The Pillars of Legacy — Keluarga Darendra Ganendra
Jika Wicaksana adalah batu karang yang membangun fondasi bisnis, dan Amara adalah suara yang menyalakan pengaruh politik, maka Darendra Ganendra adalah jiwa lembut yang menyalakan nurani keluarga. Lahir pada tahun 1938 sebagai anak ketiga dari Raden Arsatma dan Ratna Weningsih, Darendra tumbuh di antara dua dunia kekakuan ayahnya yang berjiwa korporasi dan kelembutan ibunya yang berpegang pada moralitas.
Ia tidak tertarik pada kekuasaan atau keuntungan materi; hatinya condong pada manusia dan pendidikan. Setelah menempuh pendidikan di Belanda dan Amerika, Darendra kembali ke Indonesia dengan pandangan yang jauh lebih luas: bahwa masa depan bangsa tidak akan ditentukan oleh harta, melainkan oleh pengetahuan. Di sanalah ia mulai membangun mimpinya sendiri, sedikit di luar bayang-bayang besar keluarga Ganendra.
Pada awal 1970-an, Darendra mendirikan Ganendra Foundation, lembaga yang berfokus pada pendidikan, kesehatan, dan pengembangan masyarakat. Langkah ini awalnya dianggap “kurang menguntungkan” oleh beberapa anggota keluarga, namun waktu membuktikan sebaliknya. Yayasan itu menjadi pilar moral dari nama besar Ganendra tempat di mana kekayaan keluarga dialihkan menjadi manfaat sosial.
Dalam membangun yayasan tersebut, ia didampingi oleh istrinya, Ratih Maheswari, seorang arsitek modernis lulusan ITB yang percaya bahwa desain bisa menyembuhkan manusia. Ratih merancang hampir seluruh kompleks pendidikan dan rumah sakit keluarga dengan gaya minimalis yang berpadu dengan nilai budaya lokal. Bersama, mereka menjadikan filantropi bukan sekadar kegiatan amal, tapi warisan etika dan estetika.
Tragedi datang pada tahun 1999 ketika Ratih berpulang lebih dulu, meninggalkan lubang besar dalam kehidupan Darendra. Namun kehilangan itu justru menguatkan misinya. Ia memperluas yayasan ke bidang lingkungan, bekerja sama dengan berbagai lembaga internasional, dan mendirikan sekolah bagi anak-anak di wilayah terpencil Indonesia Timur.
Ketiga anak mereka Rendra, Rhea, dan Galang tumbuh mengikuti langkah sang ayah, meski dengan bentuk yang berbeda. Rendra menjadi direktur utama Ganendra Foundation, Rhea mendirikan Rhee Gallery untuk mendukung seniman muda, dan Galang menjadi arsitek urban yang memadukan desain dengan keberlanjutan kota. Masing-masing mencerminkan serpihan jiwa Darendra dan Ratih: pendidikan, seni, dan pembangunan.
Dalam keluarga besar Ganendra yang sibuk dengan bisnis dan politik, rumah Darendra selalu menjadi tempat pulang yang tenang. Tidak ada rapat korporasi atau kampanye politik di sana, hanya diskusi hangat, musik lembut, dan buku-buku tua yang memenuhi rak.
Darendra sering mengundang keponakan-keponakannya untuk belajar langsung tentang makna kepemimpinan yang manusiawi.
Ia pernah berkata,
“Kekuasaan membuat orang terlihat tinggi,
tapi kasih membuatnya tetap berdiri tegak.”
Kalimat itu menjadi pegangan bagi banyak anggota muda keluarga, terutama generasi keempat yang mulai mencari makna di luar harta dan status.
Kini, di usia senjanya, Darendra Ganendra lebih sering terlihat di kampus atau di acara sosial, duduk dengan senyum tenang dan catatan kecil di tangan. Ia sudah tidak berbicara tentang angka, saham, atau aset, melainkan tentang nilai dan warisan batin.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan individualistis, sosoknya menjadi pengingat bahwa nama besar tanpa welas asih hanyalah kebisingan. Melalui yayasan, anak-anak, dan cita-cita yang ia tinggalkan, Darendra tidak hanya membangun struktur sosial ia menanamkan hati pada nama Ganendra. Dan selama nilai itu tetap hidup, maka apa pun bentuk generasi selanjutnya, mereka tak akan pernah kehilangan arah.