JustPaste.it

ATSUZAWA SAGE

 

 


 

π—”π—¦π—˜ memberi peringat: cerita ini dibuat dengan pemikiran sendiri, baik alur cerita, latar belakang, nama karakter, dan lainnya. Jadi, saya sangat memohon untuk tidak menyalin cerita yang dibuat. Β 

 


Name: Atsuzawa Sage

Kanji: 厚澀 δΈ–ζ…ˆΒ 

Birth day: 06/06


 

 

SISA MASA LAMPAU

 

Tanggung jawab dilepas, pergi penuh langkah penyesalan namun tetap teguh pendirian. Beberapa tega, beberapa terpaksa, beberapa menerima sang imbas. Terlalu pilu untuk dilahap, terlalu dini untuk ditampuh. Kadang tak sanggup tetapi harus bangkit.

 

.

"However, not all."

.

 

 

Enam tahun silam menyimpan kenangan. Kenangan yang lara. Senyuman mentari menyapa hingga surya yang tenggelam bersiul, diriku hanya menatap keluar jendela, melihat anak-anak seumurku melantunkan gelora tawanya.

 

Senyumku bernestapa, "kenapa, ya?" Pikiran buruk, pertanyaan-pertanyaan tak kunjung terjawab menghantui diri ini. Satu hal yang pernah aku tanyakan, "okaasan, kenapa mereka meninggalkanku?" kepada ibu. Bukan, bukan ibu kandungku melainkan ibu panti yang sukarela mengasuh aku hingga saat ini. Tentu, 'mereka' yang aku maksud adalah ibu dan ayah kandungku.

 

"Sage-chan, dengarkan okaasan. Yang lalu, biarlah berlalu. Sekarang biarkan okaasan ini yang ada di sisimu, menemani hari-harimu. Jadi, ayolah tersenyum." Ucap ibu panti dengan lemah lembut, aku yang kala itu tak begitu memikirkan pun menampilkan deretan gigi kecilku.

 

Aku lupa untuk memperkenalkan diri, namaku Sage. Hanya itu, tak lebih. Barusan ibu pantiku, sudah bertahun-tahun aku bersamanya. Tak ada hari yang menyiksa, pelukkannya bergitu hangat.

 

Hari-hariku seperti anak normal pada umumnya, yang memiliki seorang ayah dan ibu di dalam sebuah kehidupan. Ibu panti benar-benar sehebat itu, namun tetap saja diriku yang tak merasa puas pernah berpikir β€˜apakah akan ada yang mengadopsiku? Memiliki ibu dan ayah yang lengkap, lebih menyenangkan jika mempunyai saudara juga,’ begitulah pikirku setiap saat.

 

Dengar-dengar, ayah meninggalkan ibu yang mengasuh aku sendirian. Karena tak sanggup dari berbagai aspek, ibu menyerah. Beliau menaruhku di panti ini, panti kecil yang berada di kota Akita, Japan.

 

"Ibu, Keiji mana? Ibu, lihat? Ibu, dia belum pulang dari kemarin." Suara aku terdengar begitu panik bagi yang merungukan. Namun, belum sempat sang ibu menjawab, aku sudah pergi mencari kembali Keiji, seekor kucing kesayangan bagaikan tali jiwa.

 

Sedikit darah menetes begitu saja di atas jalan beraspal panas sang surya ini. Kaki yang timpang sebelah mungkin karena kesakitan, terlihat mengiris hati, "Keiji!" Aku berteriak dengan air mata yang sudah jatuh di pipi rona milikku.

 

Panik, aku menoleh kesana-kemari seperti mencari bantuan, namun nihil. Tak ada seorangpun ditengah hari yang begitu terik ini.

 

"Hey, Keiji, bertahan. Ayo sembuh!" Digendonglah sang kucing, tetapi secara tiba-tiba cahaya berwarna biru muncul mengelilingi diriku dan kucing tersebut. Raut wajah tampak jelas kebingungan, sangat. Apa yang terjadi? Begitu pikirku. Lebih dibuat bingung ketika cahaya biru itu menghilang. Keiji, luka-luka bahkan kaki yang telah pincang sembuh begitu saja, seperti tak pernah terjadi apa-apa ditubuhnya.

 

"Nak?" Suara pria asing mengalihkan atensiku dengan cepat. "Barusan.." tak sempat melanjutkan ucapan, aku sudah berlari meninggalkan seorang pria yang tersenyum dalam diam. Aku berlari karena ketakutan, apalagi jika ditanya perihal kejadian tak masuk akal barusan.

 

Tanpa aku sadari, pria tersebut mengikuti hingga berhenti di depan panti asuhan, "permisi, saya Atsuzawa Arata," ucapnya kepada ibu panti.

 

"Lembaran baru milik anak kecil bernama Sage ini, dimulai. Mungkin tanggung jawab yang sempat hilang pun kini kembali."

 

-

 

 

PUNCAK BARU

 

Dua tahun berjalan dengan cepat, sudah lihai rupanya Ia berada di bawah bangunan beratap tersebut.

 

-

 

Aku memberi tunjuk gambaran tak sempurna di atas lembaran yang terbuat dari bubur kayu, "otousan, lihat!" Tak kelu, terasa mudah, serta nyaman saat ucapan tersebut terlontar, 'otousan'.

 

Arata tersenyumβ€” ayah; melihat seekor kucing, lebih tepatnya kucing tersebut adalah Keiji, "bagus sekali gambarnya, Sage-chan," senyuman yang candu.

 

"Bagaimana kalau kamu coba gambar menggunakan tongkat sihir? Apa kamu ingin tahu caranya?" Perkataan ayah membuatku tertantang, aku pun mengangguk dengan semangat.

 

"Kita lihat nanti, ya!" Ucap ayah mengakhiri percakapan. Lalu ia pergi, mungkin ingin melanjutkan menulis artikel miliknya.

 

-

 

 

SEPENGGAL KISAH

Coming soon


PENULIS BERBICARA

 

Salam, perkenalkan saya π—”π—¦π—˜ sebagai penulis yang membuat karakter dari Atsuzawa Sage. Terima kasih telah membaca sedikit dari cerita yang saya buat ini, dan terima kasih juga untuk tidak menyalin ceritanya.

 

Jika ingin berdiskusi membuat plotting ataupun membuat relasi, saya dengan lapang dada menerima ajakan tersebut selagi tak merusak karakter Atsuzawa Sage serta tak mengusik saya sebagai penulis.

 

Saya juga ingin memberitahukan bahwa saya di sini masih proses pembelajaran. Jadi, mohon untuk dimaklumkan. Namun jika ada tindakkan saya ataupun Atsuzawa Sage yang membuat kalian terusik, tolong segera hubungin saya melalui direct message yang tersedia. Terima kasih.