Class Assignment Draft Plot
ANCIENT RUNE : ARMANEN RUNES
Ansuz Team
Ketua kelompok :
Uesugi Giichan ( @lygophillic ㅡ 6020 )
Anggota kelompok :
- Aland Shnayder ( @ilogaritm ㅡ 4048 )
- Elenna Huang ( @sherapyna ㅡ 5013 )
- Ikares Elenio ( @lmajiner ㅡ 5020 )
- Keysha Alana ( @attevnd ㅡ 5031 )
- Clodovea Ilona Reeve ( @nevaehina ㅡ 6036 )
Kali ini, ia akan menghadiri kelas kedua, yang sayangnya ternyata diganti dengan belajar bersama. Manik mata si tuan berjenama Giichan tersebut menatap jam besar di depan kastil. Masih ada beberapa menit hingga kelas dimulai. Ada beberapa hal yang ia harus lakukan, yang pertama adalah mendapatkan teman kelompok belajar.
Karena itu, si tuan menghentikan langkah di dekat pintu yang seharusnya menjadi kelas Rune. Ia menunggu, apakah ada kawan yang bisa diajak untuk satu kelompok malam ini.
Dengan nasi kepal yang baru ia buka, si tuan mendudukkan diri di jejeran kursi yang ada di luar kelas.
Aland menyusuri koridor dengan langkah konstan. Koridor malam ini nampak cukup hening. Tak jarang ia menoleh ke sekeliling untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah jalan.
Begitu sampai, terlihat seorang pemuda yang duduk dengan sebuah kotak yang dipegangnya. Aland melirik ke dalam kelas, netra nya menyipit melihat kedalam ruangan. Hanya ada segelintir orang. Sepertinya beberapa orang sudah mendapatkan teman kelompok, bahkan telah meninggalkan ruang kelas.
Fokusnya kembali pada pemuda didepannya. Tak sempat menyapa, Aland lantas mendudukan diri di samping pemuda itu dan mencolek bahunya.
"kita satu kelompok ya" ucapnya, yang kemudian dibalas sebuah senyuman simpul oleh pemuda itu.
Jurnal merahku genggam ditangan ku, aku berjalan menuju ke arah ruang kelas ancient Rune. Sayangnya malam ini mereka hanya akan mengerjakan tugas kelompok karena Professor Asterine berhalangan untuk hadir.
Aku memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di koridor, tidak sedikit juga siswa yang berada di dalam ruang kelas rune.
"Hai..."
Sapaku kepada teman-teman kelompokku yang terlihat sedang berdiskusi di depan kelas. "Jadi kita akan mengerjakan tugas dimana nih... Di perpustakaan atau di kelas saja?"
Aku mencoba bertanya kepada mereka bagaimana baiknya mengerjakan tugas, agar lebih fokus aku lebih memilih perpustakaan.
Mula-mula sang Tuan hendak menggeret dwi cagaknya pada ruang kelas lamun teringat informasi dari Profesor Asterine yang beberapa saat lalu mengagih tugas Armane Rune, dan harus dikerjakan secara berkelompok.
Ikares lantas berbalik arah, menetapkan perpustakaan sebagai loka tuju. Sejemang Wira kelahiran Jerman membatu manakala jisim bersehadap dengan meja-meja yang telah ditempati beberapa penyihir pemula; mereka suah membentuk kelompok "lantas Saya?"
Sejurus kemudian, setunggal teruna menyusuri rak-rak buku yang berderet guna mencari buku Das Geheimnis der Runen atau paling tidak buku apa saja yang sarat bahasan armane rune di dalamnya.
Aroma apak yang menguar dari rak di siku kubikel sesekali menohok penghidu, seperti nyaris tak ada yang menjamah bagian ini.
"Ilona? Belum dapat kelompok juga ya?" Ujar Ikares seraya menepuk bahu renik kenya hufflepuff itu.
"Kalau belum punya, mau sekelompok dengan Saya?" Ujar sang Pemuda jangkung sembari mengatrol buku yang Ia temukan sesaat lalu hingga sejajar durja, agar @nevaehina paham bahwa kelompok yang Ikares maksud ialah untuk kelas Rune Kuno.
Kakinya sudah lebih dulu melangkah menuju perpustakaan ketika mendengar pengumuman tugas pengganti kelas Ancient Rune hari ini. Kelompok? Mungkin Ilona akan menemukan beberapa orang disana yang juga sedang mencari kelompok, pikirnya.
Terhanyut pada buku yang ditemukan, tak terasa ada sebuah tepukan pada bahunya. Seorang tuan yang merupakan teman sekelasnya ternyata.
"Eh? Halo! Iya, kebetulan belum dapat." jawabnya, berbisik.
Tanpa berpikir panjang, Ilona mengiyakan tawaran Ikares untuk bergabung dengannya. "Boleh!" ujarnya.
Buku telah didapatkan, kelompok pun juga. Baik Ikares maupun Ilona setuju untuk keluar dari perpustakaan dan menuju ruang kelas.
"Tugas hari ini hanya tentang Armanen Rune, kan?" tanyanya pada sang tuan. Ilona menatap buku ditangannya dan Ikares bergantian.
Tanpa terasa, keduanya pun tiba di depan ruang kelas 6A, tempat dimana seharusnya kelas Rune dilaksanakan.
Maniknya mengerjap bersamaan dengan tolehan kepala yang dihantarkan ke arah portal kayu kuno milik ruang 6A. Disana berdiri dua insan yang tengah memegang buku tebal materi yang akan dibahas.
“Duduk-duduk,” ucap sang puan sedikit menggeser bangkunya agar posisi kelompok tersebut melingkar sempurna. Kuasa tergerak membuka jurnal bercorak hitam bersiap memulai diskusi.
Keysha membiarkan beberapa tumpukan buku tersebar diberbagai titik. “Sudah lengkap kan?” tanyanya menjeda setelahnya menggungam; menghitung jumlah kepala, “jadi mau mulai darimana dulu?”
Suasana mendadak hening sampai salah satu dari kawannya berucap. ‘Armanen Runes, kan? Coba setiap dari kalian baca dari buku-buku yang dibawa dari perpustakaan tadi’
Senyum terulas saat satu-persatu kawan 'satu kelompok' mulai berdatangan. Seakan diberi perintah tak terucap, kini mereka sudah duduk di meja panjang dengan tumpukan buku-buku yang dibawa dari perpustakaan.
Manik ain menatap satu persatu orang yang ada, lalu menatap buku-buku yang di depan mereka.
"Semua sudah berkumpul?" Tanyanya, mencoba menghitung ada berapa kepala di kelompok ini.
"Hm..." Ia menghitung buku yang ada, lalu menyamakan dengan orang di sana. "Kalau kita coba rangkum masing-masing dari satu buku, bagaimana? Nanti bisa kita satukan di akhir."
Ia menatap temannya satu-persatu, bertanya-tanya apakah mereka setuju dengan ide ini.
Beberapa tumpukan buku tersebar diberbagai sudut. Aland mengeluarkan buku jurnalnya dan mengambil sebuah buku yang terletak di bagian paling atas tumpukan buku didepannya. Ia mendengarkan penuturan sang teman yang dirasa sesuai dengan apa yang ia bayangkan.
"Boleh saja, saya setuju," sahut Aland.
Pemuda itu menatap pandang ke sekitar, memperhatikan respon dari teman-teman yang lain dan dijawab dengan anggukan oleh mereka.
Pemuda itu mulai membuka buku yang ia pilih. Menelusuri lembar daftar isi, kemudian membuka halaman yang berisikan informasi tentang Armanen Runes. Deret kalimat menyapa indra penglihatan sebelum kuasanya memegang ujung kertas tanpa membalikkan halaman. Netranya hanya bergerak cepat tanpa benar-benar memproses makna dari kata-kata yang tersusun. Setelah menemukan halaman yang dicari, Aland mulai mencatat tentang apa itu Armanen Runes sebagai bahasan rangkumannya. Quill dalam genggaman mulai bergerak─menulis catatan pada jurnal.
“Hmm- huruf Armanen Rune terungkap ketika mengalami kebutaan permanen setelah operasi katarak.” gumam Aland, sempat berputar kembali penjelasan sang Profesor saat di kelas tempo lalu.
Pemuda itu kemudian melanjutkan tulisannya.
“18 kebijaksanaan yang ditafsirkan sebagai 'Song of the 18 Runes” ucap Aland, ia terus mencatat penjelasan lebih lanjut tentang sejarah Armanen Rune seperti 16 huruf Armanen yang mengalami sedikit modifikasi dan terdapat tambahan 2 huruf yang diadaptasi.
Usai menyelesaikan tulisannya, pemuda itu membuka lembaran berikutnya. Namun ia merasa penjelasan yang tertulis tidak begitu lengkap. Aland kemudian mengambil buku lainnya, belum sempat buku itu ia buka, netra menatap puan disampingnya.
"catatanmu sudah sampai mana?" @sherapyna
Saat semuanya telah duduk di masing-masing kursi di perpustakaan. Disini terbilang sunyi karena orang-orang Tengah asik dengan kesibukannya sendiri. Aku membuka beberapa buku yang memang sudah aku cari sejak tadi.
Mencatat beberapa kesimpulan yang menurutku cukup penting untuk di masukan kedalam tugas. "Armanen Runes atau Armanen Futhark memiliki hubungan erat dengan sejarah Younger Futhark. Terdiri dari 18 jenis hurufー"
Di tengah keasikan mencatat ku, suara seorang jejaka membuatku mengalihkan perhatian kepadanya yang berada di samping ku. "Hm... Ini masih awal sih, lan. Aku masih harus baca buku yang lainnya..."
Aku mengambil beberapa buku tentang Armanes Runes lain dan mulai membacanya, membolak-balik lembar demi lembar, terkadang aku mengangguk karena mendapatkan pengetahuan baru. "Kayes... Tolong ambilkan buku disampingmu."
Mendengar kaul serupa titah dari Elenna, Ikares segera mengambil objek rektangular nang terbujur di sampingnya "yang ini, Len?" Retoris sekali, Ikares.
Yang baru saja diagih pada Elenna ialah salah satu salinan dari Das Geheimnis der Runen yang Ia bawa dari perpustakaan bersama Ilona tadi "judul buku ini kalau diterjemahkan artinya rahasia rune" Ujar sang jaka tanpa ada yang pinta eksplanasi.
"Awalnya karya Guido Von List ini hanya dipublikasi sebagai artikel berkala pada tahun 1906" Ia menjeda, seraya menelisik ingatannya "lalu, dua tahun kemudian dipublikasi secara mandiri; kalau Saya tidak salah baca saat perjalanan kesini."
Hening sejenak menggelimuni, mungkin karena masing-masing kapita fokus meringkas materi. Sekonyong-konyong Ia pun menyua kaul "sepertinya akan lebih lengkap kalau kita menambahkan penjelasan makna dari abjad-abjad paku ini, bagaimana menurutmu?" Tatapnya teralih pada @nevaehina.
Diskusi pun dimulai, Ilona memperhatikan teman kelompoknya sejenak. Tangannya meraih buku lain yang dibawa dari perpustakaan. "Benar, Ikares. Awalnya memang dipublikasi berupa artikel, lalu dipublikasi mandiri pada tahun 1908." tambahnya, membenarkan.
Anggukan kepalanya pun menjadi jawaban awal dari ide Ikares. Ilona membuka halaman berikut dari buku yang dibacanya. "Boleh! Ada delapan belas huruf Armanen Runes yang juga ada cerita asal usulnya." tuturnya, membolak-balik halaman.
"Dimana, ya?" tanyanya lagi, setengah berbisik dengan nada panik tersirat didalamnya. Ilona menoleh kearah Keysha, "Anu, Keysha-san, apakah menemukan penjelasan itu dihalaman berapa?" tanyanya kepada @attevnd.
Pertanyaan dari sosok disebelahnya membuat kuasa kanan milik sang puan terangkat berniat menggaruk tengkuk yang tidak gatal. “Eh-? Disini Ilona,” ucapnya sembari menunjukkan buku yang telah dibuka lebar.
Keysha mengangguk, “Benar, ada delapan belas huruf. Enam belas dari Younger Futhark yang mengalami modifikasi dan dua lainnya berasal dari Anglo-Saxon.” Ia menanggapi penjelasan. “Kalau dari Anglo-Saxon ini nanti berubah jadi Eh dan Gibor didapat dari Eoh dan Gyfu.”
Maniknya mengerjap menatap satu per satu rekan kelompok yang tengah fokus pada buku materi masing-masing. “Disetiap hurufnya memiliki pengucapan, singkatan dan arti simbol. Menarik,” gumamnya pelan.
“Sebentar..” Atensinya masih tertuju pada definisi tiap-tiap huruf. “Not.. Necessity of fate.” Beberapa menit kemudian, rangkuman yang dikerjakan menjadi padat oleh kalimat demi kalimat.
Kepala mendongak menatap sosok jejaka dengan raut serius. “Sudah selesai, Chan? Ada yang mau ditambahin lagi?” Kuasa terulur memberikan bukunya.
Sama dengan teman lainnya, Giichan juga mengambil salah satu buku untuk ia rangkum. Ia menarik satu buku lalu segera membuka buku catatan miliknya. Ruangan yang tadinya bising karena anak-anak lain, kini hanya ada kesunyian yang menyapa dan suara lembaran kertas yang terdengar.
Tidak ada yang berbicara kecuali diperlukan, itu juga hanya ada satu hingga dua patah kata sebelum akhirnya mereka kembali tenggelam dalam diam. Satu persatu buku kembali berada di tengah-tengahㅡmenandakan bahwa supaya bisa dijadikan satu rangkumannya.
Ia menatap tumpukan buku referensi di sisi lain meja. "Lalu buku-buku ini," Ia menunjuk tumpukan buku tebal tersebut. "Ayo kita kembalikan ke perpustakaan?" Ujar sang tuan, sebelum bangkit dari duduknya.
Bersama dengan rekan lain, mereka akhirnya berjalan untuk keluar kelasㅡdengan buku-buku tebal yang sudah dipinjam dari perpustakaan. Dengan ini, tugas untuk 𝘒𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘙𝘶𝘯𝘦 telah selesai.
by Ansuz Team, 2021