PRESIDEN NKRI ADALAH THAGHUT

.

Mengapa Presiden NKRI adalah thaghut? Berikut penjelasan singkatnya, ada 3 (tiga) alasan yang wajib diketahui:

1. Presiden NKRI bersama-sama dengan DPR senantiasa membuat undang-undang. Undang-undang ini dibuat harus berdasarkan Pancasila dan tidak boleh bertentangan dengan UUD 1945. Jadi, mereka membuat hukum sendiri berdasarkan hukum jahiliyah (Pancasila dan UUD 1945), padahal Allah sudah menurunkan Al Quran dan As Sunnah sebagai pedoman hidup umat Islam di segala bidang.

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah kafir kepadanya... (QS. An-Nisa: 60)

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al-Maidah: 50)

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hendak mengutus Mu’az bin Jabal radhiyallahu 'anhu untuk menjadi penguasa di Yaman, terlebih dahulu dia diajak dialog oleh Rasulullah:
Rasul bertanya: “Bagaimana kamu menetapkan hukum bila dihadapkan kepadamu sesuatu yang memerlukan penetapan hukum?”
Mu’az menjawab: “Saya akan menetapkan dengan kitab Allah.”
Lalu Rasul bertanya: “Seandainya kamu tidak mendapatkanya dalam kitab Allah?”
Mu’az menjawab: “Dengan sunnah Rasulullah.”
Rasul bertanya lagi: “Seandainya kamu tidak mendapatkanya dalam kitab Allah juga dalam sunnah Rasulullah?”
Mu’az menjawab: “Saya akan berijtihad dengan pendapat saya sendiri.”
Maka Rasulullah menepuk-nepuk belakang Mu’az seraya mengatakan: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelaraskan urusan seorang Rasul dengan sesuatu yang Rasul kehendaki.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

2. Presiden NKRI wajib memegang teguh hukum thaghut UUD 1945 dan menjalankan segala peraturan perundang-undangan yang berlaku termasuk KUHP yang nyata-nyata bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah.

...Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah kafir kepadanya... (QS. An-Nisa: 60)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpesan dalam sebuah hadits: "Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunnahku.” (HR. Hakim dan Malik)

3. DPR, mitra kerja Presiden NKRI, yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum dalam sistem demokrasi, dalam Al Quran digambarkan sebagai syuraka (sekutu-sekutu) dan arbab (rabb-rabb) selain Allah. Bayangkan para penjahat, koruptor, tukang suap, pelacur, orang kafir, musyrik, dan lain-lain bercampur dalam satu lembaga pembuat undang-undang yang disebut DPR. Pastilah produk hukumnya juga berupa "kejahatan", kalaupun ada produk hukum yang dinilai "syar'i", pastilah ia telah bercampur antara yang haq dengan yang batil.

Apakah mereka mempunyai syuraka (sekutu-sekutu) yang mensyariatkan untuk mereka dien (peraturan/undang-undang) yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim (musyrik) itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (QS. Asy-Syura: 21)

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (rabb-rabb) selain Allah, dan (juga mereka menjadikan rabb kepada) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh beribadah kepada Ilah yang Esa; tidak ada ilah (yang berhak diibadati dengan benar) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

     Teologi:

.

Sebarkan informasi ini sebagai amal ibadah dakwah anda. Wallahu a’lam.



Created: 20/03/2016
Views: 3061
Online: 0