Usai lewati tes wawancara dan unjuk bakat, tuan pengemban nama Yada Wangkawa ini akhirnya diterima menjadi bagian dari PITULAS, salah satu grup idola kebanggaan tanah air. Beberapa hari sebelum berita tersebut dilayangkan, ia harus melaksanakan pemotretan profil untuk kebutuhan website agar eksistensinya sebagai anggota PITULAS dapat disebut resmi.
Si tuan memang piawai dalam berpose, namun hanya sekadar untuk penampilan feeds di media sosial yang pada umumnya tak membutuhkan riasan berlebih. Maka dari itu, gugup jelas datang tak kenal sopan santun, mengingat ini adalah kali pertamanya melakukan pemotretan formal.
Pada sesi pertama, ia tak perlu banyak berpose sebab poin utama dalam pemotretan kali ini ialah wajah close up. Yada lantas mengambil posisi senyaman mungkin usai mendengar namanya dipanggil. Roman dilukis sedreamy mungkin demi menyesuaikan dengan konsep yang diusung.

Pemetik potret terdengar beberapa kali, begitu pula dengan pergantian sudut wajah si tuan yang rupanya telah larut dalam sesi pemotretan pertama ini. "Mas, coba kepalanya agak menengadah sedikit lagi," pinta sang fotografer yang tiba-tiba memecah keheningan.
Sontak Yada melaksanakan saran positif tersebut. Walaupun masih disebut pemula, ia juga harus mampu bersikap profesional. Riasan pada wajahnya kini tampak kian jelas, sedikit potongan-potongan kecil bunga dan manik monte yang seukuran turut menghiasi wajah tampan pemuda ini. "Good!" celetuk fotografer yang bertugas dibarengi suara pemetik potret.

"Langsung lanjut full body, ya!" Lima kata terdengar, membuat ia mengangguk antusias. Sang fotografer lantas sedikit menjauh untuk menangkap potret tubuh si model dari atas hingga bawah, sedangkan Yada memosisikan tubuhnya duduk bersila. Roman masih mengandalkan ekspresi sebelumnya, namun rasanya si tuan masih belum puas.
Dengan berbalut kaus, cardigan, dan celana kain, pemuda ini terus memperlihatkan variasi pose di hadapan kamera beriringan dengan suara pemetik potret. Namun, lagi-lagi, sang fotografer kembali bertindak. "Mungkin bisa senyum sedikit, mas? Posisinya yang santai aja."
"Oke, siap," balas Yada sebelum kembali memosisikan ulang tubuhnya. Kedua lengan ia buat rileks di atas pangkuan, tubuhnya bersandar pada dinding, pun kedua ujung bibir ia naikkan sebagai usaha membentuk bulan sabit. Suara pemetik kamera kembali mengudara, menangkap sosok si tuan untuk yang kesekian kalinya.

"It's a wrap!" seru sang fotografer sebelum meletakkan kameranya. Tepukan tangan beberapa kru tersebar ke seluruh penjuru ruangan. Senyuman pada wajah Yada masih belum pudar. Tak hanya lega, perasaan bangga perlahan tumbuh pada benaknya. Lantas, ia berdiri, sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai penghormatan. "Terima kasih, semuanya!"
Selesai.