” Huaniang—salah satu hantu pelayanku, memberikan penjelasan.

“Tapi, aku kembali ke masa lalu, kan? Bagaimana mung—“ aku terkesiap saat menyadari ada yang salah. “HUANIANG? YELAN? Kok ... kalian bisa ada di sini?”

Kalau aku kembali ke masa lalu... seharusnya mereka juga tidak ada, kan? Lalu bagaimana bisa?

“Para hantu tak akan berpengaruh pada aliran waktu, Tuan Muda. Tapi, karena pergeseran waktu itu membuat kekuatan Anda melemah, kami pun kena dampaknya,” Yelan memberikan penjelasan padaku. “Maksud kami, saat ini kami tak bisa melindungi Anda karena kekuatan kami melemah. Jadi...”

Aku menghela napas. “Aku mengerti, jadi intinya kalian saat ini tidak menggunakan kontrak sebagai sumber kekuatan kalian melainkan dari kekuatan magis alias mana-ku, begitu?” mereka berdua menganggukkan kepalanya bersamaan.

Yah, nggak heran. Di usia 17, aku memang nggak memiliki kekuatan sihir sebesar saat aku berusia 20-an ke atas. Saat ini, aku hanya memiliki kekuatan fisik yang melebihi orang pada umumnya. Maksudku, orang biasa. Bukan seperti Kakek Linghe atau siapapun di keluarga ini yang tubuhnya kayak dewa beladiri dalam kisah wuxia.

Ingatanku akan dunia lamaku terbawa sampai sini, artinya tidak ada segel ingatan apapun pada diriku. Aku tidak merasakan keberadaan Zhihua ataupun Klein dalam diriku, apa itu berkaitan dengan diriku yang kembali hidup di masa lalu?

Aku bangkit dari kasurku dan segera bersiap-siap. Soal yang mengganggu pikiranku, akan kupikirkan nanti. Hari ini hari Senin dan aku tak boleh ketinggalan upacara bendera di sekolah. Aku menguncir rambut panjangku dan merapikan seragamku. Sekolahku memang tidak memiliki peraturan ketat soal rambut, makanya sedari dulu rambutku selalu panjang. Meski aku nggak pernah membiarkan panjang rambutnya melebihi pinggang.

Aku menyantap sarapanku di meja makan dan bercengkrama dengan keluargaku seperti biasa, lalu mengikuti upacara seperti biasa, dan melalui pelajaran seperti biasa. Seolah tragedi saat aku baru menginjak usia 17 di bulan Maret tahun 2017, terlupakan begitu saja. Meski sebenarnya, kejadian itu sangat membekas padaku dan membuatku sempat menggila selama seminggu. Seminggu ... keluargaku menuai cercaan dari tetangga-tetangga gara-gara itu.

Aku duduk di atap sekolah dan menatap langit biru di atasku keesokkan harinya. Kalau aku memang diberikan kesempatan kedua untuk mengubah keadaan, artinya aku harus lebih kuat dari sekarang, kan? Aku bukanlah Sung Jin Woo dalam kisah Solo Leveling yang dulu pernah kubaca di dunia lamaku, tapi entah kenapa ... aku merasa kisahku sedikit mirip dengannya. Di dunia lamaku, aku merangkak dari posisi sangat lemah hingga aku memiliki cukup kekuatan untuk menjadi kepala keluarga Zhang. Meskipun akhirnya aku hancur karena kecerobohanku akibat memilih yang salah. Apakah aku bisa lebih kuat lagi dari itu?

“Kalau diranking, mungkin aku yang dulu di peringkat B. Sekarang, mungkin peringkat D lebih sedikit,” gumamku. “Hhh, artinya aku harus latihan ekstra keras supaya aku bisa mengolah mana dan menggunakan sihir.”

Jiuyang Shengong alias jurus 9 matahari adalah kemampuan untuk mengolah energi batin untuk menyembuhkan luka dalam, dan bisa juga digunakan menyembuhkan luka luar ataupun cedera dengan cara bermeditasi. Namun masalahnya, saat ini untuk melakukan Jiuyang Shengong ... aku butuh waktu 5 jam untuk memulihkan kondisiku dan itu benar-benar kemunduran yang luar biasa fantastis!

Kukatakan kemunduran karena ... kemarin saat pulang sekolah, aku mencoba jurus Heaven and Earth Great Shift dan hasilnya aku menderita luka dalam cukup parah. Aku menggunakan Jiuyang Shengong yang kupelajari di dunia lamaku dulu, dan ternyata aku pulih dalam waktu 5 jam! Padahal sebelumnya aku bisa pulih dalam waktu 1 jam! Gila nggak, tuh?!

Aku mengacak rambutku frustrasi. Hantuku kena imbas dari kekuatanku yang melemah, dan kalau sebelumnya Huaniang berada di rank C ... sekarang dia di rank E. Lalu Yelan yang di rank B turun jadi D. Benar-benar kemerosotan yang di luar nalar!

“Bencananya terjadi waktu aku berumur 22, saat itu Shuang Lin membunuh Kakek Linghe. Tapi, sebelum itu ada kasus di mana aku menculik Shuang Lin dan mengubah takdir menggunakan kekuatannya Niao Lian, kan? Artinya aku harus lebih kuat lagi sebelum semua peristiwa itu terjadi,” aku kembali menggumam.

Tapi, siapa yang akan percaya kalau aku sebelumnya sudah mati dan sekarang aku harus menjalani hidup keduaku untuk melindungi apa yang berharga bagiku? Orang-orang rumahku pasti akan menganggap itu bagian dari halusinasiku karena aku mengidap skizofrenia. Padahal, aku butuh kekuatan dan harus menghimpun segalanya dengan cepat!

“Sayangnya ini bukan dunia Solo Leveling dan aku juga bukan Sung Jin Woo yang bisa naik level. Di sini mana ada dungeon dan monster yang bisa dilawan? Terlebih lagi di sini juga nggak ada sistem yang dibuat Kandiaru yang bisa membuat seseorang berkembang menjadi kuat dalam waktu singkat!” aku kembali bergumam sambil menghela napas.

Kalau masuk ke dunia lain dan berlatih keras tanpa mempengaruhi waktu dunia ini, mungkin itu akan efektif. Pertanyaannya, apakah dunia semacam itu ada?

“Eh? Sebentar, Kakek William masih ada di Indonesia, kan?” aku baru ingat kalau ayahnya Moeder itu tinggal di Indonesia bersama istrinya karena harus mengawasi dan merawatku pasca insiden beberapa bulan lalu. “Kalau tidak salah, Kakek William itu memiliki sihir yang berhubungan dengan ruang dan waktu, kan?”

Kesempatan bagus! Aku akan coba tanyakan pada beliau soal itu dan menyampaikan keinginanku untuk menjadi lebih kuat sebelum malapetaka terjadi. Aku harus kesampingkan hal-hal lain dulu!

Sepulang sekolah, aku segera berganti pakaian dan menghabiskan makan siangku secepat yang aku bisa. Setelahnya, aku menemui Kakek William yang menginap di paviliun rumahku. Aku segera menceritakan maksud kedatanganku menemui beliau.

“Tumben kamu langsung menemui Kakek dan menanyakan soal gerbang menuju dunia lain untuk berlatih. Ada apa, Mahardika?” tanya Kakek William dengan keheranan.

“Situasinya berubah, Kek. Aku ingin berlatih supaya aku bisa lebih kuat dan akhirnya bisa melampaui Linghe-yeye,” jawabku tanpa ragu. “Makanya aku harus jadi kuat secepat mungkin! Aku tidak peduli latihannya sekeras apa, yang penting aku bisa melatih diriku supaya menjadi kuat!”

“Apa kau bermaksud membunuh Tuan Linghe dan merebut posisinya sebagai kepala keluarga Zhang?” Kakek William menatapku tajam. “Kakek tidak bisa melakukannya, kau sudah berlumuran darah sewaktu kau masih kecil. Jangan menambah dosa lagi dengan membunuh anggota keluargamu sendiri, Mahardika.”

“Aku,” aku sedikit menundukkan kepalaku. “harus menjadi lebih kuat agar bisa melindungi apa yang kumiliki, Kek.” Jawabku lirih. “Di masa depan, akibat kecerobohanku ... keluarga Zhang hancur, orang-orang yang bekerja pada keluarga Zhang pun hidupnya terancam. Kak Bayu dan istrinya, Kak Rahmadi, Sylva, Baba, Moeder, Kakek William, dan Nenek Lingga tidak bisa hidup tenang karena mendapat teror dari berbagai pihak. Aku harus menjadi lebih kuat lagi untuk mencegah semua itu terjadi. Makanya, aku memohon padamu ... latih aku supaya menjadi lebih kuat! Linghe-yeye mungkin akan meninggal kapan saja tanpa ada yang tahu, dan sebelum itu terjadi ... aku harus mempersiapkan diri agar bisa menjadi penggantinya sebagai kepala keluarga Zhang!”

Aku tak akan ragu lagi. Kalaupun latihannya sulit dan mengancam nyawaku sekalipun, akan kutempuh! Aku punya semangat yang gigih. Indomitable will istilahnya. Aku tak akan berpikiran untuk kabur atau semacamnya.

Kakek William menghela napas dan membetulkan letak kacamatanya. “Aku memahami determinasimu, Mahardika. Sepertinya kau mendapatkan nubuat tentang masa depan? Aku akan membantumu untuk menjadi lebih kuat, tapi...” Kakek William menatapku dalam-dalam. “...bisakah kau berjanji padaku untuk tidak mengotori tanganmu dengan darah?”

“Aku tak bisa berjanji, Kek,” aku kembali menunduk. “Kalau aku tidak membunuh orang-orang jahat, bagaimana aku bisa melindungi keluarga ini dan kalian? Kalau untuk orang-orang tak bersalah, aku akan berjanji untuk tidak membunuhnya. Jika Kakek memintaku untuk tidak membunuh Linghe-yeye pun, aku akan penuhi. Tapi untuk yang lainnya, aku tak bisa.”

Kakek William memejamkan matanya sejenak, lalu menatapku lurus-lurus. “Baiklah, Kakek akan membantumu sekuat yang Kakek mampu. Kakek akan bekali kamu sesuatu sebelum kamu memasuki dunia lain.”

“Semacam dungeon instan?” tanyaku spontan.

Kakek William menatapku aneh. “Kamu pikir ini game apa? Dunia lain itu beda dengan dunia game, tahu!”

“Ah, maaf, Kek!” aku tertawa canggung menanggapi ucapan Kakek William. Aku mikir apa, sih? Ini kan bukan dunia Solo Leveling. Aku juga nggak bakalan naik level dan meningkatkan statsku saat masuk ke sana. Aku kayaknya kebanyakan baca webtoon. “Jadi, dunia lain itu seperti apa?”

Kakek William nampak sibuk memasukkan sesuatu ke dalam tas ransel. Aku melihat kalau yang beliau masukkan itu berbotol-botol ramuan aneh berwarna merah dan biru. Lalu memasukkan senjata, kayaknya sih belati. Tapi, kok bentuknya agak aneh, ya?

“Dunia lain itu berisikan makhluk-makhluk yang kau pikir hanya ada dalam cerita, dan hitungan waktu di sana berbeda dengan di sini. Satu hari di sana sama dengan satu jam di sini. Dengan kata lain, sebulan di sana artinya satu hari 6 jam di dunia nyata,” Kakek William memberiku tas ransel itu dan memberiku nasihat. “Kau harus bertahan hidup di dalam sana, mengerti? Kakek berikan potion untuk membantumu, dan senjata di dalam tas itu disebut Basilisk’s Fang. Belati yang terbuat dari taring ular Basilisk. Belati itu beracun dan memiliki kemampuan melumpuhkan serta membuat musuh mengalami pendarahan apabila terluka dengan belati tersebut. Hati-hati, jangan sampai kau tergores belati tersebut.”

Kedengarannya kok mirip Kasaka’s Fang yang ada di cerita Solo Leveling, ya? Iseng-iseng, kukeluarkan belati tersebut dari tas dan mengamatinya. Tanpa sengaja, aku tergores dan seperti yang diperingatkan oleh Kakek William ... racunnya menyebar dengan cepat. Aku mulai merasa kesakitan dan mengerang.

“Kakek kan sudah bilang agar kamu hati-hati!” Kakek William nampak panik. “Basilisk’s Venom itu nggak ada obatnya!”

“Maaf, aku tak bermaksud—eh?” racun yang mulai menyebar dari lukaku, tiba-tiba berhenti dan menghilang bersama dengan rasa sakit yang kurasakan sebelumnya. “Kakek, tiba-tiba saja ... aku sembuh dari racunnya.”

“Mustahil! Mana ada orang bisa menyembuhkan racun dari Basilisk?” Kakek William menatapku tak percaya. “Apa mungkin ... kamu punya kemampuan detoksifikasi secara tak sadar?”

“Eh?” apa maksudnya  semacam detoxification skill, ya? Kalau dipikir lagi, alkohol juga termasuk racun dan ... eh tunggu! Apa itu sebabnya aku nggak pernah bisa mabuk kalau minum alkohol?! Kalau begitu.... “Sepertinya, aku memang punya passive skill detoxification, Kek. Jadi, Kakek tidak perlu khawatir!”

Kakek William menghela napas. “Kalau begitu, akan Kakek buka gerbangnya.” Setelah berkata demikian, beliau membuka pintu ke dunia lain itu dengan semacam mantera. “Masuklah, karena Kakek membuka pintu ini ... Kakek tidak akan bisa bergerak selama pintunya terbuka. Jadilah kuat di dalamnya dan berusahalah bertahan hidup, Mahardika!”

“Huaniang, Yelan,” aku memanggil kedua hantuku dan saat mereka muncul, aku memberikan tasku pada Huaniang. “Huaniang, kamu jadi inventory-ku mulai sekarang dan Yelan, kamu jadi pengawal sementaraku sampai keluar dari dunia lain ini.” Aku memberikan perintah pada mereka sebelum melangkah masuk ke dalam pintu sihir yang dibuka oleh Kakek William dan mengabaikan protes dari mereka berdua. “Ah, maaf Kakek. Nanti akan kujelaskan soal dua hantu ini setelah aku keluar dari dunia ini. Doakan aku pulang dengan selamat!”

Aku masuk ke dunia tersebut dan benar saja! Situasi di dalamnya sangat berbeda dengan yang di luar. Ini benar-benar semacam dungeon!

“Nah,” aku bersiap dengan belati pemberian Kakek William. “Saatnya menjadi lebih kuat!”

Aku menyeka peluh dan mengemasi bangkai-bangkai makhluk yang sudah kukalahkan. Bangkai-bangkai itu berguna untuk dijadikan potion dan bahan senjata nantinya.

“Beruntung aku punya kemampuan membuat senjata, barang gaib, dan potion dengan bahan-bahan aneh. Seharusnya ini mudah,” aku menyodorkan bungkusan besar pada Huaniang untuk dibawa olehnya. “Huaniang, tolong bawa, ya?” aku menyengir.

“Tuan Muda! Aku bukan kuli angkut, loh! Kenapa aku harus jadi inventory, sih?” wanita berkuncir itu mengajukan protes lagi. Protesan yang sama dengan yang dia ajukan sebelum masuk ke dungeon ini.

“Kamu saat ini nggak berguna dalam memberikan support magic, jadi sampai kamu naik level ... kamu harus jadi inventory,” jawabku cuek. “Yah, kalaupun naik level ... sepertinya kamu masih akan kugunakan sebagai inventory.”

“INI BUKAN DUNIA SOLO LEVELING, TUAN! DAN AKU BUKAN SHADOW SOLDIERNYA SUNG JIN WOO, LOHH!” Huaniang menggelegar.

“Ah, kamu tahu webtoon itu, ya?” aku terkekeh geli. “Yah, anggap saja kita sedang leveling sekarang. Nggak usah banyak protes, oke?”

Aku segera melesat dan menghabisi banyak makhluk di dunia ini dengan belatiku. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, namun aku bisa merasakannya. Aku menjadi lebih kuat dan gesit saat melawan banyak musuh di sini.

Setelah aku menyelesaikan beberapa daerah di dunia ini, aku mencoba mengobati luka-luka yang kuderita dengan Jiuyang Shengong dan aku berhasil mengurangi durasinya menjadi 3 jam. Sepertinya itu sebuah kemajuan, kan? Aku menatap kedua hantuku dan berkata.

“Sepertinya Huaniang dan Yelan menjadi sedikit lebih kuat. Apa kalau aku mengalahkan semua yang ada di sini, mereka bisa lebih kuat lagi?”

“Tuan Muda, Anda mau sekuat apalagi, sih? Sudah 24 hari loh kita di sini!” Huaniang melancarkan protes.

“Oh, sudah selama itu, ya?” aku terkekeh. “Kalau begitu, mari kita selesaikan dungeon ini!” aku melesat maju dan mengabaikan teriakan protes Huaniang dan Yelan.

Aku selesai mengemas semua yang kutemukan di dungeon ini dan hasil akhir dari semua pelatihan menyebalkan ini adalah ... aku berhasil menggunakan Heaven and Earth Great Shift tanpa terluka dalam, meski efeknya masih kurang. Aku hanya bisa membuat kerusakan sebesar 30% dengan jurus itu! Ya Salam!

“Tapi, Jiuyang Shengong bisa kukurangi durasinya menjadi 2 jam, itu adalah hasil maksimal yang bisa kucapai saat ini,” gumamku sambil menenggak potion.

Sudah satu bulan aku berada di dungeon ini yang artinya sudah satu hari 6 jam di dunia nyata. Aku harus segera kembali dan memberikan surat sakit ke sekolah nantinya. Di tambah....

“Aku lelah dan ingin istirahat,” keluhku sambil rebahan di tanah. “Selama berada di sini, aku kesulitan tidur!”

“Kenapa Tuan Muda tidak tidur saja di sini?” pertanyaan bodoh Huaniang berkumandang.

“Kamu bodoh, ya? Tuan Muda tak akan bisa beristirahat di tempat berbahaya seperti ini!” Yelan sudah mendahuluiku untuk memarahi Huaniang.

“Daripada kamu bertanya begitu, mendingan kamu periksa ... apakah semua barang yang kukumpulkan sudah lengkap dan tak ada yang tercecer?” tanyaku pada Huaniang.

“Sudah semua~” jawab Huaniang dengan lesu. “Yah, aku semakin kuat sejauh ini. Jadi, beban seberat ini tak lagi kurasakan.”

“Baguslah,” kataku sambil menoleh ke arah Yelan. “Kau bagaimana? Apakah merasakan kehadiran musuh di dekat sini?”

“Tidak ada, Tuan Muda. Semuanya sudah aman,” jawab Yelan.

“Bagus, ayo kita pulang sekarang,” kataku sambil bangkit berdiri dan menuju ke pintu keluar. Setibanya di luar, aku langsung tepar tepat di depan Kakek William dan entah berapa lama aku tertidur.

Saat aku terbangun, aku mencoba mengenali sekitarku dari aroma. Tidak ada bau refisol, artinya aku tidak dibawa ke rumah sakit. Tidak ada bau anyir, artinya aku tidak diseret ke ruang siksa Linghe-yeye. Aroma peach lembut ini, sudah pasti ini kamarku. Perlahan aku membuka mataku dan tebakanku benar.

“Sudah berapa lama aku tidur?” gumamku sambil berusaha bangun dari tempat tidur.

“Tiga hari,” suara Kakek William menjawab rasa penasaranku, membuatku terlonjak karena tidak menyadari kehadiran beliau di kamarku. “Dan sepertinya kamu mengalahkan semua yang ada di dunia lain itu, Mahardika. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kamu benar-benar terobsesi untuk menjadi kuat? Kenapa?”

Tiga hari? Kok seperti aku habis menyelesaikan double dungeon saja? Tapi, Kakek William benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi padaku. “Ceritanya panjang, Kakek mau dengar? Mungkin ini sulit dipercaya.”

Aku akhirnya memutuskan untuk menceritakan apa saja yang terjadi padaku di dunia lama. Tentang pertemuanku dengan Niao Lian, tentang pertemuanku dengan Petra, tentang pertemuanku dengan Shuang Lin, lalu insiden pembunuhan Linghe-yeye oleh Shuang Lin, tentang Xuan Bian, tentang dewa beladiri yang mengawasi 8 penjuru mata angin, tentang Shuang Lin yang memutuskan untuk meninggalkanku, dan tentang kematianku pada Kakek William. Aku tidak melewatkannya satupun dan pria tua itu menatapku tak percaya.

“Jadi, kau mau bilang bahwa jiwa primordialmu mengorbankan diri demi menghidupkanmu kembali dan menulis ulang segalanya?” tanya Kakek William. “Itu kisah yang sulit dinalar akal, namun bukan berarti tidak bisa dipercaya.”

“Apa Kakek mempercayaiku?” tanyaku hati-hati.

“Kemampuan nekromansi milik Tuan Linghe memang berbahaya dan sudah pasti akan menanggung kompensasi besar. Aku harus bilang kalau dia sudah melanggar banyak aturan karena berani menghidupkan orang yang ratusan tahun meninggal,” Kakek William memijat pelipisnya. “Tapi, itu artinya kau pun akan memiliki kemampuan yang sama.”

“Maksud Kakek, menghidupkan orang mati?” aku mengernyitkan alis.

“Bukan, kemungkinan itu adalah menjadikan hantu sebagai pelayanmu. Jika kau mengekstrak jiwa mereka saat mereka mengalami kematian. Mungkin saja, kau bisa melampaui Tuan Linghe nantinya dengan memanfaatkan kekuatan dari para hantu,” kata Kakek William serius.

“Tapi, apa itu tidak melanggar aturan?” aku jadi takut saat memikirkan itu, makanya aku agak trauma dengan kekuatanku sendiri.

“Selama tidak menghidupkan seperti mereka saat hidup, kurasa tidak? Hantu berbeda dengan homunculus, kan?” jawaban Kakek William seolah memberikan angin segar padaku.

“Ya, Kakek benar,” aku tersenyum. Paling tidak, aku tahu bahwa aku kali ini tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

“Kakek sudah mengirimkan surat sakit ke sekolahmu, jadi hari ini kamu bisa istirahat, Mahardika,” kata Kakek William sambil beranjak.

“Ah, Kakek. Aku minta bantuan lain kalau Kakek tidak keberatan,” aku menunjuk rambut panjangku dan memberikan isyarat untuk memotongnya. Kakek William menghela napas dan mengambil peralatan potong rambut.

Lantai kamarku kemudian dipenuhi ceceran rambutku. Aku teringat kembali kalau selama ini aku memanjangkan rambut karena tradisi di rumahku, meskipun aku bukan penganut Kong Hucu, Taoisme, ataupun Buddha yang mengatakan bahwa tidak memotong rambut adalah bukti mensyukuri apa yang diberikan oleh langit. Tapi, aku tidak ingin mengikuti tradisi itu lagi dan terlebih ... aku tak mau mengingat diriku di masa lalu yang sampai mengenakan pakaian wanita karena mengikuti hal yang sama dengan Shuang Lin yakni cosplay. Meskipun sebelum aku mengenalnya,  aku pernah memakai pakaian wanita gara-gara depresi oleh perlakuan Linghe-yeye. Aku ingin mengubah diriku menjadi seseorang yang baru!

“Selesai,” kata Kakek William usai membersihkan sisa rambut yang menempel di tengkukku. “Kakek rasa ini pertama kalinya kamu berambut pendek setelah sekian lama, Mahardika.”

Aku menatap bayanganku di cermin dan tercengang sendiri. Rasanya aku seperti melihat duplikat Sung  Jin Woo di cermin. Bukan berarti aku ingin seperti dia, namun aku ingin menyingkirkan image Xue Yu Tan Hua yang sebelumnya dilekatkan padaku. Aku beranjak dan mengumpulkan baju-bajuku yang berwarna merah dan membungkuskannya.

“Kamu mau apa dengan baju-baju itu?” tanya Kakek William bingung.

“Menyumbangkannya. Paling tidak ini akan berguna bagi yang lain,” jawabku cepat.

“Ini perasaan Kakek saja, kah? Kau terlihat lebih tinggi dan berotot daripada sebelumnya,” pertanyaan Kakek William membuatku langsung menoleh ke cermin di depan lemari pakaian.

Beliau benar. Aku nampak lebih tinggi dan lebih berotot sekarang. Apakah ini karena latihan di dungeon itu? “Ah?” aku menatap lemari pakaianku yang hampir kosong karena semua pakaian—selain seragam sekolah dan baju training, telah aku bungkus. Hanya tersisa satu hanfu berwarna hitam di sana dan ... sebuah topeng. “Kakek, bisa antarkan aku beli pakaian setelah menyumbangkan ini?” kataku seusai mengenakan baju training.

“Kamu lagi kesurupan apa? Semua bajumu sampai disumbangkan begitu, apa  kau mau buang sial atau semacamnya?” Kakek William menatapku heran. Aku hanya tertawa canggung menanggapinya.

Aku langsung mengenakan pakaian baru setelah membelinya. Kaus lengan panjang hitam, celana jeans navy, dan jaket hoodie berwarna biru muda. Aku hampir tak percaya dengan penampilan baruku saat ini. Aku benar-benar tak lagi nampak seperti Hua Cheng sekarang!

“Kau terlihat ganteng dengan pakaian itu,” puji Kakek William saat kami berada di dalam mobil. “Biasanya kau suka dengan pakaian merah, kenapa tiba-tiba tidak lagi? Ke mana-mana kau selalu memakai warna merah padahal.”

“Aku mau ganti imej, Kek,” jawabku. Aku tak mungkin bilang kalau aku ingin melupakan semua kejadian di dunia lama dengan mengganti penampilanku, kan?

“Yah, Kakek tak akan bertanya lebih lanjut jika demikian. Tapi,” Kakek William tiba-tiba menghentikan mobilnya di dekat trotoar. “sepertinya ada masalah di sini.”

“Eh?” aku keluar dari mobil mengikuti Kakek William dan melihat orang-orang berkerumun di dekat trotoar.

“Kejam sekali!”

“Dasar gila! Memacu kendaraan secepat itu di atas trotoar!”

“Ada korban jiwa!”

“Eh? Apa mungkin ini kecelakaan?”

Aku mendengar pembicaraan dari orang-orang yang berkerumun dan melihat polisi telah datang untuk memeriksa TKP. Tapi, apa ini? Aku melihat asap hitam menguar dari jenazah gadis muda yang menjadi korban tabrak lari itu dan juga suara jeritan kesakitan. Apa dia sedang meminta untuk dibebaskan dari rasa sakit?

Aku teringat akan kemampuan Sung Jin Woo dalam webtoon Solo Leveling yang pernah aku baca. Kemampuan itu seperti nekromansi. Kalau aku memiliki kemampuan yang sama....

“Arise.” ucapku pelan sambil mengulurkan tanganku ke arah jenazah itu.

Dari tubuh jenazah itu, asap hitam tadi berkumpul jadi satu dan membentuk sosok hantu. Sosok yang sama dengan sang gadis saat masih hidup, namun anehnya benar-benar seperti saat masih hidup! Seharusnya saat menjadi hantu, mereka terlihat lebih pucat dan ada fitur yang—errr, mengerikan lah kalau disebut! Namun, ini tidak sama sekali!

“Apa yang terjadi?” aku malah kebingungan. Di depanku kini berdiri seorang hantu cantik dan dia sepertinya hendak meminta tolong padaku.

“Hei, kamu!” seorang polisi menegurku sebelum aku sempat mendengar permintaan dari hantu itu. “Apa kamu tahu kalau tempat ini tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang?”

“Ah, maafkan saya,” aku cepat-cepat minta maaf.

“Karena kamu sudah melanggar, aku harus membuat laporan tentangmu! Sebutkan nama, umur, dan pekerjaanmu!” di luar dugaan, polisi ini keukeuh sekali.

Aku menghela napas pelan. “Zhang Yaoguang, 17 tahun, seorang siswa SMA. Apakah ada lagi yang Bapak ingin tahu dari saya?”

“Hah? Kamu dari keluarga Zhang?” teman polisi ini malah kelihatan kaget.

“Eh, iya?” aku bingung. Kenapa, sih?

Mereka lalu terlibat pembicaraan serius yang anehnya meski berbisik-bisik tetapi aku masih bisa dengar. Para polisi itu membicarakan hak istimewa yang dimiliki oleh keluarga Zhang. Aku nggak tahu harus bersyukur dengan itu ataukah harus berbuat sebaliknya. Namun, para polisi itu anehnya memintaku untuk berpartisipasi dalam penyelidikan kasus tabrak lari itu.

Aku dan Kakek William digelandang ke kantor polisi dan mereka bercerita banyak hal tentang kasus tersebut. Dugaan mereka, kasus itu bukanlah kecelakaan biasa. Melainkan sebuah kesengajaan. Ada orang yang sengaja menabrak gadis bernama Alesha Shanum itu.

Omong-omong ... aku menoleh ke arah sisi kananku dan menghela napas pelan. Gadis bernama Alesha itu kini menjadi hantu dan berdiri di sebelahku. Nggak nyangka juga sih kalau ternyata tindakan isengku itu berbuah kejadian begini. Aku mesti ngapain coba dengan hantu ini? Masa aku mesti menjadikannya pelayan seperti Huaniang dan Yelan?

“Tuan, tolong bantu saya. Saya ingat nomor plat motor yang menabrak saya. Jika Anda memberitahukannya pada para polisi di sini, mungkin mereka akan bisa menemukan pelakunya,” Alesha mengutarakan permintaannya padaku.

“Ngomong sih gampang, tapi kalau mereka tanya aku bisa tahu itu dari mana, apa yang harus kujawab?” aku mengerling ke arah Alesha.

Aku divonis menderita anxiety dan skizofrenia di usia muda. Selain penyakit bawaan anemia. Aku nggak mau mengambil resiko dikira sedang kambuh jika aku bilang ke polisi di sini bahwa hantunya Alesha yang memberitahuku soal pelaku kasus ini.

“Tuan Muda Zhang,” suara pak Albert—polisi yang menjadi pimpinan di kantor ini, mengejutkanku. “Saya minta Anda membantu kami dalam kasus ini, tentunya akan ada imbalan pantas untuk itu.”

Yah, nggak buruk juga sih sebenarnya, tapi... “Bantuan apa yang Anda inginkan dari saya?” tanyaku.

“Kami dengar bahwa keluarga Zhang bisa berkomunikasi dengan mereka yang sudah tiada dan kami yakin Anda pun memiliki kemampuan yang sama. Jadi, Anda bisa membantu kami dengan itu?” jawab Pak Albert hati-hati.

Aku tertawa gugup. Hal yang dikatakan oleh Pak Albert memang benar. Hanya saja, tidak semua memiliki kemampuan begitu di keluarga kami. Ayah, dan kedua kakakku tidak memiliki kemampuan itu. Pakde dan sepupuku meski punya kemampuan itu, mereka tidak mau membantu Linghe-yeye dalam bisnisnya. Sehingga kelima orang itu dicoret dari daftar pewaris keluarga Zhang, yang artinya mereka tidak memenuhi  kualifikasi sebagai kepala keluarga.

Meski ibu dan Sylva memiliki kemampuan itu, namun ibu adalah menantu keluarga Zhang. Sementara adikku tidak diperkenankan menjadi kepala keluarga, karena keluarga Zhang bersifat patriarki. Yahh, kalau kuingat lagi ... sebenarnya Linghe-yeye punya banyak cucu laki-laki dari anak-anaknya yang lain, namun cucu laki-laki yang lahir dari anak perempuan tidak memiliki hak untuk menjadi kepala keluarga. Artinya cuma aku yang memenuhi kualifikasi itu dan itu sebabnya juga Linghe-yeye memberiku berbagai penderitaan yang kalau aku boleh katakan di luar akal sehat.

“Saya akan membantu Anda, jadi tolong dengarkan apa saja yang saya akan katakan,” aku menatap serius Pak Albert dan semua polisi yang ada di kantor itu.

Setelah itu, Alesha menceritakan segalanya dan aku menceritakan ulang apa yang dikatakan oleh Alesha pada para polisi. Mereka mencatatnya dan berkata akan mencari nomor plat yang ada di motor yang telah menabrak Alesha.

Tiga hari setelahnya, aku mendapat kabar kalau penabrak Alesha telah ditemukan dan dijatuhi hukuman karena menerima perintah dari seseorang. Orang tersebut adalah ibu tirinya dan akhirnya kasus pun ditutup. Aku telah membatalkan pemanggilan terhadap hantu Alesha dan mengantarnya ke alam barzakh. Paling tidak dengan kejadian itu, aku mengetahui sesuatu. Aku telah menguasai cara untuk membantuku menjadi lebih kuat!

Sekolahku ramai membicarakanku saat aku masuk. Pertama, mereka membicarakan penampilanku yang berubah drastis dalam waktu kurang dari 10 hari. Kedua, mereka membicarakan kontribusiku dalam membantu kasus pembunuhan yang terjadi beberapa waktu lalu.

Itu kasus pertamaku dan sebenarnya aku agak tidak percaya diri saat membantu para polisi itu. Namun, sudah kejadian juga dan ternyata berakhir sukses. Aku menerima imbalan sesuai dengan janji dan itu cukup banyak.

“Yah, tapi bekerja sebagai cenayang yang membantu kepolisian nggak menghasilkan uang cukup untuk menanggung kehidupan,” gumamku saat menyetorkan pemasukanku itu ke rekening tabunganku.

Aku harus terus berlatih dan mengumpulkan pasukan hantu. Dengan demikian, aku bisa melindungi keluargaku serta orang-orang yang bekerja pada keluargaku. Tapi, pertama-tama ... aku harus mencari sesuatu untuk bisa kujadikan hantu pelayan. Entah itu entitas ataupun manusia berkemampuan spesial.

“Tapi, aku nggak mungkin membunuh manusia, kan? Aku sudah janji pada Kakek William hanya akan membunuh orang jahat,” gumamku saat pulang dari bank.

Entitas yang bisa kujadikan hantu pelayan. Artinya semacam monster yang punya wujud fisik. Jin juga masih bisa dijadikan hantu. Yang nggak bisa itu adalah iblis karena mana mereka terkontaminasi kejahatan. Kemampuanku ini punya keterbatasan semacam itu, jadi nggak semuanya bisa kujadikan hantu pelayan. Tapi, berita bagusnya adalah kemampuanku ini tidak terikat dengan lamanya target mati. Jadi artinya ... aku bisa menjadikan seseorang yang telah meninggal ratusan bahkan ribuan tahun—selama mereka masih punya jasad atau minimal ada bekas darahnya, sebagai hantu pelayanku.

Aku tersenyum. Yah, kemampuan yang mirip Shadow Monarch ini nggak buruk-buruk amat! Aku bisa mencari sesuatu yang bisa menjadi bagian dari pasukanku nanti.